Kompas.com - 27/01/2021, 06:07 WIB
Ilustrasi Anak berbohong. FREEPIKIlustrasi Anak berbohong.

Partisipan juga mengisi Levenson Self Report Psychopathy Scale, yang meneliti ciri-ciri psikopat, seperti keegoisan dan impulsivitas.

Baca juga: Anak Suka Berbohong? 5 Hal Ini Bisa Jadi Alasannya

Hasil studi
Studi itu menemukan, anak-anak yang orangtuanya lebih sering berbohong cenderung lebih mungkin berbohong pada orangtua mereka.

Dengan kata lain, ketika anak sering menerima kebohongan orangtuanya di masa kecil, mereka meyakini bahwa sikap tidak jujur adalah hal yang bisa diterima secara moral.

Kebohongan yang dilakukan orangtua juga bisa mengikis kepercayaan anak pada orangtuanya.

"Karena dibohongi, anak-anak berhenti memercayai orangtua mereka dan mereka cenderung tidak merasa berkewajiban untuk mengatakan kebenaran," demikian diungkapkan studi tersebut, seperti dilansir British Psychological Society (BPS) Research Digest.

Baca juga: Tiga Tanda Yang Membuktikan Anak Sedang Berbohong

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tak hanya itu, para partisipan yang saat kecilnya lebih sering dibohongi oleh orangtuanya juga cenderung memiliki tingkat maladjustment yang tinggi ketika dewasa.

Maladjustment sendiri adalah ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang menimbulkan masalah perilaku, dalam hal ini masalah bisa berupa agresi.

Namun, muncul beberapa pertanyaan tentang apakah kesimpulan sebab-akibat tersebut sesederhana kelihatannya.

Sebab, orangtua yang terus-menerus berbohong kepada anak-anak mereka, misalnya, mungkin juga memiliki masalah relasi mendasar lainnya yang berkontribusi pada masalah anak di usia dewasa kelak.

Artinya, mungkin juga ada masalah lain yang lebih mendalam dan kompleks yang bisa menjelaskan mengapa anak memiliki perilaku tertentu ketika remaja atau dewasa.

Pada studi tersebut, para peserta juga diminta untuk mengingat pengalaman masa kecilnya, seperti konflik dalam keluarga, kematian atau keterasingan, yang mungkin dapat memengaruhi pandangan mereka.

Namun, terlepas dari kekurangan yang mungkin dimiliki studi tersebut, orangtua memang seharusnya berpikir matang-matang sebelum menyampaikan kebohongan pada anak, sekalipun itu dianggap sebagai kebohongan demi kebaikan atau sekadar untuk menenangkan dan menghibur anak jelang waktu tidur.

Mungkin ini butuh usaha dan waktu yang tidak sebentar, namun mungkin akan sepadan demi perkembangan anak yang lebih baik ketika mereka dewasa kelak.

Baca juga: Anak Suka Berbohong? Lakukan 10 Cara Ini untuk Menghentikannya

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.