Kompas.com - 29/03/2021, 19:00 WIB
Ilustrasi balita aktif. (iStock/monzenmachi) iStock/monzenmachiIlustrasi balita aktif. (iStock/monzenmachi)

KOMPAS.com - Pada dasarnya setiap anak sudah mengembangkan harga dirinya atau self-esteem sejak masih kecil, yang berdampak pada caranya berinteraksi dengan orang lain.

Namun, harga diri anak-anak bisa menjadi rendah dan muncul rasa minder jika mereka sering terpapar oleh lingkungan yang negatif atau tidak mendukungnya untuk bertumbuh.

Adapun berikut ini hal-hal yang berkontribusi membuat rendahnya self-esteem pada anak, seperti yang dilansir dari laman Moms.

1. Trauma, perundungan, dan kekerasan

Kekerasan secara fisik, seksual, atau emosional dapat membuat harga diri seorang anak menjadi rendah.

Faktanya, kekerasan dan perundungan menyebabkan anak-anak merasa malu dan hal itu dengan cepat menghilangkan rasa percaya terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.

Bahkan jika trauma itu melekat pada seorang anak selama bertahun-tahun, maka dia akan kesulitan menemukan cara untuk memproses emosi di sekitarnya dan tidak pernah merasa bahagia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meskipun sebagai orangtua kita tidak dapat melindungi anak-anak dari segala hal, kita tetap dapat menunjukkan apresiasi dan rasa cinta kasih kepada mereka.

Itulah yang benar-benar dapat membantu anak-anak melawan penyebab rasa minder yang mereka alami.

Baca juga: Intip 7 Tips Membesarkan Anak yang Percaya Diri

2. Punya kondisi medis

Menurut The Better Health Channel, kondisi medis seperti nyeri kronis, penyakit jangka panjang, atau kecacatan fisik juga dapat menyebabkan harga diri yang rendah pada anak.

Kondisi kesehatan fisik seorang anak merupakan faktor penting dari penyebab harga diri rendah yang sering kali terabaikan.

Demikian pula, kondisi kesehatan mental yang mendasarinya juga dapat menurunkan harga diri anak.

Untuk alasan ini, penting bagi anak-anak tumbuh dengan orang-orang yang berasal dari latar belakang yang sangat beragam (inklusif). Sehingga, anak-anak dapat melihat orang-orang seperti mereka dan mendengar bagaimana mereka mengatur kehidupan sehari-hari.

Ilustrasi balita bermain dengan orangtua.SHUTTERSTOCK/Rawpixel.com Ilustrasi balita bermain dengan orangtua.

3. Prestasi akademis yang buruk

Karena kebanyakan anak ingin menyesuaikan diri dengan teman sebayanya dan menerima pujian dari orang dewasa, mereka ingin berprestasi di sekolah.

Namun, jika hal tersebut tidak terjadi, anak-anak sering kali merasa ini adalah cerminan langsung dari seluruh keberadaan mereka, yang berarti hal itu berdampak langsung pada harga diri mereka.

Bahkan serangan kecil dari prestasi akademis yang buruk dapat menyebabkan anak-anak kehilangan kepercayaan diri.

Baca juga: Sekolah Secara Virtual Dapat Merusak Kesehatan Mental Anak, Benarkah?

4. Sering membandingkan diri

Menurut Indiana University's School of Medicine, anak-anak mulai membandingkan diri mereka sendiri dengan orang lain selama masa kanak-kanak, yang berarti antara usia 6-11 tahun.

Ada beberapa alasan mengapa anak-anak mulai membandingkan diri mereka dengan orang lain pada usia ini, tetapi kebanyakan karena mereka ingin menyesuaikan diri dan menemukan tempat mereka dalam kelompok sosial.

Sayangnya, perbandingan sosial dapat merusak harga diri seorang anak jika terus menerus merasa kurang dan sering membandingkan diri mereka dengan teman sebayanya.

Baca juga: Sering Berteriak pada Anak Bisa Membuat Otak Mereka Menyusut

Anak-anak bermain menggunakan busana kucing di rumah di Desa Jampang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (4/12/2020). Fredi Lugina Priadi, menciptakan pasar busana untuk kucing dengan menawarkan model cosplay yang unik bagi hewan piaraan tersebut. Satu potong busana kucing berkisar dari Rp100 ribu hingga Rp1,5 juta.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Anak-anak bermain menggunakan busana kucing di rumah di Desa Jampang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (4/12/2020). Fredi Lugina Priadi, menciptakan pasar busana untuk kucing dengan menawarkan model cosplay yang unik bagi hewan piaraan tersebut. Satu potong busana kucing berkisar dari Rp100 ribu hingga Rp1,5 juta.

5. Tekanan

Ketika anak-anak mulai tumbuh dewasa, setiap orang mulai mengharapkan hal-hal tertentu dari mereka.

Dalam beberapa kasus, anak-anak mungkin merasa berkewajiban untuk melebihi ekspektasi dan menyebabkan kecemasan berbasis kinerja.

Saat hal ini terjadi, harga diri seorang anak terus merosot dengan setiap langkah yang dilewatinya di sepanjang jalan.

Lebih lanjut, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Child Psychology menetapkan bahwa anak-anak yang menerima kritik karena kinerja yang buruk atau merasa lebih buruk tentang diri mereka sendiri.

Maka dari itu, tekanan kinerja yang dikombinasikan dengan kritik dapat menghancurkan harga diri seorang anak yang paling sehat sekalipun.

Baca juga: Hal yang Harus Dilakukan Orangtua Saat Anak Gagal Masuk Kampus Idaman

6. Ketidakhadiran orangtua

Penelitian menunjukkan bahwa waktu berkualitas dengan orangtua secara penuh dapat memengaruhi harga diri anak.

Ini juga berarti orangtua yang tidak pernah terlibat atau tidak hadir berdampak negatif pada harga diri seorang anak.

Ketika orangtua tidak menyediakan waktu berkualitas, anak-anak akhirnya merasa tidak penting dan dilupakan.

Menurut psikolog Suzanne Lachmann, hal ini pada akhirnya dapat menyebabkan anak-anak berpikir bahwa mereka harus meminta maaf atas seluruh keberadaan mereka.

Baca juga: Gadget Boleh untuk Anak, tapi Bonding Time Jauh Lebih Penting

7. Kritik yang terlalu keras

Pepatah lama yang mengatakan bahwa "tongkat dan batu bisa mematahkan tulangku tapi kata-kata tidak akan pernah menyakitiku" sebenarnya tidak benar.

Faktanya, para ahli dari KidsHealth mengatakan, pesan yang diterima anak-anak tentang diri mereka dari orang lain dapat dengan mudah menodai cara mereka memandang diri mereka sendiri.

Ketika orangtua dan tokoh otoritas lainnya mengeluarkan kritik yang terlalu keras, itu benar-benar mengikis harga diri seorang anak.

Untuk alasan ini, orangtua dan orang dewasa lainnya harus memilih kata-kata mereka dengan hati-hati, terutama saat menyampaikan umpan balik atau mengomentari penampilan, serta ciri kepribadian anak.

Baca juga: Sering Berteriak pada Anak Bisa Membuat Otak Mereka Menyusut

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.