BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Verde Two

Waspada Bahaya Polutan Udara di Dalam Ruangan

Kompas.com - 10/09/2019, 09:59 WIB
Ilustrasi polusi udara dalam ruangan SHUTTERSTOCKIlustrasi polusi udara dalam ruangan

KOMPAS.com – Langit Jakarta, Kamis (25/7/2019) pagi tak secerah biasanya. Hari itu, pukul 08.00 WIB, langit tampak mendung dengan lapisan kelabu menggantung di langit.

Sekalangan orang mengira pagi itu, cuaca sedang mendung dan akan turun hujan. Akan tetapi, setelah ditelisik lebih jauh, ternyata langit kelabu disebabkan oleh polusi udara yang sangat buruk.

Situs penyedia peta polusi udara online, AirVisual menunjukkan, pagi itu Jakarta memiliki nilai indeks kualitas udara (AQI) 240 atau masuk kategori sangat tidak sehat.

Dalam level AQI, kualitas udara baik berada di angka 0-50, udara sangat tidak sehat di angka 201-250 dan kategori berbahaya, yakni 251-300.

Melansir artikel Kompas.com, Kamis (25/7/2019), kualitas udara sejak tengah malam hingga pagi hari di Jakarta biasanya memang tidak sehat. Kualitasnya baru akan membaik menjelang siang atau mulai pukul 10.00 pagi.

Baca juga: Kualitas Udara Jakarta Sangat Buruk Sejak Tengah Malam hingga Pagi Ini

Kualitas udara buruk itu ternyata berdampak pada tubuh, sehingga lebih rentan terkena gangguan kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, bersin, batuk berkepanjangan, hingga pneumonia atau paru-paru basah.

Udara di ruangan tak luput dari polusi

Karena udara di luar ruangan yang tidak sehat itu, sebagian orang lebih memilih untuk tinggal dan menghabiskan waktunya dalam ruangan. Namun, ternyata kualitas udara di dalam ruangan pun tidak sepenuhnya baik dan bebas dari polusi.

Studi dari Environmental Protection Agency (EPA) membuktikan, level polutan di dalam ruangan 2-5 kali lebih tinggi dari polutan di luar ruangan. Bahkan terkadang bisa 100 kali lebih tinggi, seperti dilansir dari Kompas.com, Selasa (7/10/2019).

Baca juga: Awas... Polusi Udara di Ruangan Lima Kali Lebih Berbahaya!

Penyebab utama masalah kualitas udara di dalam rumah adalah sumber polutan yang melepas gas atau partikel ke udara. Beberapa contoh sumber polutan yakni, asap rokok, material bangunan, hingga perabot rumah tangga.

Berangkat dari situ, masyarakat yang hidup di kota besar seperti Jakarta membutuhkan sistem ventilasi agar terjadi pertukaran antara udara dalam ruangan dengan udara luar ruangan.

Ilustrasi kemacetan JakartaSHUTTERSTOCK Ilustrasi kemacetan Jakarta

Sayangnya, lubang tempat pertukaran udara itu pun bisa menjadi pintu masuk polusi dari luar ruangan. Karena itu, kegiatan membuka jendela di pagi hari agar udara sehat dan bersih bisa masuk ke dalam rumah menjadi tidak relevan. Pasalnya, saat ini udara pagi hari sudah tidak terjamin lagi kualitasnya.

Lalu, bagaimana agar ruangan bisa mendapat udara bersih?

Penggunaan kipas angin atau penjernih udara (air purifier) dapat menjadi solusi jangka pendek untuk menjaga kualitas udara di ruangan. Namun demikian, jika ruangan selalu dalam kondisi tertutup, udara yang diputar dalam ruangan akan itu-itu saja.

Pilihan lainnya adalah tinggal di ruangan atau rumah dengan memiliki sistem sirkulasi udara baik, seperti apartemen premium Verde Two Monteverde Tower.

Apartemen di kawasan Kuningan Central Business District (CBD), Jakarta tersebut dilengkapi dengan sistem filtrasi ganda pertama di Indonesia, yang dapat mengalirkan udara bersih ke dalam ruangan.

Teknologi bernama High Indoor Air Quality dari Jepang itu mampu menyaring debu dan partikel halus polutan yang lebih kecil, seperti PM2.5 (Particular Matter 2.5), secara efektif.

PM2.5 merupakan partikel udara berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron (micrometer) atau 1/30 diameter sehelai rambut manusia.

Ruang tengah Verde Two Monteverde TowerDok. Verde Two Ruang tengah Verde Two Monteverde Tower

Saking kecilnya, partikel tersebut bisa dengan mudah menembus masker yang biasa dipakai sehari-hari, sehingga langsung masuk ke dalam tubuh dan mengendap di aliran darah manusia.

Menurut EPA, PM2.5 dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan . Salah satunya, memicu timbulnya gejala pada penderita alergi. Pasalnya, alergen atau hal-hal pemicu reaksi alergi ini biasanya terdapat di udara kotor.

Jika terhirup, udara kotor itu akan memicu tubuh untuk mengeluarkan antibodi ,yang menyebabkan terjadinya gejala alergi, seperti bersin, hidung tersumbat, dan batuk.

Di Verde Two Monteverde Tower, setiap unit apartemen seluas 230 meter persegi itu, dipasang sistem filtrasi ganda untuk menyaring PM2.5 dan menyirkulasikan udara bersih ke dalam ruangan setiap saat.

Tak hanya itu, teknologi filtrasinya dapat menghasilkan suhu udara lebih nyaman, mencegah jamur dan kondensasi, hingga mengurangi bau apek.

Teknologi itu diharapkan dapat menjadi solusi dari kebutuhan Anda untuk hunian sehat di tengah kota yang dapat mengatasi permasalahan polusi udara.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya