Tidur yang Sehat, Dengan Lampu Menyala atau Mati? - Kompas.com

Tidur yang Sehat, Dengan Lampu Menyala atau Mati?

Kompas.com - 15/05/2018, 21:21 WIB
Ilustrasi tidurAnaBGD Ilustrasi tidur

KOMPAS.com - Tidur merupakan salah satu aktivitas yang wajib kita lakukan dan dengan waktu yang tepat.

Orang dewasa membutuhkan 7-8 jam untuk tidur, sedangkan anak-anak dan remaja membutuhkan waktu kurang lebih 10 jam.

Melewatkan waktu tidur tentu tidak baik untuk tubuh dan dapat merusak sistem sirkulasi pencernaan pada tubuh. Tidak hanya itu, penerangan saat tidur pun akan berakibat buruk pada kesehatan.

Jadi, bagaimana sebaiknya tidur? Dengan lampu menyala atau mati?

Pentingnya tidur tanpa menggunakan lampu sekecil apapun cahayanya telah diteliti oleh para ahli.

Menurut Joyce Walsleben, PhD., anggota asosiasi dosen di New York University School of Medicine, meskipun kita tertidur, cahaya tetap dapat terdeteksi oleh kelopak mata dan otak kita tidak akan memproduksi melatonin.

Walsleben juga berkata bahwa kita membutuhkan kegelapan dalam kamar segelap yang masih bisa kita hadapi tanpa menyandung sesuatu (masih bisa mendeteksi keberadaan benda-benda).

Apa dampaknya jika kita tidur dengan lampu menyala?

1. Meningkatkan kemungkinan terkena kanker

Cahaya lampu di malam hari merupakan faktor risiko yang signifikan untuk mengembangkan kanker payudara, menurut para peneliti yang mengkaji data dari 1.679 perempuan dan menerbitkan hasil penelitian mereka di Chronobiology International.

Namun ilmuwan lain berpendapat bahwa setiap gangguan pada ritme sirkadian dapat memicu pelepasan hormon stress dan inilah yang dapat meningkatkan risiko kanker.

Baca juga: Perempuan yang Bekerja Malam Lebih Berisiko Terkena Kanker

2. Cahaya buatan membuat badan gemuk

Sirkulasi tubuh 24 jam kita mengontrol beberapa hormon seperti, ghrelin, insulin dan serotonin yang berpengaruh kepada nafsu makan, penyimpanan lemak, dan mood.

Oleh karena itu, hal-hal yang mengganggu sirkulasi bisa menyebabkan kegemukan, diabetes tipe 2, dan depresi. Bahkan, dokter dan ilmuwan juga menjadi khawatir akan penemuan kasus ini oleh American Medical Association.

Baca juga: Jangan Biarkan Lampu Menyala dalam Kamar Tidur

Ilustrasi mematikan lampuArt-Of-Photo Ilustrasi mematikan lampu
3. Menyebabkan insomnia

Beberapa ahli percaya bahwa menyalakan lampu pada malam hari dapat menyebabkan efek biologis.

Sebuah studi di Harvard menemukan bahwa pencahayaan lampu kamar pada larut malam yang berasal dari lampu pijar dapat mengurangi tingkat melatonin, sehingga kita menjadi sulit tertidur.

Bukan hanya lampu yang di atas kepala kita saja yang membahayakan, namun seluruh tingkat pencahayaan yang dapat ditemukan di rumah pada malam hari seperti layar komputer, televisi, dan ponsel dapat menekan sekresi melatonin.

Pada tahun 2011 lalu, sebuah studi menyebutkann bahwa pencahayaan yang dihasilkan oleh layar komputer 5 jam sebelum tidur dapat memengaruhi ritme sirkadian dengan menunda pelepasan melatonin.

Baca juga: Cara Tak Terduga Mengatasi Insomnia

4. Mempengaruhi menstruasi

Penelitian melapokan bahwa rotasi shift pekerja, mengakibatkan naiknya tingkat pencahayaan pada malam hari, dan mempengaruhi siklus menstruasi pekerja wanita.

Penelitian tersebut melibatkan 71.077 wanita yang berpartisipasi dalam Nurse Health Study II. Sekitar satu dari lima partisipan bekerja pada shift malam selama paling tidak 1 bulan dalam 2 tahun sebelum studi tersebut diselenggarakan.

Semakin banyak waktu shift kerja yang dihabiskan, semakin tidak teratur siklus menstruasi mereka.

Baca juga: 5 Tips Dekorasi Kamar Tidur untuk Kamar Sehat dan Nyaman

5. Menyebabkan depresi

Gangguan tidur sangat terkait dengan risiko depresi dan pengalaman depresi.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Molecular Psychiatry menunjukkan bahwa pencahayaan di malam hari, meskipun redup dan hanya setara dengan lampu tidur, dapat meningkatkan perubahan fisiologis seperti yang terjadi pada hewan pengerat.

Pada hamster, cahaya redup di malam hari memicu perilaku seperti depresi dan perubahan pada otak.

Hal ini dapat terjadi akibat ritme sirkadian yang terganggu dan juga penekanan melatonin, menurut Tracy Bedrosian, seorang kandidat PhD pada departemen ilmu saraf di The Ohio State University di Colombus.

Kabar baiknya adalah bahwa gejala akan menghilang ketika kondisi pencahayaan normal kembali.

Baca juga: Orang yang Rajin Bangun Pagi Lebih Panjang Umur


Sumber

Terkini Lainnya

7 Tips Berpakaian untuk Perempuan 'Size Plus'

7 Tips Berpakaian untuk Perempuan "Size Plus"

Look Good
5 Tanda Tak Sehat Penggunaan Instagram

5 Tanda Tak Sehat Penggunaan Instagram

Feel Good
Belajar dari Meghan Markle, Pahami Manfaat Yoga Saat Hamil

Belajar dari Meghan Markle, Pahami Manfaat Yoga Saat Hamil

Feel Good
Pangeran Harry Ungkap Ingin Bayi Laki-laki atau Perempuan

Pangeran Harry Ungkap Ingin Bayi Laki-laki atau Perempuan

Feel Good
David Beckham Akui Sulitnya Mempertahankan Rumah Tangga

David Beckham Akui Sulitnya Mempertahankan Rumah Tangga

Feel Good
Hindari 5 Kesalahan Umum Saat Mencuci 'Bra'

Hindari 5 Kesalahan Umum Saat Mencuci "Bra"

Look Good
Pengin Jadi Beauty Vlogger Sukses, Ini Tipsnya

Pengin Jadi Beauty Vlogger Sukses, Ini Tipsnya

BrandzView
Pangeran Harry Ungkap Perjuangannya Lawan Kesehatan Mental...

Pangeran Harry Ungkap Perjuangannya Lawan Kesehatan Mental...

Feel Good
Tips Relaksasi Setelah Hari Sibuk yang Panjang

Tips Relaksasi Setelah Hari Sibuk yang Panjang

Feel Good
Malas Olahraga Lebih Berbahaya daripada Merokok

Malas Olahraga Lebih Berbahaya daripada Merokok

Feel Good
5 Jenis Makanan yang Menjaga Umur Panjang

5 Jenis Makanan yang Menjaga Umur Panjang

Eat Good
Yuk, Bakar Kalori Lebih Banyak dengan 8 Kebiasaan Ini...

Yuk, Bakar Kalori Lebih Banyak dengan 8 Kebiasaan Ini...

Feel Good
Curhat Meghan Hidup Tanpa Media Sosial

Curhat Meghan Hidup Tanpa Media Sosial

Feel Good
Simak, 12 Tips 'Sederhana' demi Perut Rata

Simak, 12 Tips "Sederhana" demi Perut Rata

Feel Good
Pola Diet saat Sedang 'Cuti' Olahraga

Pola Diet saat Sedang "Cuti" Olahraga

Eat Good

Close Ads X