Kompas.com - 09/07/2020, 11:33 WIB
Perawatan di ruang isolasi pasien Covid-19 di RSUD Kota Bogor, Kamis (23/4/2020). Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor membatasi layanan kesehatan setelah 51 tenaga medisnya terindikasi reaktif Covid-19. Layanan yang tetap beroperasi adalah unit kegawatdaruratan, cuci darah, kanker, dan layanan penyakit kronis. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOPerawatan di ruang isolasi pasien Covid-19 di RSUD Kota Bogor, Kamis (23/4/2020). Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor membatasi layanan kesehatan setelah 51 tenaga medisnya terindikasi reaktif Covid-19. Layanan yang tetap beroperasi adalah unit kegawatdaruratan, cuci darah, kanker, dan layanan penyakit kronis.

KOMPAS.com - Enam bulan setelah pandemi Covid-19, para ilmuwan masih terus mempelajari dampak dari virus tersebut pada manusia.

Para ilmuwan mengingatkan potensi gelombang kerusakan otak yang terkait virus corona, dengan bukti baru menunjukkan virus tersebut dapat menyebabkan komplikasi gangguan saraf yang parah, termasuk peradangan, psikosis dan delirium (gangguan mental yang menyebabkan kebingungan).

Sebuah studi yang dilakukan para peneliti di University College London (UCL) menjelaskan 43 pasien dengan Covid-19 menderita disfungsi otak sementara, serangan stroke, kerusakan saraf atau gangguan otak serius lainnya.

Penelitian ini menambah studi terbaru yang juga menemukan bahwa Covid-19 dapat merusak otak.

"Apakah kita akan melihat epidemi pada kerusakan otak skala besar terkait pandemi --bisa saja mirip wabah encephalitis lethargica pada 1920-an dan 1930-an setelah pandemi influenza 1918. Masih harus ditelaah," kata Michael Zandi, pemimpin penelitian dari Institute of Neurology UCL, mengutip CNBC.

Baca juga: Studi Pasien Covid-19 di Inggris, Virus Corona Sebabkan Komplikasi Saraf

Efek setelah pulih

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru, adalah penyakit pernapasan yang memengaruhi paru-paru, namun ahli saraf dan dokter spesialis otak mengatakan muncul bukti mengenai dampak virus ini pada otak.

"Kekhawatiran saya adalah kita memiliki jutaan orang dengan Covid-19 sekarang. Jika dalam waktu satu tahun kita memiliki 10 juta orang yang pulih, dan mereka memiliki defisit kognitif maka itu akan memengaruhi kemampuan mereka untuk bekerja dan melakukan kegiatan sehari-hari," kata Adrian Owen, ahli saraf di Western University, Kanada, kepada Reuters.

Dari studi yang diterbitkan dalam jurnal Brain tersebut, sembilan pasien yang mengalami peradangan otak didiagnosis dengan acute disseminated encephalomyelitis (ADEM), kondisi langka yang sering terlihat pada anak-anak dan dapat dipicu oleh infeksi virus.

Tes swab massal terhadap warga Desa Samida Kecamatan Selaawi yang dilakukan tim gugus tugas Covid-19 Pemprov Jabar di kantor Desa Samida, Kamis (11/06/2020)KOMPAS.com/ARI MAULANA KARANG Tes swab massal terhadap warga Desa Samida Kecamatan Selaawi yang dilakukan tim gugus tugas Covid-19 Pemprov Jabar di kantor Desa Samida, Kamis (11/06/2020)

Tim peneliti mengatakan, umumnya ada satu pasien dewasa dengan ADEM per bulan di klinik spesialis mereka di London.

Halaman:


Sumber CNBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.