Akankah Konsumsi Pangan Lokal Bernasib Kontroversial?

Kompas.com - 28/07/2020, 09:03 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Saya sudah ‘mencium’ tanda-tanda ketidakberesan sejak beberapa tahun yang lalu, ketika diundang ke beberapa kegiatan mahasiswa peminatan gizi di berbagai kota.

Dikejar keharusan berinovasi, cara berpikir linier membuat anak-anak muda ini mentok dengan istilah kekinian dan paradigma teknokrat.

Lupa bahwa bahan baku sumber pangan dan target konsumennya berangkat dari paradigma kodrat.

Kodrat tubuh manusia membutuhkan pangan utuh, bukan produk proses apalagi rafinasi.

Baca juga: Sampai Kapan Manusia Bertahan Makan Seadanya?

Lebih jauh, banyak orang terperangah saat saya paparkan bahwa sama-sama bernama pisang, tapi sebuah pisang segar seberat 100 gram hanya mengandung 89 kilokalori, sementara dengan bobot yang sama keripik pisang justru menghasilkan 520 kilokalori.

Bayangkan jika pisang lalu dilumat, diproses lagi dengan imbuhan macam-macam sehingga menghasilkan bolu pisang yang lembut, lengket, dan manis.

Salah satu sumber menyebut 100 gram ‘banana cake’ mengandung 326 kilokalori – yang kelihatannya lebih sedikit dari keripik pisang, tapi secara kualitas bisa jadi lebih buruk lagi, sebab pisangnya saja dibutuhkan lebih sedikit ketimbang imbuhannya, tepung dan gula sebagai produk rafinasi, belum lagi mentega berlemak jenuh.

Mengganti konsumsi pisang segar dengan bolu pisang membuat pasien pun cepat tumbang.

Mengejar konsumsi produk lokal, menggerakkan kearifan pangan lokal, tidak cukup hanya sekadar me-lokal-kan sumber bahannya.

Begitu kita kehilangan makna konsumsi pangan sehat, maka tak ubahnya mendorong rakyat menghasilkan dan membeli produk ultra proses yang justru kontra-produktif.

Sama konyolnya seperti mengajak anak-anak mencintai dan menyukai buah, tapi agar mereka tertarik dan ‘disesuaikan’ dengan selera, maka potongan buah itu dicelup kedalam coklat cair manis. Habislah sudah.

Lebih parah lagi, begitu selimut coklatnya leleh habis terjilat, potongan buah di dalamnya dibuang – karena rasa buah aslinya muncul. Dan anak-anak tersebut tidak terbiasa dengan yang asli.

Baca juga: Demi Kesehatan, Tingkatkan Kupasan dan Tinggalkan Kemasan

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X