Kompas.com - 26/04/2019, 15:18 WIB
Ilustrasi depresi tuaindeedIlustrasi depresi

KOMPAS.com - Kecemasan bukan hal remeh dan harus segera ditangani. Menurut data Institut Kesehatan Mental Nasional Amerika Serikat, nyaris sepertiga dari populasi AS mengalami kecemasan.

Jajak pendapat American Psychological Association pun membuktikan hampir 40 persen orang AS merasa lebih cemas di tahun 2018, daripada tahun sebelumnya.

Demi mengantisipasi kecemasan hadir dalam hidup kita, berikut cara jitu untuk mengatasinya.

1. "Saya bahagia"

Jika perasaan mulai gelisah, mengatakan "saya tenang" pada diri sendiri tak akan memberi manfaat.

Sebaiknya, beri sugesti kepada diri dengan mengatakan "saya bahagia" agar kita bisa menghadapi situasi yang membuat stres.

Penelitian dari Harvard menemukan orang memiliki kinerja lebih baik dalam berbicara di depan umum dan bidang matematika, ketika berbicara tentang kegembiraan kepada diri sendiri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Demi Ketenangan Batin, Meghan Markle Hindari Koran dan Twitter

Peserta dalam riset mengatakan "saya senang" sebelum berbicara di depan umum dan mengatakan "ayo semangat" sebelum mengerjakan soal matematika.

Teknik ini bahkan membuat orang lebih baik saat bernyanyi.

Riset membuktikan, orang yang semangat memiliki nada, ritme, dan volume yang lebih baik daripada mereka yang diminta untuk mengatakan dirinya dalam keadan cemas, tenang, marah atau sedih.

2. Melakukan aktivitas fisik

Olahraga diklaim dapat menghilangkan kecemasan. Namun, banyak orang yang tidak menyadari manfaat ini.

Menurut Pedoman Aktivitas Fisik pemerintah AS, satu sesi aktivitas fisik sedang hingga berat dapat mengurangi gejala kecemasan jangka pendek.

Latihan fisik secara teratur juga dapat mengurangi kecemasan jangka panjang.

3. Terapi dengan tangki float

Menurut riset 2018 yang diterbitkan dalam PLoSOne, terapi dengan tangki float yang diisi air atau larutan garam epsom dapat mengurangi kecemasan.

Pada dasarnya, praktik tersebut menuntut kita untuk berbaring sendirian di lingkungan yang gelap tanpa stimulasi sensorik biasa, atau gravitasi yang membombardir dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Mengenali 9 Kondisi Kecemasan akibat Media Sosial

4. Relaksasi dengan ekstrak chamomile

Ini adalah obat klasik untuk kegelisahan dan telah terbukti secara ilmiah.

Riset yang dilakukan peneliti dari University of Pennsylvania dan Memorial Sloan-Kettering Cancer Center mendapatkan temuan tentang ini.

Disebutkan, orang-orang dengan gangguan kecemasan umum memiliki lebih sedikit gejala setelah mengambil ekstrak chamomile setiap hari selama delapan minggu.

Meski demikian, belum ada banyak penelitian tentang efek anti kecemasan dengan mengonsumsi teh chamomile.

Selain itu, orang yang alergi terhadap ragweed, krisan, marigold, atau aster mungkin juga alergi terhadap chamomile.

Menurut National Center for Complementary and Integrative Health, obat-obatan alami atau herbal terkadang juga bisa berinteraksi dengan jenis obat-obatan tertentu.

5. Lebih dekat dengan alam

Satu penelitian dari Wisconsin menemukan, orang yang tinggal di lingkungan yang ditanami kurang dari 10 persen pepohonan cenderung mengalami kecemasan, stres, dan depresi.

Tapi, kita tidak harus pindah rumah untuk menghindari masalah mental.

Penelitian lain dari Stanford University dan UCSF menemukan juga membuktikan hal serupa.

Menurut riset, orang yang melakukan jalan kaki selama 50 menit di lingkungan alam mengalami penurunan kecemasan dibandingkan dengan orang yang melakukan jalan kaki serupa di lingkungan perkotaan.

Baca juga: Mencoba Trik Pernafasan 4-7-8 Biar Cepat Tidur

6. Bernapas dalam

Tahun 1970an ilmuwan dari Harvard bernama Herbert Benson membuktikan, melakukan pernapasan diafragma yang dalam sangat berguna untuk meredam kecemasan.

Teknik ini masih berfungsi hingga saat ini.

Beberapa praktisi yoga dan ahli kesehatan lainnya merekomendasikan teknik pernapasan ini untuk mengobati masalah kecemasan.

Dasar dari semuanya adalah pernapasan diafragma.

Kita merasakan pernapasan dasar, di mana diafragma adalah tempat udara yang kita hirup bisa terasa alirannya bergerak masuk dan keluar, bukan merasakan dada yang naik dan turun.

7. Lakukan mindfulness

Riset 2010 membuktikan mafaat mindfulness untuk mengatasi kecemasan.

John Kabat-Zinn, seorang mantan profesor dari University of Massachusetts, menemukan meditasi berbasis mindfulness dapat mengurangi gejala kecemasan.

Riset ini juga membuktikan berbagai bentuk meditasi lainnya, termasuk meditasi transendental, juga memiliki manfaat serupa.

Melakukan praktik mindfulness hanya dalam waktu 60 detik pun juga memberi kita manfaat yang efektif.

Baca juga: Terungkap, Latihan Mindfulness Mampu Ubah Ekspresi Gen

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber menshealth
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.