Kompas.com - 20/01/2021, 08:05 WIB
Teori perkembangan otonomi moral di tahun 80an oleh Lawrence Kohlberg. -Teori perkembangan otonomi moral di tahun 80an oleh Lawrence Kohlberg.

 

Lawrence Kohlberg yang dikenal dengan teori perkembangan otonomi moral di tahun 80an menyebutkan apabila orang bertindak masih berdasarkan patokan hukuman dan pujian, maka perkembangan moralnya masih di tahap ‘taman kanak-kanak’.

Begitu pula jika kita mengharapkan masyarakat mau berubah perilakunya tapi sebatas ikut-ikutan, sebatas menjadi followers para influencer, maka kesadaran moralnya masih di tahap ‘sekolah dasar’.

Betul, tidak mudah untuk mengangkat perkembangan otonomi moral manusia, sehingga bisa mencapai usia dewasa. Di mana saat keputusan bertindak, disadari penuh sebagai kesadaran dan prinsip.

Termasuk prinsip kebaikan: bahwa memakai masker barangkali saya kehilangan rasa nyaman, tidak terlalu bebas berekspresi, tapi saya bertanggungjawab bukan saja menekan risiko penularan (walaupun saya yakin tidak berpenyakit), juga saya bisa menjadi contoh bagi orang lain.

Itulah sebabnya mengapa ‘New Normal’ ketika didengungkan pertama kali tahun lalu saya menjadi pesimis.

Menilik tingkatan perkembangan otonomi moral sebagian besar masyarakat kita, pemerintah harus bekerja ekstra keras.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Status ekonomi dan pendidikan tidak menjamin sama tingginya dengan status perkembangan otonomi moral seseorang. Lebih tepat jika dikatakan kungkungan budaya dan tradisi justru menjadi faktor penghambat.

Silahturahmi mulai dari menengok bayi hingga melayat yang berduka, sulit dihentikan saat rasa ‘unggah-ungguh’ pekeweuh mulai intervensi.

Mengandaikan hidup bermasyarakat adalah saling mengunjungi dan menengok, maka menjaga jarak fisik seakan mencabik kultur. Di balik itu, tentu saja masih ada kepentingan lain – mulai dari pamer hingga bergunjing.

Mengunggah itu semua ke atas layar virtual dalam waktu singkat rasanya seperti gegar budaya, pecah tradisi. Hal yang sama dengan program televisi. Memelintir istilah protokol kesehatan, ujung-ujungnya semua kembali ke kebiasaan lama.

Apalagi sekarang ada vaksin – yang memungkinkan kembali ke perilaku lama. Begitu cintanya kita semua dengan masa lalu dan zona nyaman.

Ketimbang melihat ke depan, barangkali memang sudah saatnya terjadi perubahan zaman. Agar moralitas kita sedikit lebih dewasa dan berwibawa.

Baca juga: Ketika Bukan Orang Kesehatan Bicara soal Kesehatan

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.