Kompas.com - 14/01/2022, 13:20 WIB

KOMPAS.com - Kesadaran masyarakat di Indonesia akan penyakit kanker ovarium masih sangat rendah.

Belum banyak yang memahami soal risiko, tanda, ataupun gejala salah satu jenis kanker yang hanya dialami perempuan ini.

Padahal, riset membuktikan bahwa satu dari 78 perempuan berisiko menderita kanker ovarium dalam hidupnya.

Baca juga: Penting, Kenali Risiko dan Tanda Kanker Ovarium dengan Metode 10 Jari

Selain itu, rendahnya kesadaran ini juga membuat banyak penderita kanker ovarium enggan menjalani pengobatan yang tepat.

Presenter sekaligus penyintas kanker ovarium, Shahnaz Haque mengatakan, ada banyak informasi tidak bertanggung jawab yang berkembang di masyarakat.

Akibatnya, orang yang didiagnosis menderita kanker ovarium malah memilih pengobatan yang tidak sesuai ilmu kesehatan.

Sebagai contohnya, banyak penderita kanker ovarium yang lebih memilih pergi ke dukun dibandingkan ke dokter.

"Orang banyaknya malah ke dukun, takut kalau ke dokter nanti malah ovariumnya diambil jadi tidak bisa punya anak," jelasnya dalam jumpa media virtual kampanye 10 jari, Kamis (13/1/2022).

Tindakan lain yang juga banyak diambil adalah menjalani pengobatan alternatif yang cenderung tidak masuk akal.

Misalnya menjalani praktik yang mengeklaim dapat memindahkan kanker ke batu, hewan, atau barang lainnya.

Sesat pikir ini membuat banyak pasien kanker ovarium akhirnya tidak tertolong dan meninggal dunia.

Padahal, ketika pertama kali didiagnosis menderita kanker ovarium, sangat penting untuk berkonsultasi dengan ahli medis dan menjalani terapi yang tepat.

Baca juga: Rentan Dialami Wanita, Kenali Gejala Kanker Ovarium

Pembedahan dan kemoterapi yang kini menjadi pengobatan umum untuk kanker ovarium masih memiliki keberhasilan tinggi jika dilakukan di stadium awal.

"Jangan takut dengan pengobatannya, takutlah pada penyakitnya," tandas istri musisi Gilang Ramadhan.

Penderita kanker ovarium masih tetap bisa hamil

Ilustrasi hamil anak kembar, ciri-ciri hamil anak kembarShutterstock/Africa Studio Ilustrasi hamil anak kembar, ciri-ciri hamil anak kembar

Perempuan penderita kanker nekat ke dukun karena takut diangkat rahimnya atau tak bisa memiliki anak jika memeriksakan diri ke dokter.

Dr. dr. Brahmana Askandar, SpOG(K), K-Onk, Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI), mengatakan, kekhawatiran ini seharusnya tidak beralasan.

Penderita kanker ovarium tetap masih bisa punya anak, bahkan jika salah satu rahimnya terpaksa diangkat.

Rahim yang tersisa, jika dalam kondisi sehat, tetap bisa menjalankan fungsi reproduksi untuk hamil.

Baca juga: Pakar Ungkap Pemicu Kanker Ovarium, Salah Satunya Makanan

Demikian pula untuk penderita kanker ovarium yang menjalani kemoterapi.

"Orang dikemo masih bisa punya anak, enggak rusak kok ovariumnya," jelasnya.

Maka dari itu, ia mengimbau masyarakat untuk menemui dokter secara rutin dan menemukan terapi yang tepat untuk menyembuhkan penyakitnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.