Kompas.com - 27/07/2020, 08:24 WIB
Warga mengayuh sepedanya saat melintas di kawasan bundarah Hotel Indonesia Jakarta, Minggu (28/6/2020). Meskipun Pemprov DKI Jakarta meniadakan kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di kawasan Jalan Sudirman-Thamrin, namun ribuan warga tetap berolah raga di kawasan tersebut. ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDIWarga mengayuh sepedanya saat melintas di kawasan bundarah Hotel Indonesia Jakarta, Minggu (28/6/2020). Meskipun Pemprov DKI Jakarta meniadakan kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di kawasan Jalan Sudirman-Thamrin, namun ribuan warga tetap berolah raga di kawasan tersebut.

KOMPAS.com - Saat ini aktivitas masyarakat memang masih terbatas karena pandemi Covid-19. Walau begitu, beberapa aktivitas luar ruang sudah bisa dilakukan, termasuk dalam hal berolahraga.

Bosan dengan rute gowes di dalam kota, banyak orang yang mulai memikirkan untuk  melakukan tur (touring) ke daerah tertentu. Namun, apakah sudah aman untuk dilakukan?

Pendiri Bianglala Tour sekaligus pesepeda tur solo dunia, dr Aristi Madjid, menekankan pentingnya untuk memilih jenis aktivitas luar rumah yang lebih penting.

Secara pribadi, ia memilih menahan diri untuk tidak melakukan tur hingga vaksin resmi Covid-19 ditemukan.

Namun, jika memang ada masyarakat yang mau melakukan tur sepeda, ia berpesan agar memberlakukan protokol keamanan dan kebersihan yang ketat.

Baca juga: Berbahayakah Nyeri Lutut Ketika Bersepeda?

"Memang akan banyak sekali protokolnya dan sudah pasti berbeda sekali dengan kita touring sebelum pandemi."

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Demikian diungkapkan Aristi dalam zoominar bertajuk "JLN Ngobrol Bike: Touring Sepeda di Era New Normal, Amankah? Protokol Pencegahan Covid-19 Saat Bersepeda", Minggu (26/7/2020).

Aristi menambahkan, saat ini Indonesia menjalani tatanan normal baru ketika berada pada puncak kurva pandemi. Padahal, new normal idealnya dilakukan ketika kasus baru Covid-19 sudah nol.

Banyaknya orang tanpa gejala (OTG) juga membuat aktivitas di luar ruangan yang melibatkan kelompok menjadi semakin riskan.

"Beberapa hari lalu 80 persen pasien yang positif adalah OTG, setelah di-rapid test atau swab. Jadi, kita bisa bayangkan betapa banyaknya orang tanpa gejala di sekitar kita sekarang, yang mana kita benar-benar enggak tahu karena tanpa gejala," tuturnya.

Baca juga: Waspada Kram dan Kaku Otot Saat Bersepeda Akibat Dehidrasi

Ibu-ibu bersepeda saat sore hari dengan mengenakan masker.KOMPAS.com/ALBERTUS ADIT Ibu-ibu bersepeda saat sore hari dengan mengenakan masker.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.