Karim Raslan
Pengamat ASEAN

Karim Raslan adalah kolumnis dan pengamat ASEAN. Dia telah menulis berbagai topik sejak 20 tahun silam. Kolomnya  CERITALAH, sudah dibukukan dalam "Ceritalah Malaysia" dan "Ceritalah Indonesia". Kini, kolom barunya CERITALAH ASEAN, akan terbit di Kompas.com setiap Kamis. Sebuah seri perjalanannya di Asia Tenggara mengeksplorasi topik yang lebih dari tema politik, mulai film, hiburan, gayahidup melalui esai khas Ceritalah. Ikuti Twitter dan Instagramnya di @fromKMR

Apakah Facebook di Ambang Kematian?

Kompas.com - 25/01/2019, 19:25 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Ketika saya berjumpa dengan sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada di pusat kebudayaan Indonesia, Yogyakarta, pada Desember lalu, mereka bercerita startup Mark Zuckenberg ini sudah menunjukkan tanda-tanda keredupan yang nyata.

Rully Satria, seorang mahasiswa 20 tahun dari Padang, menilai Facebook sudah ketinggalan zaman. “Saya sudah jarang membuka Facebook. Kalaupun buka Facebook, itu hanya untuk cek kabar keluarga,” katanya.

Sekitar 50 persen pengguna internet di Indonesia berasal dari pengguna berusia 19 hingga 34 tahun. Sebagian besar milenial, sepeti Rully, tumbuh dewasa bersama dengan perkembangan internet.

Baca juga: Facebook Gratiskan Teknologi Upload Foto HD dengan Bandwidth Minim

 

Namun demikian, pada 2018 jumlah pengguna baru terbanyak Facebook berasal dari pengguna berusia 45 hingga 55 tahun. Ini menunjukkan Facebook kini telah menjadi media sosial bagi orang tua dan kakek-nenek para milenial.

“Hanya orangtua, paman dan tante saja yang masih menggunakannya”, tambah Rully.

Facebook pada dasarnya adalah platform situs web yang dibuat untuk diakses pengguna dari dekstop atau komputer. Aplikasi-aplikasi media sosial baru cenderung dibuat eksklusif untuk ponsel pintar (smartphone), yang penggunaanya lebih kompleks.

Kompleksitas ponsel pintar ini kemudian memberi para millennial “keamanan” yang lebih terjamin.

Facebook pernah menjadi wadah untuk menyuarakan pendapat. Namun aksi intervensi pemerintah dan militer belakangan ini justru sering menjadikan Facebook sebagai tempat pelanggaran hak asasi manusia.

Di Vietnam, pelarangan konten bernada anti-pemerintah telah membungkam para aktivis dan praktik kebebasan berpendapat. Sementara militer Myanmar, Tatmaddaw, telah menggunakan akun palsu Facebook untuk menyebarkan konten berkaitan dengan genosida terhadap umat Muslim Rohingya.

Di zaman digital ini, keamanan identitas menjadi prioritas untuk banyak pengguna internet. Laporan keterlibatan Facebook dalam kontroversi Cambridge Analytica telah menodai citra perusahaan ini di mata publik.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.