Dipaksa, Terpaksa, Lalu Bisa, Kemudian Biasa hingga Jadi Budaya

Kompas.com - 03/06/2020, 09:15 WIB
Ilustrasi new normal SHUTTERSTOCK/ MIA StudioIlustrasi new normal

KOMPAS.com - Frasa di atas sudah saya terapkan lebih dari sepuluh tahun belakangan ini. Singkatnya: membiasakan yang tidak biasa.

Bayangkan sulitnya mengajarkan asisten rumah tangga yang biasa ramah menyambut tamu, bahkan setiap sore setelah menyiram kebun depan lalu duduk-duduk mengobrol sambil berbagi jajanan dengan tetangga kiri kanan.

Lalu tiba-tiba, sekarang pengantar barang pun hanya dilirik dari balik jendela cukup dengan seruan,”Taruh aja di depan pintu! Makasih ya!”

Baca juga: Menyongsong “New Normal”, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Itu pun setelah berlatih sekian kali. Bagi orang Jawa, tidak sopan teriak-teriak dari dalam rumah apalagi terhadap orang yang mengantar sesuatu.

Pun ketika saya larang untuk tidak lagi ngobrol berdekatan dengan tetangga, apalagi mencolek-colek pipi balita sebelah yang amat menggemaskan.

Betapa sulitnya menjelaskan istilah ‘Orang Tanpa Gejala’, karena yang dilihatnya orang-orang biasa, hidup seperti biasa, jauh dari kata ‘sakit’. Bahkan, saya dituduh menghakimi orang sehat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kisah yang sama di kamar praktik, saat saya dituding bawel dan judes ketika mengingatkan pemuda gagah bertubuh tambun mengantar ayahnya yang diabetes.

Ditegaskannya pula bahwa ukuran tubuh besar sudah ‘genetik’. Dan bila ia terkena diabetes suatu hari pun, dianggapnya kodrat yang tak terelakkan.

“Ngapain sehat-sehat gini makan pakai diatur-atur dok? Selama ini saya sehat-sehat saja. Olahraga juga kok. Kalau lembur atau bergadang, yaaaah nambah suplemen lah,” katanya.

Baca juga: Sampai Kapan Manusia Bertahan Makan Seadanya?

Tiba-tiba, di tengah pandemi seperti ini, orang-orang yang tadinya merasa jagoan mendadak khawatir. Apalagi ada istilah komorbid, penyakit yang sudah menahun menghuni tubuh.

Begitu yang punya tubuh ‘ketempelan’ virus covid-19, urusan menjadi panjang. Karena selidik punya telisik, orang-orang yang merasa baik-baik saja itu ternyata tubuhnya tidak baik dalam arti sesungguhnya.

Apalagi, studi belakangan menyebut virusnya justru giras menyerbu sel-sel lemak, karena di situ terdapat reseptor ekspresi Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE 2).

Barangkali, ada baiknya memang vaksin tidak segera ditemukan. Sebab di tengah situasi ‘dipaksa’ hidup lebih sehat seperti ini, makan lebih terjaga, apa yang masuk mulut benar-benar disadari dampaknya, maka awal keterpaksaan ini membuat orang menyadari ternyata ia bisa juga makan sayur dan buah, rutin pula.

Barangkali karena di rumah saja, maka muncul kebiasaan baru setiap membuka lemari es: mengambil buah. Bukan yang lain.

Dan apabila kebiasaan ini berjalan terus berkesinambungan, maka dalam waktu 3 bulan akan muncul pola menetap – yang akan menciptakan ‘kebudayaan’ baru.

Baca juga: Wabah Virus Corona yang Mengubah Marwah Manusia

Asal muasal ‘new normal’ sebenarnya tak lain dari hal-hal baru yang diadopsi, diinternalisasikan menjadi kebiasaan yang nantinya jika tidak dilakukan terasa seperti ‘ada sesuatu yang hilang’.

Seperti remaja perempuan yang punya normalitas baru membawa lipstik, sekarang kita berada dalam situasi membiasakan punya hand-sanitizer, selain dompet dalam tas.

Tidak semua kebiasaan baru disambut dengan tangan terbuka. Apalagi jika dianggap merepotkan, menambah biaya dan ada hal yang dikorbankan – tidak sepadan dengan keuntungan yang bisa diraih dengan normal yang baru itu.

Di sinilah dinamika peran komunikasi efektif menjadi amat penting. Indonesia adalah negri dengan kebhinekaan yang amat unik. Termasuk kebhinekaan jenjang literasi.

Sama-sama terhubung dengan media komunikasi digital, tapi ada yang menggunakannya untuk kepentingan ‘sekadar sosialisasi’ (yang ujung-ujungnya saling lapor ke polisi atau saling hujat), ada yang bergantung dengan media sosial demi penghasilan, dan sebagian kecil ada juga kelompok elit intelektual menelisik setiap perkembangan ilmu dan data teranyar, demi rasa penasaran yang terbayarkan.

Baca juga: IDI: New Normal Harus Dihadapi, tapi Ada Tahapannya

 

Dengan memahami prosentase segmentasi literasi publik, maka sudah waktunya teknik komunikasi efektif diberlakukan secara dinamis.

Tidak mungkin bicara soal protokol kesehatan di tengah hiruk pikuk para pedagang pasar yang berpeluh sepanjang hari.

Apalagi, mereka dipaksa menggunakan masker tanpa paham duduk perkaranya.

Bahkan ada yang protes keras,”Kami di sini semua sehat, tidak ada satu pun pedagang yang digotong pingsan sesak napas. Justru gara-gara masker ini napas kami jadi tidak leluasa, malah bikin ‘engap’…”

Dan akhirnya pedagang kucing-kucingan dengan petugas. Begitu pula dengan protokol jaga jarak fisik.

Salah seorang pengunjung mini market pernah menyeletuk,”Ini gang antar rak saja cuma muat satu-setengah badan orang dewasa. Mau jaga jarak gimana? Giliran masuk mini marketnya? Dan satu gang antar rak hanya boleh dilalui pembelanja yang jalannya satu jalur, tidak boleh saling berlawanan? Mau belanja aja kok ribet ya?”

Apabila orang-orang ini punya kekuasaan, bisa jadi mereka akan bertingkah seperti Presiden Amerika Serikat yang hingga kini pantang menggunakan masker, bahkan masih berjabatan tangan di tengah pengumuman darurat nasional yang dinyatakannya sendiri.

Baca juga: Radikal atau Rasional: Ekstrim atau Lazim?

Barangkali, jika kita ingin meniru kebiasaan bermasker seperti penduduk Korea Selatan, ada beberapa hal yang perlu dicermati.

Korea Selatan itu luas, lho. Jadi patokan kita tidak boleh hanya distrik Gangnam di tengah kota Seoul.

Coba kita lirik pedesaan dan daerah-daerah padat penduduk di pesisir pantai, yang logatnya saja jauh berbeda dengan para artis drama rating tertinggi.

Satu hal lagi yang tak boleh luput: ketertiban antri, tidak berkerumun – dimungkinkan karena adanya jaminan: bahwa keadilan dan pemerataan terjamin.

Yang antri paling belakang, masih mendapatkan hak yang sama seperti yang ada di baris paling depan.

Kata ‘patuh’ masih ampuh di negri kita. Sekali pun rupanya dalam wajah persuasif. Mirip seperti membujuk anak balita agar mau menghabiskan sarapannya.

Dan si anak balita akan tetap mengandaikan sarapan itu keharusan, minimal untuk membuat ibunya senang dan tidak dimarahi, serta boleh bermain lagi setelah selesai makan.

Tidak mudah membuat balita paham mengapa ia perlu sarapan. Tapi, bukan berarti balita tidak bisa dibuat jadi paham.

Butuh upaya lebih cerdik, keterampilan sambung nalar – yang tidak cukup hanya dengan membujuk.

Prinsipnya, balita pun makhluk hidup yang bisa belajar dari pengalaman. Tinggal masalahnya, proses usai makan tidak berlanjut. Makanya ia tak pernah paham.

Baca juga: Bagaimana Kita Pasca Pandemi, Tergantung Kita Hari Ini

 

Hal yang sama dengan membuat perilaku terpaksa bisa diinternalisasikan menjadi kebiasaan dan budaya baru. Hal-hal yang tadinya perlu dilakukan dengan sadar, akhirnya menjadi perilaku otomatis.

Yang menjadi repot, memang perilaku baru itu amat melawan arus. Cipika-cipiki berubah menjadi jarak 1.5 meter, makan di kantor sendiri-sendiri tanpa berbagi lauk apalagi saling menyuap.

Abang penjual cimol atau mi ayam terpaksa ditinggalkan, karena jauh dari protokol kesehatan. Tak mungkin si penjual mencuci tangan berulang kali di pinggir jalan dengan sabun dan air mengalir.

Mangkuk-mangkuk dan sendok bekas pelanggannya saja selama ini dibilas dengan air sabun di ember yang sama.

Kita hanya bisa melalui ini semua, apabila mau menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Full awareness.

Kadang perubahan itu terasa menyakitkan dan kejam. Ada kelompok masyarakat yang termarjinalisasi.

Bahkan hingga kini kita semua gagap tanggap. Tapi ini bukan kondisi fatalistik. Hanya sekadar disrupsi yang cukup mengagetkan.

Syok ‘terapi’ yang dipaksa oleh situasi. Kebandelan umat manusia yang terpaksa harus sadar diri. Bisa atau tidak, itu soal kemauan untuk berubah.

Pembiasaan pun butuh waktu, yang di sana-sini masih butuh mentoring dan proses pembelajaran yang tak boleh ditinggal. Hingga akhirnya kita masuk pada peradaban baru. Budaya baru.

Dan di situlah kelebihan umat manusia. Sebab jika pandemi ini terjadi pada hewan, mereka cepat atau lambat akan musnah, tepatnya punah – tapi manusia yang mampu berubah akan menuai hikmah.

Baca juga: Covid-19: Ujian Kesehatan, Kesadaran, dan Kewarasan



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.