Salin Artikel

Tradisi Peragaan Busana Secara Langsung Menanti "Ajal", Benarkah?

Di saat negara-negara di dunia memberlakukan kebijakan lockdown untuk memutus mata rantai penyebaran virus, berbagai brand harus memutar otak demi mempertahankan eksistensi mereka.

Sebagian merek mengadakan peragaan busana secara virtual di tahun ini.

Acara semacam itu tetap digelar, kendati orang-orang berpendapat pertunjukan secara online tidak memiliki daya tarik yang sama kuat dengan peragaan busana secara langsung.

Bulan September dan Oktober adalah masa-masa di mana pertunjukan koleksi Musim Semi/Musim Panas dimulai, dan Paris Fashion Week pun dijadwalkan akan diadakan secara live.

Namun, belum diketahui bagaimana nasib ajang peragaan busana live di masa depan, kendati beberapa rumah mode mewah telah mengumumkan langkah perubahan.

Sebagai contoh, Saint Laurent memutuskan akan meninggalkan kalender tradisional dan menunjukkan koleksi mereka pada waktu yang telah mereka buat.

Sedangkan label Gucci telah meninggalkan kalender mode. Gucci memutuskan tidak akan lagi mengadakan pertunjukan pra-musim gugur, musim semi/musim panas, dan musim gugur/musim dingin.

Mereka juga tak akan lagi menggelar peragaan busana lainnya di seluruh dunia selama beberapa bulan hingga beberapa tahun.

Label asal Italia itu hanya akan memiliki dua koleksi dan dua pertunjukan dalam setahun.

Terlepas dari bagaimana dan berapa kali penyelenggaraan fashion show akan diadakan dalam satu tahun, kalender mode bagi setiap merek tidak akan pernah sama.

Perubahan di industri mode adalah topik utama di Fashinnovation -konferensi yang diadakan pada tanggal 5 Juni dan 8 Juni.

Para veteran industri dan orang-orang di dalam industri mode membahas secara ekstensif kondisi industri mode, dan bagaimana cara beradaptasi di masa depan.

"Bola sedang bergerak. Semuanya berubah," kata model asal Kanada, Coco Rocha, kepada Business Insider.

"Bahkan sebelum pandemi Covid-19, banyak merek terutama di New York, memikirkan kembali apakah pertunjukan runway masuk akal atau tidak pada tahun 2020."

"Banyak perancang seperti DVF dan Zac Posen berhenti menampilkan pertunjukan pada 2019," kata Rocha.

Fashion show digital bisa jadi solusi

Fern Mallis, kreator New York Fashion Week dan mantan direktur eksekutif Council of Fashion Designers of America juga mengungkapkan pandangannya.

Dia merasa terlalu banyak peragaan busana menghasilkan "jejak karbon yang sangat besar" dan "sangat mahal".

Apa yang diutarakan Mallis tidak hanya didukung oleh Coco Rocha, melainkan juga perancang busana Rebecca Minkoff, serta salah satu pendiri Fashinnovation, Jordana Guimaraes.

Di bulan April, Guimaraes mengaku menganggap pertunjukan runway sudah tidak diperlukan.

"Dengan pertunjukan runway, kita berakhir dengan seluruh sampel ini, namun tidak akan pernah dipakai lagi."

Peragaan busana digital bisa menjadi cara berkelanjutan bagi brand untuk memamerkan produknya.

Tautan online ke pertunjukan busana virtual akan mengurangi jejak karbon yang ditinggalkan oleh para kreator fesyen.

Jika tiap merek berfokus menampilkan dua koleksi dalam setahun, maka banyak waktu, energi, dan uang yang dapat dihemat.

Namun, di sisi lain  -tentu saja, ketiga hal itulah yang membuat industri mode menjadi seperti sekarang.

Sebagai contoh, Paris Fashion Week tidak akan terasa seperti Paris Fashion Week pada umumnya jika tidak diselenggarakan di kota Paris.

Jelas, pendekatan dengan peragaan runway digital tidak menggantikan live show.

"Kami tidak merasa acara digital akan mengambil alih pertunjukan 'live', melainkan melengkapinya," kata Guimaraes.

"Dengan cara ini, acara 'live' memiliki tujuan awal yang membawa kembali pertunjukan runway untuk menjadi intim bagi penonton yang tepat."

"Sementara, streaming online atau versi 3D membuatnya inklusif dan bisa diakses orang dari seluruh dunia," sambung dia.

Menanggapi pernyataan Guimaraes, perancang busana Rebecca Minkoff mengatakan pertunjukan digital adalah "pelengkap yang baik".

Kendati demikian, hanya ada sesuatu terkait ruangan dan energi yang diciptakan dengan musik dan model.

"Sulit menciptakan ruang dan energi dengan musik dan model melalui pengalaman digital," kata Minkoff.

Sementara ini, Gucci baru memutuskan untuk hanya membuat dua koleksi dan dua pertunjukan setahun.

Lalu, Chanel akan mengadakan enam pertunjukan.

Minkoff mengatakan, penyelenggaraan runway digital bisa sama mahalnya dengan pertunjukan secara live.

Sebab, penyelenggaraannya tergantung berapa banyak waktu dan usaha yang diperlukan oleh label untuk menciptakan pertunjukan virtualnya.

Bagaimana pun, fashion show virtual dapat mengurangi jejak karbon.

Lalu, acara semacam ini juga membuat para pakar di industri mode berargumen apakah koleksi ketiga dan keempat berpengaruh banyak bagi konsumen atau tidak.

"Saya tidak tahu apa solusinya, dan jika saya tahu, saya akan membeli saham sekarang," kata Mallis.

"Saat ini kita berada di dunia Zoom, dan saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," kata dia.

https://lifestyle.kompas.com/read/2020/08/10/152936220/tradisi-peragaan-busana-secara-langsung-menanti-ajal-benarkah

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.