Mengenal Gangguan Kesuburan yang Ditandai Haid Tak Teratur

Kompas.com - 27/06/2019, 15:04 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Gangguan ovulasi menjadi penyebab umum gangguan kesuburan wanita. Sebagian besar masalah tersebut disebabkan karena kondisi yang disebut sindrom ovarium polikistik atau PCOS.

Proses kehamilan tergantung pada ovulasi yang terjadi ketika tubuh wanita melepaskan sel telur dari salah satu ovariumnya untuk dibuahi. Ketika wanita mengalami PCOS, ovulasi bisa tidak terjadi karena sel telurnya tidak bisa matang sehingga tidak terjadi pembuahan.

PCOS terjadi karena ketidakseimbangan hormon. Namun, penyebab pastinya belum diketahui.

Biasanya, hormon yang dilepaskan di otak mengontrol proses ovulasi, mengatur pertumbuhan sel telur dan memicu ovarium ketika saatnya untuk melepas sel telur.

Jika kadar hormon-hormon ini berubah, ovarium mengalami kesulitan mengembangkan dan mengeluarkan sel telur yang sepenuhnya matang.

Wanita dengan masalah ovulasi biasanya memiliki pola menstruasi tidak teratur atau siklus haid yang berlangsung lebih dari 35 hari.

Baca juga: Melihat Perubahan Fase Menstruasi Seiring Bertambahnya Usia

Wanita yang memiliki PCOS, setidaknya mengalami dua hal dari gejala umum di bawah ini:

  • Ovulasi atau haid yang tidak teratur, jarang atau tidak terjadi sama sekali.
  • Tes laboratorium menunjukkan peningkatan kadar androgen, hormon yang merupakan prekursor hormon estrogen wanita, atau gejala klinis kadar androgen tinggi, seperti bulu-bulu berlebih atau jerawatan.
  • Pemindaian ultrasonografi menunjukkan bukti adanya kista di ovarium.

Kabar baiknya, obat-obatan oral yang relatif murah dapat secara efektif mengobati PCOS. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Marjan Attaran, mengatakan ada perawatan khusus yang bisa dilakukan untuk mengatasi PCOS.

Dengan pengobatan yang tepat, kemungkinan penderita PCOS kembali bisa berovulasi sebesar 85 persen, dan 40 persen di antaranya bisa mendapatkan keturunan.

Obat-obatan yang dikonsumsi biasanya disesuaikan oleh tingkat hormon yang mengatur ovulasi.

Baca juga: Jangan Percaya Mitos, Ada 5 Tanda untuk Ketahui Kehamilan

"Efek samping yang ringan dan umum dari konsumsi obat tersebut antara lain rasa panas yang tiba-tiba datang, perubahan suasana hati, ketidaknyamanan panggul dan nyeri pada payudara," kata Dr. Attaran.

Dokter biasanya tidak meresepkan obat selama lebih dari enam bulan karena efektivitasnya menurun seiring waktu.

Wanita penderita PCOS yang masih belum bisa memiliki keturunan meski telah menggunakan salah satu obat bisa menggunakan alternatif pengobatan lainnya.

Pengobatan tersebut bisa berupa suntikan hormon, operasi invasif minimal untuk merangsang ovulasi, dan fertilisasi in vitro.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X