Anak yang Dibesarkan oleh Ibu yang Doyan Mengomel Lebih Sukses?

Kompas.com - 24/06/2019, 15:11 WIB
Ilustrasi orangtua yang menyiapkan makanan bersama anak.ThinkStock/Wavebreakmedia Ltd Ilustrasi orangtua yang menyiapkan makanan bersama anak.

KOMPAS.com - Mengomel merupakan reaksi umum orangtua karena kesal ketika perintahnya tidak dituruti oleh anak. Terkadang, saat ingin menyampaikan nasihat-nasihatnya, orangtua melakukannya sambil mengomel panjang lebar.

Mendapat omelan tentu tidak menyenangkan, namun ternyata omelan tersebut bermanfaat bagi kesuksesan seorang anak.

Menurut sebuah studi, anak perempuan yang lahir dari seorang ibu yang cerewet dalam menyampaikan nasihatnya berpeluang besar untuk sukses.

Riset dilakukan oleh ilmuwan dari University of Essex dengan melacak pengalaman 15.000 gadis berusia 13 hingga 14 tahun di Inggris selama periode enam tahun.

Hasil riset membuktikan, orangtua yang memiliki ekspetasi tinggi pada buah hatinya membuat sang anak memiliki peluang besar untuk sukses.

Faktanya, ketika orangtua - biasanya sang ibu - menetapkan standar yang tinggi untuk pendidikan anak perempuan mereka, anak-anak itu lebih berpendidikan baik, memiliki pekerjaan dengan gaji memuaskan, dan terhindar dari kehamilan di masa remaja.

Menurut peneliti, mengomunikasikan harapan yang tinggi kepada anak akan membuat mereka merasa lebih bisa memenuhi standar itu. Walau komunikasi itu sering dianggap anak sebagai omelan.

Di sisi lain, jika tidak ada orangtua yang memperhatikan kinerja mereka, semangat mereka cenderung menurun.

“Dalam banyak kasus, kita akan sukses melakukan apa yang diyakini lebih nyaman bagi kita, bahkan ketika ini bertentangan dengan kehendak orangtua,” kata Dr. Ericka Rascon-Ramirez, selaku peneliti.

Tetapi, tak peduli seberapa keras kita berusaha menghindari nasihat orangtua kita, kemungkinan mereka akhirnya berhasil mempengaruhi, dengan cara yang lebih halus, pilihan-pilihan yang kita anggap sangat pribadi.

Penelitian lain di Pediatrics menemukan hasil yang serupa, meskipun tidak spesifik. Disebutkan bahwa berbagai faktor, termasuk harapan orangtua, mempengaruhi tingkat keberhasilan anak.

Dari studi tersebut, peneliti menemukan 96 persen siswa dengan nilai tinggi memiliki orangtua yang mengharapkan mereka untuk kuliah.

Halaman Berikutnya
Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X