Kompas.com - 14/10/2020, 17:45 WIB
Ilustrasi hipertensi. thinkstockphotosIlustrasi hipertensi.

KOMPAS.com - Melakukan pengukuran tekanan darah di fasilitas kesehatan sangat penting, tetapi melakukannya secara rutin di rumah bisa menurunkan risiko hipertensi lebih awal.

Hipertensi selama ini menjadi "silent killer" dengan tingkat prevalensi 34,1 persen pada 2018 dan diderita sekitar 63 juta orang di seluruh Indonesia.

Mengukur tekanan darah secara rutin mampu mencegah hipertensi, sebab orang tahu bagaimana kondisi mereka, termasuk apakah ada risiko terkena hipertensi atau tidak.

Di samping itu, mengecek tekanan darah secara rutin dapat menghindari terjadinya misdiagnosis atau kesalahan diagnosis yang menyebabkan ketidaktepatan penanganan hipertensi di fasilitas kesehatan.

"Misalnya, ada orang yang sebenarnya tidak hipertensi tapi karena misdiagnosis itu tekanan darahnya justru tinggi. Lalu, dia diberikan obat untuk menurunkan tekanan darah malah jadi pusing," jelas anggota dewan InaSH (Indonesian Society of Hypertension), dr. Yuda Turana, Sp.S (K).

Baca juga: Menurunkan Tekanan Darah Tinggi di Usia Muda, Bagaimana Caranya?

Mengukur tekanan darah itu tidak bisa hanya sekali saja, tapi harus dilakukan secara berulang-ulang dan akurat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Melakukan pemantauan tekanan darah secara rutin di rumah juga meningkatkan kepatuhan pasien atau peminum obat hipertensi," lanjutnya.

Agar akurat

Dokter Yuda menambahkan, saat hendak melakukan pengukuran tekanan darah seseorang harus buang air kecil terlebih dulu, tidak boleh minum kopi dan merokok agar hasilnya stabil, serta tidak terjadi kesalahan diagnosis.

Dalam peluncurkan produk alat ukur tekanan darah digital HEM-7361T dan HEM-7156 melalui aplikasi Zoom, Rabu (14/10/2020), OMRON sebagai penyedia alat kesehatan ingin masyarakat dapat melakukan pengukuran tekanan darah dengan mudah di rumah.

Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia, Herry Hendrayadi mengatakan, saat Indonesia berada di peringkat yang rendah terkait kepemilikan alat tensi mandiri di seluruh Asia Pasifik.

Maka, banyak sekali kasus-kasus hipertensi yang tidak terdeteksi sebelumnya sampai membuat pasien sudah berada di tahap yang terbilang parah dengan ditemukan kerusakan organ, stroke hingga kematian.

"Akibat hipertensi banyak juga yang kena gangguan irama jantung (atrial fibrilasi), yang mana 2,2 juta orang di Indonesia menderitanya dan bisa meningkatkan risiko serangan stroke," terang Herry.

Baca juga: Waspadai, Pemicu Risiko Hipertensi Selain Garam

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.