"G-Shock Frogman Memang Dirancang untuk Tangan Kiri..." - Kompas.com

"G-Shock Frogman Memang Dirancang untuk Tangan Kiri..."

Kompas.com - 15/11/2017, 10:17 WIB
Salah satu seri Frogman yang dipamerkan dalam acara peringatan 35 tahun G-Shock, di Madison Square Garden, Manhattan, Kota New York, Amerika Serikat. KOMPAS.com/ GLORI K WADRIANTO Salah satu seri Frogman yang dipamerkan dalam acara peringatan 35 tahun G-Shock, di Madison Square Garden, Manhattan, Kota New York, Amerika Serikat.

TOKYO, KOMPAS.com - Salah satu hal yang terasa istimewa saat Kompas.com mengunjungi laboratorium riset dan pengembangan jam tangan G-Shock di Hamura, Tokyo, Jepang, adalah bertemu dengan Shinji Saito. 

Mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung hingga batas siku, serta dasi abu-abu senada dengan pantalonnya, Shinji Saito menyambut kedatangan kami sore itu.

Selain Saito, ada dua teknisi utama Casio, yakni Atsushi Oyama, dan Ryoji Abe yang hadir menemaninya. 

"Itu Shinji Saito, perancang Frogman," bisik Roxanna R. Silalahi, Marketing Communication Manager dari Kantor Perwakilan Jakarta untuk Casio Singapura, yang membawa kami ke Hamura. 

Foto: Kemeriahan Pesta 35 Tahun G-Shock di Madison Square Garden

Frogman adalah "nama besar" bagi para pecinta G-Shock. Tentu, bertemu dengan orang yang merancangnya pun menjadi hal yang istimewa.

Selain itu, memang ada hal amat sederhana yang sejak lama ingin saya tanyakan langsung kepada si perancang Frogman ini.

G-Shock FrogmanKOMPAS.com/ GLORI K WADRIANTO G-Shock Frogman
"Apa benar Frogman memang dirancang untuk dipakai di tangan kiri?"

Itulah pertanyaan sederhana yang sudah lama muncul, sejak saya mengenal desain unik Frogman.

Frogman pertama kali diluncurkan pada November 1993, dan hingga kini tetap menjadi salah satu ikon utama G-Shock.

Memang, Shinji Saito bukan tokoh yang mula-mula merancang Frogman.

Namun, sejak 10 tahun terakhir, dia menjadi penanggungjawab untuk semua produk jam tangan Casio.

Dia pula yang menjadi tokoh utama yang mengembangkan Frogman hingga dilengkapi dengan beragam fitur untuk memenuhi kebutuhan divers.

Mendengar pertanyaan soal "tangan kiri" tadi, Saito pun langsung tersenyum lebar.

"Iya, benar, Frogman memang dirancang untuk dipakai di tangan kiri," kata dia sambil mengangkat pergelangan tangan kirinya.

Bahasan tentang jam Frogman yang lebih nyaman dipakai di tangan kiri telah lama menjadi perbincangan di forum-forum pecinta G-Shock, termasuk di Indonesia.

Jika menilik dari bentuknya, memang dapat dibayangkan bahwa penggunaan Frogman di  tangan kanan akan mengganggu gerakan pergelangan.

Selain itu, secara estetika pun, desain asimetris Frogman akan lebih rapi jika dipakai di tangan kiri.

Baca juga: Mengapa Pesta 35 Tahun G-Shock Digelar di New York?

Tentu, selama ini para pengguna G-Shock hanya bisa menerka-nerka.

Jawaban mutlak memang hanya bisa datang dari perancangnya, dan Saito termasuk di dalamnya. Dia menegaskan, Frogman memang dirancang untuk tangan kiri.

"Memangnya kenapa harus tangan kiri?" tanya Roxanna R. Silalahi menyela percakapan saya dengan Saito.

Lagi-lagi Saito tertawa. Dia lalu menyebut alasan sederhana, karena memang pada umumnya orang menggunakan jam di tangan kiri.

"Desain Frogman itu membuat pergelangan tangan kiri dari penggunanya bisa bergerak dengan bebas," kata Saito.

"Padahal banyak loh orang yang pakai jam di tangan kanan," kata Roxanna yang kembali disambut tawa Saito.

Penjelasan Saito memang amat sederhana, namun hal itu tentu tak mencerminkan sederhananya proses pengambangan Frogman yang dijalani dalam 10 tahun terakhir.

Baca juga : Pesta 35 Tahun G-Shock, Hujan Jam Tangan di Madison Square Garden

Saito yang kini menjabat sebagai Chief Engineer of Product Strategy Planning, Timepiece Product Division, Casio, menempuh "jalan panjang" untuk menyempurnakan Frogman.

Shinji Saito (berdasi) dan dua teknisi utama Casio, Atsushi Oyama, dan Ryoji Abe bersama Kompas.com, di Laboratorium R&D G-Shock di Hamura, Tokyo, Jepang. Saito juga adalah perancang G-Shock berukuran paling besar, yakni tipe GX56 yang dikenakan Kompas.com.KOMPAS TV/ INNE NATHALIA Shinji Saito (berdasi) dan dua teknisi utama Casio, Atsushi Oyama, dan Ryoji Abe bersama Kompas.com, di Laboratorium R&D G-Shock di Hamura, Tokyo, Jepang. Saito juga adalah perancang G-Shock berukuran paling besar, yakni tipe GX56 yang dikenakan Kompas.com.

Saat mengembangkan Frogman terbaru dari seri Master of G, Saito mengunjungi banyak penyelam profesional yang melakukan pekerjaan penyelamatan di bawah laut.

Dari pertemuan itu, Saito mengaku sadar bahwa dia perlu belajar dan memahami lebih banyak tentang dasar-dasar dan pekerjaan penyelam.

Saito pun mengikuti kursus menyelam, menjalani ujian, hingga mendapat lisensi nasional.

Lisensi penyelaman yang digondol Saito itu sama sekali berbeda dengan lisensi penyelaman rekreasi.

Berbekal pengetahuan itulah, Frogman terus disempurnakan.

Frogman pun menjadi salah satu dari tiga varian dalam edisi "Gold Tornado" yang khusus diproduksi dalam rangka memperingati 35 tahun G-Shock.

Baca juga : Bahan Rapuh Kristal Safir Jadi G-Shock Tangguh di Tangan Kikuo Ibe

Jam ini kini mampu bertahan hingga kedalaman 200 meter di bawah permukaan air.

Lalu, selain mengadopsi fitur "tough solar", -kemampuan pengisian baterai tak hanya dengan cahaya matahari tapi juga lampu-, Frogman terbaru dilengkapi fitur "triple sensor".

Dengan fitur itu, jam tangan ini mampu mengukur kedalaman air, suhu, sekaligus menjalankan fungsi kompas.

Seluruh data dari penyelaman dapat direkam hingga 20 kali, dan menjadi diving log bagi si penyelam.

Meskipun memiliki segudang fitur, bukan berarti konsumen yang membeli jam ini hanya mereka yang hobi menyelam. 

Diyakini, banyak dari kolektor Frogman yang jatuh cinta pada bentuk unik, variasi warna, maupun berbagai produk "limited edition" dari jam tersebut, tanpa harus menjadi penyelam. 


EditorGlori K. Wadrianto
Komentar
Close Ads X