Persahabatan Membuat Orang Merespons Sesuatu Secara Seragam - Kompas.com

Persahabatan Membuat Orang Merespons Sesuatu Secara Seragam

Kompas.com - 16/05/2018, 16:16 WIB
Ilustrasi persahabatanDigital Vision. Ilustrasi persahabatan

KOMPAS.com - Kita cenderung seragam dan sependapat dengan sahabat kita dalam berbagai hal. Ini sudah disadari bahkan oleh Aristotle ribuan tahun lalu.

Para ilmuwan juga mengungkap bahwa seseorang cenderung berteman dengan orang-orang yang memiliki kesamaan, misalnya dari faktor gender, usia, etnis, dan lainnya.

Namun, betapa seragamnya seseorang dengan sahabatnya adalah fakta yang selalu mengejutkan. Bahkan sebuah penelitian menemukan bahwa seseorang dengan sahabatnya memiliki level genetik yang sama seperti sepupu.

Hal menarik lainnya adalah seseorang dan sahabatnya bahkan cenderung memproses segala sesuatu di dunia secara seragam.

Salah satu laporan yang dipublikasikan Nature Communication belum lama ini mengungkap bahwa seseorang dan sahabatnya memiliki respons neural yang sama terhadap sebuah film.

Dengan kata lain, para ilmuwan bisa menebak mana partisipan yang sepasang sahabat dan bukan.

Semakin jauh hubungan sosial seseorang dengan orang lainnya, maka makin sedikit juga kesamaan respons otak mereka.

Baca juga: Mengapa Pria Butuh Sahabat Dekat

Para ilmuwan menyimpulkan, kita seringkali memiliki pemikiran dan reaksi sama dengan sahabat-sahabat kita dalam hal merespons segala hal di sekitar kita.

Studi tersebut dilakukan oleh Carolyn Parkinson, seorang pakar ilmu saraf di University of California, Los Angeles bersama rekannya Adam Kleinbaum dan Thalia Wheatley dari Dartmouth College.

Pertama, mereka menganalisa jejaring sosial 279 orang dari graduate school program untuk menjelaskan hubungan mereka dengan setiap orang.

Ini kemudian akan menjelaskan siapa adalah sahabat siapa, hingga siapa berada di kelompok mana.

Kemudian, mereka menempatkan 42 anggota ke dalam grup yang lebih besar pada mesin Functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI).

Selama studi tersebut, partisipan menonton sebuah video. Video tersebut didesain untuk menangkap dan membangkitkan berbagai respons. Sebab, respons setiap orang bisa berbeda-beda.

Baca juga: Riset Ungkap Berapa Lama Sebuah Persahabatan Bisa Terbangun

Untuk kebutuhan riset, para ilmuwan mulai membagi otak ke dalam 80 area ketertarikan yang berbeda. Misalnya, amygdala yang menunjukkan respons ancaman dan emosi.

Mereka kemudian menganalisa respons dari setiap area selama para partisipan menyaksikan video.

"Kami menemukan setiap orang memiliki respons yang korelatif dengan sahabatnya dan melihat otak mereka merespons secara seragam," kata Parkinson.

Ia terkejut dengan efek yang begitu dramatis. Kesamaan tersebut menurutnya sangat lah kuat.

"Sahabatmu cenderung memberikan perhatian yang sama denganmu terhadap video tersebut," ujarnya.

Setelah mengetahui studi tersebut berhasil, para ilmuwan menyasar hal yang lebih besar. Mana yang datang lebih dulu, apakah respons otak yang sama membuat mereka menjadi sahabat? Atau banyaknya waktu yang dihabiskan bersama yang membuat seseorang sama dengan sahabatnya?

Parkinson kemudian melakukan studi lain untuk menjawab pertanyaan itu. Mereka merekrut kelompok orang dari program tertentu dan meneliti otak masing-masing sebelum mereka mengenal murid-murid lainnya dari program yang sama.

Beberapa bulan setelahnya, penelitian tersebut akan kembali dilakukan untuk meneliti perubahan apa yang terjadi ketika mereka sudah berteman.

Namun, Parkinson belum bisa menyimpulkan lebih jauh sebelum studi ini dirampungkan.

Meski begitu, ia berspekulasi bahwa ada keuntungan tertentu yang membuat kita bisa akrab dengan seseorang dan menjadi sahabatnya. 

"Misalnya, sama-sama memiliki tujuan tertentu dan itu bisa membangun keakraban, empati dan aksi lainnya. Ini sangat menarik, ada tendensi kita dikelilingi orang-orang yang saling seragam," ujarnya.



Close Ads X