Kompas.com - 30/04/2021, 12:58 WIB

KOMPAS.com – Anak yang sehat, cerdas, dan tumbuh kembangnya optimal merupakan harapan setiap orangtua. Oleh karena itu, selain memperhatikan asupan nutrisi dan stimulasi, tak kalah penting adalah pemberian imunisasi dasar yang lengkap.

Imunisasi akan melindungi anak dari penyakit berat, kecacatan, bahkan kematian, yang disebabkan oleh penyakit-penyakit yang mudah menular.

World Immunization Week 2021 atau Pekan Imunisasi Dunia yang dirayakan setiap tahunnya di pekan terakhir April, menyampaikan pesan kepada seluruh dunia mengenai pentingnya imunisasi untuk mencegah penyakit dan melindungi hidup, melalui slogan Prevent (Mencegah); Protect (Melindungi) dan Immunise (Mengebalkan).

Namun, tidak dapat dipungkiri pelaksanaan vaksin di masa pandemi mengalami banyak tantangan.

Baca juga: Mengapa Anak Harus Tetap Mendapatkan Imunisasi Dasar di Masa Pandemi?

Menurunnya cakupan imunisasi di Indonesia terlihat dari data Kementerian Kesehatan terkait cakupan imunisasi dasar lengkap dan imunisasi lanjutan pada 2019-2020.

Pada 2020 jumlah daerah yang target imunisasi dasar lengkapnya kurang dari 80 persen tercatat sebanyak 234 kabupaten/kota. Jumlah ini meningkat dari 2019 yang tercatat sebanyak 136 kabupaten/kota.

Menjawab kekhawatiran parents akan vaksinasi di masa pandemi, Kementerian Kesehatan dan IDAI telah mengeluarkan Petunjuk Teknis Pelayanan Imunisasi pada Masa Pandemi COVID-19 agar fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan tetap melayani imunisasi anak di tengah pandemi.

Baca juga: Jadwal Imunisasi Anak Terbaru Rekomendasi IDAI tahun 2020

Penyakit menular yang bisa dicegah dengan vaksin

Vaccine Medical Director GlaxoSmitheKline, dr.Deliana Permatasari, menjelaskan, menurunnya cakupan vaksinasi menunjukkan tingginya risiko anak-anak terpapar penyakit yang bisa berbahaya, seperti hepatitis A dan rotavirus penyebab diare.

“Saat ini tersedia vaksin untuk melindungi setidaknya 20 penyakit, seperti difteri, tetanus, pertusis, influenza, dan campak. Vaksin-vaksin ini menyelamatkan hingga 3 juta nyawa setiap tahunnya,” paparnya.

Di Indonesia sendiri sudah terjadi beberapa Kejadian Luar Biasa (KLB) misalnya pada penyakit difteri dan hepatitis A, yang terjadi akibat rendahnya jumlah anak yang mendapat vaksinasi.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.