Cara Cerdas Berolahraga di Tengah Kesibukan Harian

Kompas.com - 18/09/2019, 06:38 WIB
Ilustrasi olahraga lari UberImagesIlustrasi olahraga lari
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Banyak orang menganggap latihan Intensif Intensitas Tinggi ( HIIT) adalah olahraga paling efektif bagi orang-orang yang tidak memiliki banyak waktu untuk berolahraga dan ingin cepar menurunkan berat badan.

HIIT memang memiliki banyak manfaat, terutama karena menyebabkan Kelebihan Konsumsi Oksigen Pasca Olahraga (EPOC) atau afterburn. Sehingga pembakaran kalori bisa terjadi hingga 48 jam setelah berolahraga.

Namun, kelas HIIT konstan juga bisa memberikan dampak negatif. Sebab, tubuh memiliki dua sistem energi utama, yaitu aerobik dan anaerobik. Sistem aerobik menggunakan oksigen dan sering dikaitkan dengan aktivitas bebas lelah dan membakar lemak, seperti jalan kaki, jogging atau bersepeda.

Sementara sistem anaerobik tidak membutuhkan terlalu banyak oksigen dan diasosiasikan dengan aktivitas intensitas tinggi dan pembakaran gula, seperti sprint.

Baca juga: 7 Tips Membuat Olahraga di Pagi Hari Terasa Mudah dan Menyenangkan

Jika kita hanya melakukan latihan intensif, maka sistem aerobik tubuh kita kemungkinan besar akan tertinggal. Artinya, kita akan lebih banyak mengandalkan sistem anaerobik.

Kondisi ini bisa menimbulkan stres dan tubuh akan membakar glukosa alih-alih lemak sebagai bahan bakar. Jika sudah sangat stres dan ingin menurunkan berat badan, hal itu menjadi tidak baik.

Poling terhadap 4.619 orang yang dilakukan YouGov menemukan bahwa sebanyak 74 persen responden merasa sangat stres dan merasa kewalahan. HIIT sebagai salah satu stresor, bisa menyebabkan latihan berlebih dan kelelahan.

Padahal, olahraga juga digunakan untuk meningkatkan toleransi kita terhadap stres. Itulah mengapa aktivitas intensitas rendah seperti jalan cepat, jogging dan bersepeda dianjurkan, karena punya manfaat untuk fisik dan mental.

Sebuah studi terhadap penderita diabetes tipe 2 yang dilakukan selama enam bulan dan diterbitkan pada Indian Heart Journal menunjukkan, latihan aerobik intensitas moderat bisa meningkatkan respons syaraf parasimpatetik. Pada posisi itulah tubuh beristirahat dan mencerna.

Studi lainnya yang diterbitkan oleh Sports Medicine mengkonfirmasi temuan tersebut pada responden non-penderita diabetes.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X