DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum
Dokter

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.

Ketika Tips Kesehatan Berujung Pembodohan

Kompas.com - 30/09/2019, 17:12 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

 

Kekonyolan makin diperparah saat orang-orang yang tidak punya kompetensi, mulai menambah bumbu penistaan dengan berkomentar miring.

Ibarat tukang jahit mengomentari teknik membuat kari ayam yang benar.

Tidak kalah hebohnya di dunia nutrisi. Lahan subur menuai untung hanya dengan menyewa satu-dua selebrita dan jadilah serbuk ajaib, dibilang minuman bernutrisi mencegah penuaan dini.

Atau jika ada jurnalis iseng, membuka laman-laman kesehatan media online negri seberang, dan tak sengaja membaca rempah-rempah anti diabetes atau rematik, maka saat diketik dalam bahasa Indonesia dan diviralkan, muncullah kepercayaan baru tentang ilmu pengobatan. Yang paling sering ‘dicaplok’ biasanya aliran pengobatan India, Ayurveda.

Tanpa tata laksana yang jelas seperti ilmu aslinya, terbayang berapa banyak orang penderita diabetes tiba-tiba pindah haluan mengobati dirinya sendiri dengan bubuk kayu manis. Sementara, pola makannya masih acakadul.

Baca juga: Teknologi: Kemajuan, Kebutuhan, Ketergantungan atau Versi Baru Penjajahan?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tren seperti ini menjadi masalah besar di Indonesia, saat literasi masih amat minim sementara pencari untung bukan main girasnya beriklan.

Di sisi lain, kecanggihan Google membuat orang yang pernah mengetik kata kunci penyakit tertentu akan membombardir ponselnya dengan berbagai ‘tambahan ilmu’ seputar kata kunci tersebut.

Sehingga, tidak heranlah orang yang pernah ketik dua kata ‘asam urat’ di ponselnya tahu-tahu selama seminggu berturut-turut semua informasi seputar asam urat berhamburan muncul: mulai dari tips makanan (dari yang bisa dianggap benar hingga yang ngawur sama sekali), tips olahraganya, tips jamunya, hingga ikon Youtube yang ketika diputar menayangkan dukun canggih menawarkan keampuhan teknik ‘terapi’nya.

Itu sebabnya, saya paling tidak bisa melayani keinginan jurnalis atau reporter yang membutuhkan ‘jawaban singkat dan tips praktis’ soal kesehatan apalagi makanan.

Karena tubuh manusia jauh lebih kompleks dari yang mereka pikirkan, karena kesehatan lebih mahal dari bualan yang kian memperparah pembodohan.

Baca juga: Teknologi Bisa Dipercepat, Sementara Kehidupan Harus Tetap Taat Kodrat

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.