Kompas.com - 06/04/2021, 21:15 WIB
Buang air kecil antara empat hingga 10 kali masih dapat dikategorikan sehat jika frekuensinya tidak mengganggu kualitas hidup seseorang. SHUTTERSTOCKBuang air kecil antara empat hingga 10 kali masih dapat dikategorikan sehat jika frekuensinya tidak mengganggu kualitas hidup seseorang.

KOMPAS.com - Kita sering menganggap buang air kecil sebagai hal yang sepele. Padahal, frekuensi buang air kecil bisa memberi sinyal tentang kondisi kesehatan kita, lho.

Lalu, seberapa sering harus buang air kecil agar dikategorikan sehat?

Menurut Medical News Today, kebanyakan orang akan buang air kecil enam hingga tujuh kali dalam periode 24 jam.

Sebagai gambaran, seseorang yang minum sekitar 1.800 mililiter cairan dalam sehari akan buang air kecil kira-kira tujuh kali dalam periode 24 jam.

Buang air kecil antara empat hingga 10 kali juga masih dapat dikategorikan sehat jika frekuensinya tidak mengganggu kualitas hidup orang tersebut.

Frekuensi buang air kecil dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya:

  • Usia.
  • Ukuran kandung kemih.
  • Asupan cairan.
  • Adanya kondisi medis, seperti diabetes dan infeksi saluran kemih.
  • Jenis cairan yang dikonsumsi, sebab minuman seperti alkohol dan kafein dapat meningkatkan produksi urine.
  • Penggunaan obat-obatan.
  • Hamil. Peningkatan frekuensi buang air kecil dapat terjadi hingga delapan minggu setelah melahirkan.

Baca juga: 11 Penyebab Terlalu Sering Buang Air Kecil

Tanda terlalu jarang atau terlalu sering buang air kecil

Buang air kecil terlalu jarang atau terlalu sering bisa mengindikasikan kondisi kesehtan yang mendasari, terutama jika diikuti gejala berikut:

  • Sakit punggung.
  • Urine berdarah.
  • Urine keruh atau berubah warna.
  • Kesulitan mengeluarkan urine.
  • Demam.
  • Sakit ketika buang air kecil.
  • Urine berbau.

Pengobatan dapat mengatasi gejala dan mencegah komplikasi.

Jika ada perubahan dramatis dalam frekuensi atau keluaran urine, usahakan mencari bantuan medis.

Baca juga: Penyebab Buang Air Kecil Terasa Sakit

Pengobatan

Jika tidak ada kondisi kesehatan yang mendasari atau berdampak pada kualitas hidup, maka frekuensi buang air kecil tidak memerlukan pengobatan khusus.

Perempuan hamil yang frekuensi buang air kecilnya meningkat juga tidak memerlukan pengobatan, selama gejalanya hilang beberapa minggu setelah melahirkan.

Pengobatan yang diperlukan bergantung pada kondisi kesehatan yang mendasari.

Jika kondisinya adalah diabetes atau infeksi saluran kemih, misalnya, pengobatan diperlukan untuk mengatasi gejala ini.

Jika pengobatan menyebabkan seseorang terlalu sering buang air kecil, dokter dapat menyesuaikan dosis atau meresepkan obat lain.

Pada akhirnya, jika menyadari frekuensi buang air kecil yang tidak normal, berkonsultasilah dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan solusinya.

Baca juga: Sering Buang Air Kecil Tengah Malam? Waspadai Masalah Prostat

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X