Kompas.com - 26/06/2020, 08:51 WIB
. SHUTTERSTOCK.

KOMPAS.com - Meski tak bicara, Febriana tak bisa menutupi wajah kesalnya.

Siang itu, dia mendapati suaminya baru pulang, sambil menuntun sepeda gunung kotor yang dipakai sejak pagi buta.

"Dia tuh keluarnya subuh, enggak tahu jam berapa, 05.30 kali, aku masih tidur soalnya," kata ibu dua anak warga Grand Galaxy, Bekasi, itu.

Febriana bercerita, suaminya sudah lama memiliki hobi bersepeda dan biasa dilakukan di akhir pekan.

Baca juga: Suami yang Rajin Mencium Istri Cenderung Sukses dalam Karier

"Kalo cuma sekitar Bekasi ujung-ujung, bisa pulang jam 11 deh. Tapi yang kemarin ini, dia sepedahan sampe ke Sentul kayaknya," cetus dia.

Kekesalan Febri bertambah, karena asisten rumah tangga yang biasa membantu pekerjaan di rumah tak kembali setelah mudik pada Lebaran lalu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kesel banget kan, ngapa-ngapain sendiri," kata dia lagi.

Belum lagi, lanjut Febri, sesampai di rumah, sang suami masih harus mencuci sepeda yang juga memakan waktu lama.

"Nyuci sepeda sejam lebih, detail banget. Kalo abis sepedahan jauh gitu, abis mandi tidur-tiduran dah tuh, sambil buka-buka HP," sambung Febri.

"Mau marah, tapi kasihan dia capek. Tapi kalo enggak diomongin, aku yang jadi dongkol."

Febri lalu berusaha mencari "jalan tengah". "Aku bilang ke dia, sepedahan tuh untuk sehat aja, Jadi, enggak usah sampe berpuluh-puluh kilometer."

Baca juga: Agar Hubungan Suami-Istri Tak Tegang Selama Karantina di Rumah

"Eh, dia jawabnya, 'Kalo cuma 10 kilometer enggak keringetan," sebut Febri.

Febri yang juga bekerja sebagai karyawan swasta ini mengaku tak pernah melarang suaminya memiliki hobi, sepanjang masih bisa mengenal waktu. 

"Ini lebih ke sisi waktu. Soalnya aku capek banget sekarang, apa-apa dikerjain sendiri kan," kata dia.  

Febri juga merasa, waktu akhir pekan yang seharusnya bisa dihabiskan lebih intens bersama keluarga seperti berlalu begitu saja ketika sang suami melakoni hobinya.

Hobi adalah kebutuhan

Psikolog Keluarga dari Rumah Dandelion, Nadya PramesraniNadya Pramesrani Psikolog Keluarga dari Rumah Dandelion, Nadya Pramesrani
Keluhan yang dilontarkan Febri tentu hanya salah satu contoh dari masalah umum yang kadang terjadi antara suami dan istri, dalam beragam versi tentunya.

Suami istri dengan minat dan hobi masing-masing pada satu titik tak jarang menimbulkan friksi.

Nadya Pramesrani, Psikolog Keluarga dan Pernikahan dari Rumah Dandelion, menyebutkan, sesungguhnya hobi adalah kebutuhan yang baik untuk istri ataupun suami.

"Hobi kan kebutuhan pribadi, meskipun sudah menikah tetap butuh dipenuhi," kata Nadya.

Namun demikian, hobi pun membutuhkan keseimbangan, baik secara waktu, perhatian, dan biaya.

Baca juga: Merasakan Kepuasan Hati di Balik Hobi Pelihara Tanaman

"Jadi, jangan disalahkan hobinya, tapi lebih pada bagaimana menyeimbangkan. Jangan sampai kebutuhan pribadi mengalahkan kebutuhan keluarga, dan sebaliknya," sebut dia.

Komunikasi

Nadya menyebutkan, ketika permasalahan ini terjadi dalam ikatan pernikahan, maka saran yang selalu muncul adalah soal komunikasi.

"Karena, masalah cukup atau tidak kan sifatnya subyektif. Kita enggak bisa patok secara kuantitas."

"Misalnya, saya sudah meluangkan waktu tiga jam sama keluarga, saya minta waktu sejam buat diri sendiri boleh dong?"

"Kalau dari segi kuantitas orang akan sekilas melihatnya make sense, tapi secara pemaknaan sudah cukup belum? Kalau tiga jam sama keluarga, tapi sibuk sama gadget, kira-kira kualitasnya gimana?"

Sehingga, komunikasi kedua pihak dan pemahaman bahwa hobi adalah hal yang diperlukan dalam hidup perlu dipahami dengan baik.

Baca juga: 6 Tips Menghadapi Suami yang Pelit

"Yang sekarang banyak digaungkan hobi adalah salah satu bentuk self love, self care. Perlu untuk bersenang-senang agar keseharian tidak hanya menikmati rutinitas atau kewajiban," kata Nadya.

Keseimbangan

Setiap pasangan harus memahami hobi sebagai kebutuhan individu, kemudian dibicarakan bagaimana suami istri bisa saling mendukung dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

"Kadang juga akan membantu kalau mereka punya hobi bersama. Walaupun enggak melulu semua hobi harus dilakukan bersama, tapi akan menyenangkan, juga karena variasi."

"Ada kegiatan yang dilakukan satu keluarga, ada yang hanya suami dan istri, ada yang suami dengan teman-temannya, dan istri dengan teman-temannya."

"Jadi, pahami bahwa itu sebuah kebutuhan yang menusiawi, kemudian buat kesepakatannya, yang balance untuk kita yang seperti apa ya," tutup Nadya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.