Kompas.com - 21/10/2019, 18:20 WIB
Ilustrasi. shutterstockIlustrasi.

KOMPAS.com - Mimisan atau epistaksis terjadi karena adanya pendarahan di dalam selaput lendir hidung yang disebabkan oleh pembuluh darah yang rusak.

Sebagian besar mimisan pada anak-anak terjadi di bagian depan hidung dekat lubang hidung. Bagian hidung ini memang memiliki banyak pembuluh darah kecil.

Mimisan umum terjadi pada anak-anak berusia 3-10 tahun. Banyak faktor yang bisa menyebabkan mimisan, seperti udara kering, mengupil, membuang ingus terlalu kencang, adanya benda asing di dalam hidung, atau karena pilek dan alergi.

Penyebab lain mimisan

Jenis yang paling umum dari mimisan adalah mimisan anterior, yang berasal dari bagian depan hidung.

Kapiler, atau pembuluh darah yang sangat kecil, di dalam hidung bisa pecah dan berdarah, menyebabkan mimisan.

Sedangkan mimisan posterior berasal dari bagian terdalam dari hidung. Darah mengalir ke bagian belakang tenggorokan, bahkan jika orang tersebut duduk atau berdiri tegak.

Baca juga: Waspada, Gusi Berdarah Saat Sikat Gigi Tanda Masalah Serius

Anak-anak jarang mengalami mimisan posterior. Mimisan jenis ini lebih sering terjadi pada orang dewasa, penderita tekanan darah tinggi, dan mereka yang mengalami cedera di bagian dalam hidung atau wajahnya.

Alergi juga dapat menyebabkan mimisan ketika anak mengonsumsi obat seperti antihistamin atau dekongestan.

Pada beberapa orang, obat ini dapat mengeringkan selaput lendir di hidung, sehingga menyebabkan pendarahan minor.

Jika anak mengalami mimisan lebih dari sekali dalam seminggu, segera bawa ke dokter. Kadang-kadang pembuluh darah kecil di dalam hidung teriritasi sehingga berdarah.

Ini sering terjadi pada anak yang sedang sakit pilek atau alergi dan biasanya dokter akan dapat mengatasinya dengan segera.

Jika mimisan terjadi bukan karena infeksi sinus, alergi, iritasi pembuluh darah di hidung, dokter akan melakukan evaluasi lanjutan untuk mencari kemungkinan penyebabnya.

Baca juga: Waspada, Anak Usia Sekolah Rentan Sakit Demam Berdarah

Mimisan memang terlihat menakutkan bagi orangtua, tapi biasanya ini bukanlah masalah kesehatan yang serius.

Kebanyakan mimisan akan berhenti dengan sendirinya dan dapat dengan mudah diatasi di rumah.

Berikut ini langkah yang bisa dilakukan orangtua ketika anak mimisan, dengan catatan tidak ada gangguan kesehatan serius yang mendahului:

1. Tetap tenang dan minta anak untuk tenang juga.

2. Dudukkan anak di kursi atau di pangkuan dengan posisi tegak. Miringkan kepalanya sedikit ke depan.

3. Jangan biarkan anak bersandar, karena dapat menyebabkan darah mengalir ke bagian belakang tenggorokan sehingga menyebabkan tersedak, batuk, atau muntah.

4. Jangan biarkan anak meletakkan kepalanya di antara lutut, ini akan membuat perdarahan bertambah buruk.

5. Minta anak untuk bernapas melalui mulut.

5. Pencet bagian cuping hidung selama 10 menit. Jika Anda memencetnya terlalu sebentar, kemungkinan darah akan keluar lagi.

6. Beri kompres dingin di pangkal hidungnya.

7. Setelah perdarahan berhenti, beri tahu anak untuk tidak mengorek hidungnya dan membuang ingus terlalu kencang. Ini akan memerbaiki pembuluh darah yang rusak.

Baca juga: Psoriasis, Selebgram Olivia Lazuardy Bangun Tidur Berdarah-darah

Sebaiknya segera ke dokter jika anak:

1. Sering mimisan

2. Memasukkan sesuatu ke hidungnya dan orangtua tidak bisa mengeluarkannya.

3. Selain di hidung, ada pendarahan dari tempat lain seperti dari luka pada gusi.

4. Orangtua curiga mimisan karena efek samping obat atau terjadi setelah minum obat tertentu.

5. Darah yang keluar sangat banyak, sehingga anak lemas atau pusing.

6. Mimisan terjadi setelah kepala anak terbentur sangat keras.

7. Pendarahan tidak juga berhenti setelah menekan hidungnya selama 10 menit.

Baca juga: Tes Darah Bisa Deteksi Kanker Ovarium Dua Tahun Lebih Awal



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X