Kompas.com - 03/07/2020, 10:36 WIB
Warga berjemur di pinggir jalan saat pantai ditutup untuk membatasi penyebaran penyakit virus corona (Covid-19) di Galveston, Texas, Amerika Serikat, Senin (20/4/2020). Berdasarkan data Johns Hopkins University, hingga Selasa (21/4/2020), AS masih menjadi negara dengan kasus Covid-19 tertinggi dunia mencapai 787.794 dengan korban meninggal 42.362. ANTARA FOTO/REUTERS/GO NAKAMURAWarga berjemur di pinggir jalan saat pantai ditutup untuk membatasi penyebaran penyakit virus corona (Covid-19) di Galveston, Texas, Amerika Serikat, Senin (20/4/2020). Berdasarkan data Johns Hopkins University, hingga Selasa (21/4/2020), AS masih menjadi negara dengan kasus Covid-19 tertinggi dunia mencapai 787.794 dengan korban meninggal 42.362.

KOMPAS.com - Radiasi ultraviolet (UV) adalah bentuk radiasi non-pengion yang dipancarkan oleh matahari dan beberapa sumber buatan.

Sumber UV buatan antara lain, tanning bed (tempat tidur berjemur), serta beberapa lampu halogen, neon, dan lampu pijar.

Laman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat melansir, sinar matahari merupakan sumber vitamin D alami yang dibutuhkan oleh tubuh.

Baca juga: Hindari Paparan Sinar UV Hari Ini, Simak Tipsnya

Kandungannya membantu penyerapan kalsium dan fosfor dari makanan serta membantu perkembangan tulang.

Meski begitu, sinar UV juga bisa memberikan risiko kesehatan.

Sebelumnya, kita perlu memahami dulu jenis radiasi UV yang diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama, yakni ultraviolet A (UVA), ultraviolet B (UVB), dan ultraviolet C (UVC).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pengelompokan ini didasarkan pada ukuran panjang gelombang mereka, yang diukur dalam nanometer.

Radiasi UVA dan UVB dapat mempengaruhi kesehatan.

Meskipun radiasi UVA lebih lemah dari UVB, UVA dapat menembus lebih dalam ke kulit dan lebih konstan sepanjang tahun.

Sementara, karena radiasi UVC diserap oleh lapisan ozon bumi, maka tidak menimbulkan banyak risiko.

Risiko paparan sinar UV

Beberapa risiko paparan radiasi UV yang perlu kita ketahui, antara lain:

- Sunburn atau terbakar matahari.

Ini adalah tanda paparan sinar UV berlebih yang terjadi dalam jangka pendek. Sementara dampak jangka panjangnya adalah penuaan dini dan kanker kulit.

- Beberapa obat oral dan topikal, seperti antibiotik, pil KB, dan produk benzoil peroksida, serta beberapa kosmetik, dapat meningkatkan sensitivitas kulit dan mata terhadap UV di semua jenis kulit.

Baca juga: Ini Waktu Berjemur yang Baik di Bawah Sinar Matahari

- Paparan UV langsung dapat berisiko membutakan mata jika pelindung mata tidak digunakan.

- Kanker kulit. Dua jenis kanker kulit yang paling umum adalah kanker sel basal dan kanker sel skuamosa.

Biasanya terbentuk di kepala, wajah, leher, tangan, dan lengan karena bagian-bagian tubuh ini yang paling terkena radiasi UV.

Sebagian besar kasus jenis kanker kulit paling mematikan, yakni melanoma, disebabkan oleh paparan radiasi UV.

Semua orang berisiko terkena kanker kulit, namun risikonya lebih besar pada orang yang:

- Menghabiskan banyak waktu di bawah sinar matahari atau terbakar matahari.

- Memiliki warna kulit, rambut, dan mata terang.

- Punya anggota keluarga dengan kanker kulit, dan

- Berusia di atas 50 tahun.

Melindungi diri dari sinar UV

Paparan sinar UV tidak begitu saja akan memberikan dampak kesehatan. Cobalah melakukan beberapa tindakan pencegahan berikut:

Baca juga: Benarkah Sinar UV Dapat Membunuh Virus Corona?

- Jika keluar rumah di tengah hari, berdiamlah di tempat teduh.

- Kenakan pakaian yang menutupi lengan dan kaki.

- Lindungi anak-anak.

- Kenakan topi lebar lebar untuk melindungi wajah, kepala, telinga, dan leher.

- Jika memungkinkan, kenakan kacamata hitam yang dapat menghalangi sinar UVA dan UVB.

- Gunakan tabir surya dengan SPF minimal 15 untuk perlindungan UVA dan UVB.

- Hindari tanning di dalam ruangan. Sebab, tanning dalam ruangan sangat berbahaya.

Orang yang memulai tanning di dalam ruangan selama masa remaja atau dewasa awal memiliki risiko lebih tinggi terkena melanoma.

- Jika mau berjemur, perhatikan waktunya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan 5-15 menit paparan sinar matahari 2-3 kali seminggu.

Konsultan Alergi dan Imunologi Anak, Prof. DR. Dr. Budi Setiabudiawan, Sp.A(K), M.Kes menyebutkan, untuk mendapatkan Vitamin D, kita memerlukan paparan sinar ultraviolet B yang muncul antara Pukul 09.30 - 14.30.

Jadi, waktu yang efektif adalah antara jam 9-10 pagi atau 2-3 sore.

Durasi berjemur disesuaikan kembali dengan beberapa faktor, salah satunya jenis kulit.

Bagi orang Indonesia, yang kebanyakan berkulit sawo matang, dianjurkan berjemur selama 15-20 menit.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.