Kompas.com - 21/04/2021, 19:32 WIB
Ilustrasi makanan tradisional khas Bandung. Ada cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. SHUTTERSTOCK/ Hanifah KurniatiIlustrasi makanan tradisional khas Bandung. Ada cireng, cilok, seblak, dan telur gulung.

KOMPAS.com - Isu lingkungan berkelanjutan terus menjadi pembicaraan di berbagai bidang kehidupan masyarakat. Termasuk soal pilihan makanan.

Pilihan makanan ternyata berdampak pada lingkungan karena berkaitan dengan proses produksinya.

Mengetahui apa, di mana, dan bagaimana makanan diproduksi dapat membuat perbedaan besar dalam upaya mitigasi iklim.

Satu studi dari University of Oxford melaporkan, produksi makanan memainkan peran utama dalam emisi gas rumah kaca.

Mulai dari mengubah ekosistem alami dan keanekaragaman hayati hingga meminimalkan ketahanan ekologi.

Semua tahapan dalam rantai pasokan makanan, terutama makanan olahan dapat mengeluarkan gas rumah kaca yang berpengaruh terhadap perubahan iklim.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Entah itu proses awal, transportasi, distribusi, eceran, dan pengemasan.

Oleh karenanya, beralih ke pola makan makanan utuh yang tidak diproses adalah salah satu cara menyejahterakan diri sendiri dan lingkungan.

Usahakan untuk selalu mengonsumsi makanan yang memiliki jejak karbon rendah guna menjaga keberlangsungan lingkungan.

Baca juga: Ingin Lebih Sehat, Hindari 10 Jenis Makanan Ini

Berikut sembilan makanan dengan jejak karbon lebih rendah.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X