Kompas.com - 14/10/2020, 11:51 WIB
Cara-cara untuk menanggulangi pandemi flu Spanyol di tahun 1918 seperti penggunaan masker kembali digunakan di masa pandemi Covid-19. ABC NEWS/SIMON WINTER via ABC INDONESIACara-cara untuk menanggulangi pandemi flu Spanyol di tahun 1918 seperti penggunaan masker kembali digunakan di masa pandemi Covid-19.

KOMPAS.com - Menurut laporan kasus baru yang diterbitkan di Lancet Infectious Diseases, seseorang tidak hanya berpeluang terinfeksi Covid-19 dua kali, tetapi juga bisa lebih parah ketika terinfeksi untuk kedua kalinya.

Namun, beberapa ahli meningatkan bahwa masih banyak yang harus dipelajari tentang reinfeksi Covid-19, dan bahwa kasus yang muncul dalam pemberitaan kemungkinan besar tidak mewakili sebagian besar pengalaman dengan virus ini.

"Kami masih belajar tentang biologi virus dan biologi kami sendiri dalam hal menangani virus,” kata rekan penulis studi yang juga Direktur Laboratorium Kesehatan Masyarakat Negara Bagian Nevada, Mark Pandori, seperti dilansir TIME

Studi itu merinci kasus seorang pria berusia 25 tahun yang tinggal di Nevada. Dia awalnya dinyatakan positif Covid-19 pada bulan April. Gejala batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, mual, dan diare yang dialaminya hilang pada akhir April, dan kemudian dinyatakan negatif Covid-19.

Namun, pada akhir Mei, dia mulai mengalami gejala yang sama lagi. Pada awal Juni, dia dirawat di rumah sakit dan dinyatakan positif Covid- 19. Tetapi, ketika terinfeksi untuk kedua kalinya, kasus yang dialami cukup serius sehingga dokter harus memberinya oksigen untuk bantuan pernapasan.

Pengurutan genetik menemukan perbedaan yang signifikan antara sampel virus yang diambil pada bulan April dan Juni. Menurut laporan, artinya hampir pasti dia terinfeksi dua kali oleh virus yang tidur dalam sistemnya setelah serangan penyakit pertama.

Baca juga: Pasien di Nevada Terinfeksi Corona 2 Kali, Beda dengan Reinfeksi Lain

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Secara global, beberapa penelitian sebelumnya telah mendokumentasikan contoh nyata lainnya dari reinfeksi Covid-19.

Ada beberapa hal yang bisa dipelajari. Salah satunya, infeksi ulang bisa terjadi dalam kurun waktu yang cukup cepat seperti hanya 48 hari berlalu antara tes positif pertama dan kedua yang dilakukan pasien.

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa antibodi virus corona bertahan setidaknya tiga bulan. Namun, para peneliti dan pejabat kesehatan masyarakat berulang kali mengatakan bahwa belum ada cukup bukti untuk mengatakan seberapa baik antibodi Covid-19 dan berapa lama mampu melindungi orang dari infeksi di masa depan.

Pasien Nevada tidak dites untuk antibodi Covid-19 pada bulan April, jadi tidak bisa dipastikan apakah dia memiliki reaksi kekebalan yang normal saat pertama kali terkena virus. Namun, dia dinyatakan positif antibodi pada bulan Juni.

Halaman:


Sumber Time
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.