Kompas.com - 06/10/2020, 09:41 WIB
Pembawa acara Raffi Ahmad bersama sang istri, Nagita Slavina dan putra mereka Rafathar Malik Ahmad. Instagram Raffinagita1717Pembawa acara Raffi Ahmad bersama sang istri, Nagita Slavina dan putra mereka Rafathar Malik Ahmad.

KOMPAS.com— Putra pasangan superstar televisi, Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, Rafathar menjadi pembicaraan di media sosial setelah sang ayah mengungkapkan bahwa putranya itu tak mau lagi disorot kamera.

Penjelasan itu berawal dari ucapan Raffi Ahmad di podcast Deddy Corbuzier tentang putranya yang mulai mengungkapkan rasa tidak sukanya jika diajak syuting.

Rafathar mengaku ingin bermain bebas seperti anak-anak lainnya, tanpa adanya sorotan kamera.

Warganet pun mencemaskan kondisi psikologi Rafathar, apalagi sejak lahir bocah yang disapa "Si Aa" ini selalu berada dalam sorotan kamera. Publik pun menyaksikan ia tumbuh besar dalam kemewahan harta orangtua sampai usianya saat ini menginjak 5 tahun.

Paksaan orangtua

Walau Raffi dan Nagita mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan untuk kebaikan Rafathar, tetapi banyak orang menilai ucapan polos Rafathar menunjukkan bahwa ia ingin berhenti. Sayangnya, sebagai anak ia tidak kuasa menghentikan semua.

Baca juga: Punya Segalanya, Raffi Ahmad Bingung Sebutkan Hal yang Buatnya Bahagia

Menurut psikolog anak, Mario Manuhutu, M. Si, sebagai orangtua, diharapkan menjaga bagaimana anak tetap bahagia dengan tidak memaksakan kehendak.

Anak memiliki hak untuk berkembang dengan mengeksplorasi dunia luar dan melakukan apa yang mereka sukai.

“Anak itu bukan imitasi orang dewasa, jangan berpikir dia adalah aku tapi dalam bentuk kecil,” kata Mario kepada Kompas.com saat dihubungi, Senin (5/10/2020).

Pasalnya, meski berdalih yang dilakukan itu baik untuk anak, memaksa si kecil untuk melakukan suatu hal, akan berdampak pada emosi mereka.

Perkembangan emosi pada anak, diharapkan selalu positif yakni bagaimana anak bisa mengembangkan rasa percaya diri atau melakukan hal yang benar-benar dia suka.

“Anak jadi tidak bisa mengutarakan perasaannya dan enggak bisa lebih terbuka,” lanjut psikolog dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Baca juga: Tak Mau Paksa Rafathar Ikut Syuting, Nagita Slavina Tetap Ajarkan Tepati Janji

Jangan sampai, apa yang kita paksakan, akan membuat anak stres dan berdampak pada kondisi psikologisnya saat dewasa nanti.

“Anak bisa jadi (memiliki pribadi) tertutup dan memendam perasaan. Atau anak bisa haus perhatian, karena terbiasa di depan kamera dan dikondisikan jadi pusat perhatian,” imbuhnya.

Yang paling sering adalah anak melakukannya demi membuat orangtuanya senang. Hal ini akan membuat si kecil menanamkan bahwa dirinya hadir untuk menyenangkan orang lain.

“Konsep dirinya adalah aku enggak puas sama diriku, yang bisa aku lakukan adalah membuat orang lain senang,” ujar Mario.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.