Salin Artikel

Pangan Keluarga, Cermin Kedaulatan Pangan Negara

Padahal, hari krida pertanian sengaja dipilih, karena waktu itu posisi matahari yang memberi energi kehidupan bagi semua makhuk hidup berada pada posisi 23 ½° Lintang Utara, saat proses produksi tanaman berakhir dan akan dimulai untuk persiapan produksi selanjutnya, sehingga para petani memanjatkan syukur dengan istilah panen raya.

Begitu pula 21 Juni dianggap permulaan musim dan masa baik untuk kembali menanam sesuai Pranata Mangsa sebagai penanggalan aktivitas pertanian yang berkaitan dengan hujan, angin, serangga, penyakit unggas, dan lain sebagainya.

Apa hubungannya dengan hari keluarga nasional? Memang tidak ada.

Tulisan ini dibuat hanya sebagai tinjauan kritis, tentang bagaimana keluarga-keluarga kita pada saat ini hidup dengan pangan yang kian bergeser dari marwah pangan nasional.

Sebut saja, mulai dari sarapan: apa yang jadi menu anak-anak dan kaum muda Indonesia? Aneka produk olahan terigu menjadi pilihan praktis, padahal terigu alias gandum tidak tumbuh di bumi Nusantara.

Padahal istilah ‘praktis’ pun menjadi tanda tanya besar saat merawat hidup sebagai asuhan kodrat disejajarkan dengan cara pikir teknokrat yang paradigmanya memang mengacu pada 5 jargon mekanik: tepat, cepat, akurat, efisen, dan tentunya praktis.

Bicara soal kearifan bercocok tanam menurut musim pun, sudah lama diwarnai keserakahan manusia untuk bisa menikmati hasil panen di luar pranata musim.

Sebutlah durian, kini sepanjang tahun tersedia, memenuhi kerakusan konsumen dan keserakahan ambil untung.

Dan ketika produksi bablas melimpah ruah, olahan durian pun marak dijagokan sebagai ‘inovasi’. Tidak cukup dibuat dodol atau lempok, kini ‘westernisasi durian’ membuat buah eksotis ini malah menjadi jajanan tidak sehat.

Celakanya oleh generasi sekarang disebut anti-mainstream. Memang apa yang salah dengan mainstream?

Melihat bagaimana ibu-ibu masa kini memberi makan anak-anaknya, kita harus mulai prihatin. Ditambah literasi nutrisi yang jauh dari kata cukup.

Kiblat resep-resep asing yang justru sudah ditinggalkan orang dari mana makanan itu berasal, dan telah dianggap pangan tidak sehat, sekarang merambah keluarga-keluarga muda kita yang hilang arah.

Kini aneka makanan bertabur keju – yang bukan kategori keju sungguhan, melainkan produk prosesan yang murah - disukai hingga di pelosok, diberi label bombastis sebagai ‘sumber pangan’ berkalsium, ‘kaya nutrisi’, dan seakan mengangkat derajat makanan sederhana menjadi ‘keren’.

Jagung rebus bertabur keju, mi instan berbaur keju, bahkan minuman teh kocok diberi krim berkeju.


Anak-anak kita sudah tidak paham lagi kudapan bernama ‘semar mendem’ atau lemper, yang dalam waktu singkat mereka lebih fasih menyebut onigiri.

Bahkan pecel atau karedok berbumbu kacang sederhana, kedengaran begitu kampungan dibanding aneka salad dibanjur dressing sarat gula dan senyawa imbuhan.

Begitu pula kecipir, tespong, kenikir, daun ubi, pakis, langsat, matoa tidak dipandang sebelah mata, sebab generasi sekarang lebih kenal kale, blueberry, goji berry, chia seed yang promosinya sebagai ‘super food’ mengatasi logika kelaziman hidup sehat seimbang.

Panen raya yang semestinya membuat petani bersuka cita dan produk pangan lokal membanjiri pasar tanpa calo kartel, faktanya amat bertolak belakang.

Petani kita masih jauh dari kemajuan cara dan metodologi bercocok tanam, kebanggaan mereka akan hasil panen masih sebatas jumlah rupiah yang belum mengejar kebutuhan keluarga.

Bahkan keluarga petani, tidak menikmati sehatnya panenan dari tanah pertiwi, sebab mereka justru terdorong ingin makan seperti orang kota yang sudah lama kehilangan esensi.

Jika sepiring mi goreng atau semangkuk oatmeal lebih dihargai sebagai menu sarapan, tentu ubi jalar atau jagung akhirnya cuma buat pangan ternak.

Empat aspek ketahanan pangan yaitu ketersediaan, kestabilan tersedianya pangan, akses dan pemanfaatan pangan amat memengaruhi pangan keluarga Indonesia.

Apabila keempat hal tersebut lebih banyak dipenuhi produk impor ketimbang panen lokal, habislah sudah kedaulatan pangan kita.

Di saat yang sama runtuh pula karakter, kepribadian bangsa yang mestinya tecermin dari asupan pangan keluarga.

Yang paling konyol dan menyeramkan adalah apabila suatu hari pangan lokal kita justru lebih dihargai bangsa asing, dan menjadi penyumbang meningkatnya derajat kesehatan mereka, karena bahan utuh yang masih kaya nutrisi dikonsumsi sebagai kemewahan.

Sementara kita bangga dengan produk kemasan – yang ironisnya justru dibela oleh ‘pakar’ yang hanya melihat kepentingan di satu sisi, mengambil jurnal referensi dari luar negri, termakan bias yang sengaja dibenturkan dengan (lagi-lagi) masalah ekonomi.

Sumber pangan negri terpuruk miskin studi, yang membela pangan lokal dituding memberi edukasi ngadi-ngadi.

https://lifestyle.kompas.com/read/2022/06/30/090500420/pangan-keluarga-cermin-kedaulatan-pangan-negara

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.