Kompas.com - 17/04/2021, 20:35 WIB
Ilustrasi tanaman cabai. FREEPIK/JESWINIlustrasi tanaman cabai.

Sementara gejala layu tanaman yang muda mulai tampak pada daun-daun atas dari tanaman.

Setelah beberapa hari, gejala kelayuan umumnya akan diikuti oleh layu yang tiba-tiba dan layu permanen dari seluruh daun tanaman, tetapi daun tetap hijau atau sedikit menguning.

Selain pada daun, jaringan pembuluh dari batang bagian bawah dan akar pada tanaman yang terkena penyakit ini juga menjadi kecokelatan.

Jika dipotong melintang dan dicelupkan ke dalam air jernih, batang atau akar tersebut akan mengeluarkan cairan keruh yang merupakan koloni bakteri.

Sementara jika daun tanaman cabai layu pada daun-daun bagian bawah, menjalar ke ranting-ranting muda dan berakhir dengan kematian daun dan ranting yang kecokelatan, maka mungkin tanaman cabai terebut terkena penyakit layu fusarium.

Serangan lanjut penyakit layu fusarium dapat mengakibatkan seluruh tanaman menjadi layu dalam waktu 14 hingga 90 hari sejak infeksi.

Namun, layu fusarium memerlukan cara pengendalian yang berbeda.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untuk mengidentifikasi hama dan penyakit tanaman cabai yang mungkin menjangkiti tanaman Anda, cobalah untuk mengetahui gejalanya terlebih dahulu.

Baca juga: Waspadai, 7 Jenis Hama Tanaman Cabai dan Gejalanya

Pengendalian penyakit layu bakteri

Kegiatan pengendalian penyakit layu bakteri adalah sebagai berikut:

  • Gunakan pupuk kandang yang telah terdekomposisi dengan baik. Sebab, pupuk kandang yang sedang terdekomposisi dapat memacu perkembangan bakteri akibat kenaikan suhu tanah oleh proses fermentasi pupuk.
  • Hindari genangan air di lahan. Atur drainase lahan agar air hujan tidak menggenang.
  • Kurangi penggunaan pupuk berkadar N tinggi, seperti urea. Jika perlu, gunakan pupuk NPK. Penggunaan urea yang berlebihan dapat menyebabkan tanaman cabai mudah terserang penyakit ini.
  • Cabut segera tanaman yang menunjukkan gejala layu agar tidak menular ke tanaman yang lain. Ambil tanaman di lubang tanaam dari tanaman yang sakit. Siram tanaman sakit dan tanah tersebut dengan bakterisida Agrept. Lalu, masukkan tanaman ke dalam kantong plastik dan kubur kantong jauh dari lokasi penanaman cabai.
  • Lakukan pergiliran tanaman yang bukan inang layu bakteri. Gunakan varietas yang lebih tahan penyakit ini, misalnya Gada, Astina, atau IPB CH3.
  • Gunakan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) sebagai kocoran di sekitar perakaran.
  • Jika serangan sudah berat, siram lubang tanam dengan larutan bakterisida.

Baca juga: 6 Hal yang Perlu Diperhatikan saat Tanam Cabai di Rumah

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.