Kompas.com - 12/08/2019, 09:38 WIB
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - “Suplemen ini kaya dengan antioksidan, yang dapat menangkal radikal bebas dan mencegah penuaan dini!”

Kalimat promosi tersebut mungkin sangat sering kita dengar, baik di iklan televisi, iklan radio, maupun promosi di media sosial. Hal ini tak salah. Sebab, radikal bebas memang berbahaya untuk tubuh, jika jumlahnya terlalu banyak.

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan radikal bebas? Mengapa radikal bebas berlebihan dapat berdampak buruk untuk kesehatan?

Untuk memahami definisi radikal bebas, ada baiknya kita mengetahui struktur kimia. Sebab, struktur kimia berkaitan dengan radikal bebas dan semua zat yang ada di semesta.

Setiap zat di alam tersusun atas saturan dasar terkecil, yang disebut dengan atom. Setiap atom memiliki inti yang dikelilingi oleh elektron bermuatan negatif. Kulit atom harus dikelilingi oleh sejumlah elektron yang berpasangan, agar atom tersebut stabil.

Apabila terjadi ketidakseimbangan pasangan elektron di kulit atom, maka atom tersebut akan menjadi tidak stabil dan mencari elektron dari atom lain. Atom inilah yang disebut dengan radikal bebas.

Radikal bebas yang terlalu banyak di dalam tubuh, dapat memicu kondisi yang disebut dengan stres oksidatif. Stres oksidatif dapat merusak sel-sel di tubuh, dan berujung pada berbagai penyakit, serta menjadi penyebab penuaan.

Darimana radikal bebas berasal?

Selain dihasilkan oleh tubuh secara alami, radikal bebas pun bisa berasal dari luar tubuh. Produksi radikal bebas di tubuh ini, tentunya bukan tanpa manfaat.

Dalam jumlah yang normal, radikal bebas memang memiliki manfaat tertentu. Misalnya, sistem kekebalan tubuh menggunakan radikal bebas untuk melawan infeksi.

Selain itu, kita juga bisa terpapar radikal bebas yang berasal dari luar tubuh. Beberapa pemicunya antara lain:

  • Asap rokok
  • Pestisida dan zat kimia berbahaya lain
  • Radiasi sinar matahari
  • Gas radon
  • Alkohol
  • Makanan yang digoreng, gula, dan lemak yang terlalu tinggi

Bahaya radikal bebas

Ilustrasi stres oksidasishutterstock Ilustrasi stres oksidasi
Radikal bebas dalam jumlah banyak dapat merusak sel, melalui proses stres oksidatif. Kerusakan tersebut membuat sel tidak berfungsi dengan baik, sehingga dapat berujung pada beragam penyakit dan gangguan medis.

Beberapa penyakit yang berkaitan dengan stres oksidatif dan radikal bebas, yakni:

  • Gangguan sistem saraf pusat, seperti penyakit Alzheimer dan jenis demensia lain
  • Penyakit jantung karena tersumbatnya pembuluh darah
  • Penyakit autoimun, seperti rheumatoid artritis
  • Kanker
  • Penurunan kemampuan penglihatan, seperti penyakit katarak
  • Penyakit diabetes
  • Penyakit yang mengiringi proses penuaan, seperti penyakit Huntington dan Parkinson.
  • Aterosklerosis, atau penyempitan pembuluh darah arteri akibat penyumbatan plak
  • Tekanan darah tinggi

Selain dapat memicu berbagai penyakit di atas, radikal bebas juga berkontribusi terhadap penuaan kulit. Paparan radikal bebas membuat kolagen menjadi lemah, sehingga membentuk keriput di kulit.

Tak heran, banyak iklan produk atau suplemen kecantikan yang mengklaim dapat menangkal radikal bebas serta mencegah penuaan dini.

Radikal bebas dan antioksidan

ilustrasi antioksidanshutterstock ilustrasi antioksidan
Untuk melawan radikal bebas yang berlebihan tersebut, ada molekul yang dapat menetralkannya. Molekul ini lah yang disebut dengan molekul antioksidan.

Istilah antioksidan pun sering disebut-sebut dalam berbagai iklan produk kecantikan. Antioksidan merujuk pada sifat molekul, yang dapat menangkal radikal bebas.

Seperti halnya radikal bebas, molekul antioksidan juga ada yang berasal dari tubuh, dan ada pula yang muncul dari luar.

Molekul antioksidan dari luar tubuh, berasal dari makanan-makanan sehat. Ada banyak jenis molekul antioksidan, yang tersebar di berbagai makanan tersebut. Beberapa yang mungkin familiar, misalnya vitamin A, vitamin C, dan vitamin E.

Masing-masing molekul antioksidan memiliki manfaat tersendiri, yang tak bisa ditukar dengan molekul lain. Sehingga, kita sangat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan sehat yang bervariasi.

Kelompok-kelompok makanan yang kaya dengan molekul antioksidan, tentunya adalah sayur-sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, bawang putih dan kayu manis, serta teh hijau.

Kita juga bisa mengoptimalkan fungsi antioksidan tersebut, dengan menjalani gaya hidup sehat. Gaya hidup sehat yang dimaksud, misalnya:

  • Menggunakan tabir surya, yang dapat menangkal UVA dan UVB (broad spectrum)
  • Menghindari rokok dan paparan asap rokok
  • Mengurangi konsumsi alkohol
  • Berolahraga dan melakukan aktivitas fisik lainnya
  • Menghindari paparan gas atau zat kimia berbahaya
  • Tidur dan istirahat yang cukup

Walau begitu, konsumsi antioksidan berlebih juga tidak disarankan, karena malah dapat menjadi bumerang untuk tubuh. Sehingga, jika tidak ada keadaan yang memaksa, hindarilah konsumsi suplemen antioksidan dengan dosis yang tinggi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.