Kompas.com - 21/10/2020, 08:52 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Kehidupan memang penuh dengan momen-momen pemicu stres. Ada banyak faktornya, mulai dari kesehatan, hingga kekhawatiran untuk menyeimbangkan uang dan keluarga.

Psikolog Susan Albers, PsyD mengungkapkan, yang paling sering diungkapkan kliennya adalah sulit mengalihkan pikiran. Kondisi itu membuat mereka sulit untuk rileks.

"Tapi kita perlu memandang rileks bukan sebagai titik perhentian, melainkan jeda yang dibutuhkan," ungkapnya, seperti dilansir Cleveland Clinic.

Meskipun kita tahu bahwa relaksasi bermanfaat, mungkin banyak yang bingung di mana harus memulai.

Menurut Dr. Albers, banyak dari kita yang fokus pada ritme kehidupan yang serba cepat, membuat kita terbiasa menekankan kepada diri sendiri untuk terus melakukan sesuatu.

"Akibatnya, berhentinya waktu terasa asing atau tidak nyaman bagi kita," tambahnya.

Di masa pandemi ini, banyak orang kaget dengan situasi. Di awal pandemi, banyak orang baru menyadari adanya gagasan untuk bersantai.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Karena tidak terbiasa, itu membuat mereka kebingungan dan tidak melakukannya, bahkan setelah mereka punya waktu luang yang cukup.

Relaksasi selama ini dipandang sebagai suatu kemewahan, bukan keharusan.

"Tidak banyak orang yang akan berkata, 'Mari jadwalkan waktu relaksasi untuk hari ini.' Dan kebanyakan dari kita tidak pernah diajari keterampilan relaksasi sejak masih kecil," kata Dr. Albers.

Meski relaksasi berbeda bagi setiap orang, delapan langkah berikut bisa kamu coba:

1. Buang rasa bersalah
Beri dirimu izin untuk rileks sejenak. Menurut Dr. Albert, tubuh juga perlu "mengisi ulang" baterainya dan izinkan tubuh melakukan itu.

"Jangan merasa bersalah karena melakukannya. Pahami bahwa relaksasi adalah sesuatu yang penting," kata dia.

2. Berlatih
Sama seperti skill lainnya yang ingin kamu kuasai, relaksasi juga perlu dilatih.

Kita cenderung bergerak ke mode relaksasi ketika berada pada situasi krisis atau stres, dan kemudian baru mempelajari teknik relaksasi.

Padahal, idealnya kita juga menerapkannya di waktu-waktu lainnya.

"Jika kita berlatih relaksasi ketika tenang, kita akan mendapatkan hasil yang lebih baik dan lebih bisa bertransisi ke relaksasi secara lebih baik," ucap Dr. Albers.

Baca juga: Rutinitas Pereda Stres di Pagi Hari, Cuma 10 Menit, Coba Yuk...

3. Mengelola napas
Sejumlah penelitian mengungkapkan, kita bis menurunkan denyut jantung dengan mengelola napas dan masuk ke mode relaksasi.

Ia menyarankan teknik squeegee. Squeege sendiri merupakan alat pembersih dengan ujung karet, yang biasa digunakan untuk membersihkan air atau cairan lainnya pada permukaan datar.

Cara melakukn teknik tersebut adalah:

  • Menutup mata.
  • Bayangkan ada sebuah squeegee di atas kepalamu.
  • Ketika membuang napas, bayangkan squeegee tersebut mendorong pikiran-pikiran beracun dan energi turun ke arah kaki dan keluar dari tubuh, seperti air yang turun ke bawah kaca.
  • Kemudian, ambil napas yang dalam dan bayangkan pikiran-pikiran positif datang seperti air yang bersih dan segar.
  • Lanjutkan bernapas dengan rileks.
  • Memainkan instrumen seperti suling juga bisa menambah relaksasi. Instrumen semacam itu bisa membantu memperbaiki pola napas karena kita dipaksa untuk mengelola napas sambil membuat nada.

4. Keluar dari kepala dan masuk ke tubuh
Mengubah sensasi fisik yang dirasakan pada momen stres dapat membantu menenangkan pikiran yang cemas.

Menurut Dr. Albers, apapun yang dapat menenangkan tubuh dapat membantu menenangkan pikiran.

"Ini bisa sesederhana seperti berbaring di selimut hangat atau melakukan beberapa gerakan atau latihan yang penuh kesadaran," kata Dr. Albers.

Kuncinya adalah melakukan gerakan yang melepaskan ketegangan otot. Salah satu gerakan yang disarankannya adalah ragdoll.

Biarkan bahu turun seperti ragdoll. Sebab, banyak orang yang membawa ketegangan di bahunya.

5. Terapi ruang terbuka
Cobalah pergi ke luar dan temukan ruang terbuka hijau. Sejumlah penelitian mengungkapkan, aktivitas tersebut dapat menurunkan tekanan darah dan meningkatkan suasana hati.

"Bahkan jika kamu tidak pergi ke luar, duduk di pinggir jendela bisa membuatmu lebih rileks," katanya.

Baca juga: Perbanyak Interaksi dengan Alam agar Tetap Waras

6. Cermat menggunakan teknologi
Teknologi bisa menjadi teman atau lawan, tergantung bagaimana kita menggunakannya.

Sering kali, kita lupa bagaimana untuk rileks karena selalu beraktivitas dengan teknologi. Kondisi itu membuat tubuh dipaksa untuk terus-menerus melakukan sesuatu.

"Jadi, sesekali cobalah letakkan ponselmu, rileks tanpa teknologi dan kenali bagaimana rasanya," kata Dr. Albers.

Namun, kamu masih bisa memanfaatkan teknologi untuk rileks, seperti mendengarkan musik-musik menenangkan atau menggunakan aplikasi yang bisa membimbing latihan rilelaksasi.

7. Mencari cara yang tepat
Cobalah mencari tahu apa yang membuatmu paling merasa rileks.

Relaksasi adalah pengalaman individual. Bisa saja didapatkan dengan berolahraga, melukis, atau kegiatan lainnya. Jadi, temukan apa yang tepat dan bekerja untuk dirimu.

8. Berlatih kesadaran
Kesadaran adalah bagaimana kita hadir dsn berada di masa kini.

Menurut Dr. Albers, ketika kita banyak melihat ke depan, kita akan menjadi mudah cemas dan sulit rileks.

"Jadi, untuk rileks, cobalah untuk menikmati setiap momen alih-alih mengkhawatirkan apa yang belum terjadi," ungkapnya.

 

Cukup 20 menit
Relaksasi membutuhkan waktu dan komitmen.

Dr. Albers menyarankan untuk meluangkan waktu setidaknya 20 menit setiap hari untuk melakukannya.

Namun, jangan juga terbebani dengan waktu. Kamu bisa meluangkan waktu berapa pun lamanya, sesuai waktu yang kamu punya.

Ketika bisa rileks, kamu mungkin akan mengurangi membentak atau terlalu emosional kepada orang-orang tercinta di sekitar.

Sebab, seseorang yang berada pada kondisi stres akan lebih rentan.

"Kita sering kali mengetahui ketika seseorang mengalami stres dalam jangka waktu yang lama. Kita bisa melihat kondisi kulitnya, rambut mereka yang mulai memutih, kadang mereka juga lebih rentan sakit."

"Relaksasi menghasilkan lebih banyak kekuatan dan ketahanan tubuh," ucapnya.

Tubuh yang berada di bawah tekanan konstan sama seperti mesin yang terus bekerja.

Jadi, relaksasi seperti memindahkan gigi mesin ke gigi yang lebih rendah untuk meluncur lebih lambat sementara waktu, membiarkan tubuh beregenerasi dan pulih.

Baca juga: 9 Teknik Relaksasi untuk Atasi Stres

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X