Sajadah Bisa Jadi Media Penyebaran Virus Corona, Ini Penjelasannya

Kompas.com - 20/03/2020, 17:34 WIB
Warga muslim melakukan salat di Masjid Agung Al-Barkah, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (18/3/2020). Pengurus Masjid Agung Al-Barkah menerapkan tidak menggunakan karpet di masjid tersebut sebagai bentuk kepedulian dalam pencegahan wabah Covid-19 dan mengimbau kepada jamaah untuk membawa perlengkapan ibadah sendiri seperti sarung, mukena dan sajadah. ANTARA FOTO/SUWANDYWarga muslim melakukan salat di Masjid Agung Al-Barkah, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (18/3/2020). Pengurus Masjid Agung Al-Barkah menerapkan tidak menggunakan karpet di masjid tersebut sebagai bentuk kepedulian dalam pencegahan wabah Covid-19 dan mengimbau kepada jamaah untuk membawa perlengkapan ibadah sendiri seperti sarung, mukena dan sajadah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Virus Corona semakin mewabah di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Masyarakat pun diimbau untuk menjalankan gaya hidup bersih dan menjaga daya tahan tubuh demi mengurangi risiko terkena infeksi virus corona.

Termasuk ketika beribadah, Umat Islam disarankan untuk menggunakan sajadah sendiri terlebih jika beribadah di masjid atau tempat umum.

Baca juga: Berapa Lama Virus Corona Bertahan di Pakaian, Bagaimana Mencucinya?

Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan imbauan untuk menghentikan sementara kegiatan shalat Jumat selama virus corona masih mewabah.

Imbauan ini utamanya ditujukan kepada wilayah-wilayah dengan tingkat penyebaran virus corona tinggi.

Benarkah sajadah bisa menjadi media penularan virus corona?

Terkait hal tersebut, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SsPD-KGEH, MMB menjelaskan, sajadah bisa menjadi media penyebaran virus corona jika ada seseorang yang memakainya dalam kondisi telah terinfeksi virus.

"Ketika dipakai orang, orang itu bersin, virus memang menempel. Oleh karena itu saya dalam tanda petik setuju jika kita perlu membawa sajadah sendiri," kata Ari dalam konferensi pers daring, Jumat (20/3/2020).

Baca juga: Studi: Virus Corona Bisa Bertahan Lama di Udara dan Permukaan

Faktor suhu juga berpengaruh terhadap daya tahan virus tersebut di sebuah benda. Ari mencontohkan, di daerah panas dengan suhu 30 derajat Celcius, virus corona bisa mati dalam waktu sekitar satu jam.

Namun, virus cenderung bertahan hidup lebih lama pada daerah dengan suhu dingin, kira-kira selama dua hingga tiga hari.

"Kalau udara dingin apalagi kalau 0 derajat ke bawah virus bisa bertahan lebih lama di permukaan-permukaan tersebut sehingga mudah menular," ungkapnya.

Namun, hal ini sebetulnya tidak hanya berlaku dengan sajadah masjid namun juga barang-barang lainnya. Seperti barang-barang yang biasa kita sentuh seperti gagang pintu atau uang kertas.

Baca juga: Lockdown karena Virus Corona Sebenarnya Seperti Apa?

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X