Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
drg. Citra Kusumasari, SpKG (K), Ph.D
dokter gigi

Menyelesaikan Program Doktoral di bidang Kariologi dan Kedokteran Gigi Operatif (Cariology and Operative Dentistry), Tokyo Medical and Dental University, Jepang.

Sebelumnya, menempuh Pendidikan Spesialis Konservasi Gigi di Universitas Indonesia, Jakarta dan Pendidikan Dokter Gigi di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Berpraktik di berbagai rumah sakit dan klinik di Jakarta. Ilmu karies, estetik kedokteran gigi, dan perawatan syaraf gigi adalah keahliannya.

Mengenal Teknik Menyikat Gigi yang Tepat untuk Cegah Plak

Kompas.com - 09/02/2021, 11:38 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Drg. Citra Kusumasari, SpKG(K), Ph.D

MENYIKAT gigi telah menjadi rutinitas kita yang berfungsi untuk menghilangkan plak dan sisa makanan yang menempel di gigi, serta mencegah berbagai penyakit mulut seperti gigi berlubang dan penyakit jaringan pendukung gigi lainnya.

WHO mendefinisikan plak gigi sebagai entitas struktural yang spesifik tetapi sangat bervariasi. Plak dihasilkan dari tahapan kolonisasi mikroorganisme pada permukaan gigi, tambalan gigi, dan bagian lain pada rongga mulut, yang terdiri dari komponen air liur seperti musin, sel epitel yang terkelupas, debris dan mikroorganisme.

Sikat gigi pertama kali diperkenalkan di China sejak awal tahun 1600 sebelum masehi, dan diperkenalkan ke dunia barat tahun 1640.

William Addis pada tahun 1780 di Inggris menemukan sikat gigi manual. Pada awal abad ke-19, pengrajin di berbagai negara Eropa membuat pegangan sikat gigi dari emas, gading, atau eboni dengan kepala sikat gigi yang dapat diganti-ganti.

Penggunaan bulu sikat gigi nilon dimulai pada tahun 1938. Jenis-jenis sikat gigi antara lain manual, elektrik, sonik dan ultrasonik, serta ionik.

Baca juga: Dampak yang Terjadi Jika Hanya Sikat Gigi Sekali Sehari

Sikat gigi yang ideal harus memiliki karakteristik antara lain; harus sesuai dengan ukuran, bentuk dan tekstur gigi serta kondisi rongga mulut pasien, harus mudah dan efektif digunakan, mudah dibersihkan, tidak mudah rusak, dan desain harus efisien.

Selain menyikat gigi, berkumur menggunakan obat kumur dan melakukan pembersihan gigi dengan benang gigi (flossing) juga turut membantu menjaga kebersihan mulut.

Desain sikat gigi, durasi menyikat gigi dan teknik menyikat gigi adalah faktor yang menentukan keefektifan dalam menghilangkan plak dan sisa makanan.

Namun, hal yang menjadi perhatian utama adalah apakah setiap orang sudah melakukan teknik menyikat gigi yang tepat sehingga plak dan sisa makanan dapat hilang.

Baca juga: Kapan Anak Mampu Sikat Gigi Sendiri?

Teknik-teknik menyikat gigi

Beberapa teknik menyikat gigi yang ada sampai saat ini, antara lain: teknik Bass, teknik modifikasi Bass/ teknik pembersihan sulkus, teknik Stillman, teknik Charter, teknik Fones, teknik Leonard, teknik penyikatan horizontal, teknik modifikasi Stillman, teknik Hirsfield, dan teknik Smith-Bell.

Ilustrasi sikat gigiShutterstock Ilustrasi sikat gigi

Teknik menyikat gigi yang paling populer sampai saat ini telah diperkenalkan sejak tahun 1948, yaitu teknik modifikasi Bass atau teknik pembersihan sulkus, teknik ini juga direkomendasikan oleh ikatan dokter gigi di Amerika.

Teknik ini dilakukan dengan menempatkan kepala sikat gigi dengan bulu sikat yang halus sejajar dengan bidang oklusal gigi, dengan kepala sikat menutupi 3 sampai 4 gigi dimulai dari gigi paling belakang pada tiap lengkung gigi.

Kemudian tempatkan bulu sikat pada tepi gusi dan buatlah sudut 45 derajat ke sumbu panjang gigi, lalu berikan tekanan getaran lembut dengan gerakan maju dan mundur pendek sambil memasukkan bulu sikat ke dalam sulkus gusi dan di antara gigi.

Baca juga: 4 Tanda Kesalahan Cara Menyikat Gigi

Ulangi gerakan tersebut di daerah sepertiga mahkota gigi, sulkus gusi dan permukaan di antara gigi. Selain itu, teknik ini menunjukkan hasil yang signifikan dalam mengurangi plak jika dibandingkan teknik Fones dan teknik horizontal.

Metode modifikasi Bass diindikasikan untuk pembersihan sulkus gusi, sela-sela gigi dan gusi. Keuntungan metode ini adalah dapat menstimulasi gusi.

Teknik populer lainnya adalah teknik Fones karena tekniknya yang mudah dilakukan, yaitu dengan menempatkan sikat gigi ke permukaan gigi dan lakukan gerakan melingkar 4-5 kali untuk setiap sisi permukaan gigi.

Teknik ini diindikasikan untuk anak-anak yang masih belajar untuk menyikat gigi. Namun, kerugian teknik ini adalah dapat menimbulkan trauma pada gusi dan pembersihan bagian di antara gigi kurang memadai.

Teknik berikutnya yang juga populer adalah teknik horizontal, yaitu dengan meletakkan bulu sikat gigi tegak lurus dengan permukaan gigi dan secara perlahan sikat gigi digerakkan horizontal ke kanan dan kiri.

Baca juga: Cara Merawat Gigi Anak, Orangtua Wajib Tahu

Meskipun teknik ini mudah untuk dilakukan, namun teknik ini kurang efektif untuk menghilangkan plak dan dapat menyebabkan gigi abrasi dan penurunan gusi.

Tampaknya, belum ada kesepakatan dari para ahli tentang metode terbaik menyikat gigi yang harus diikuti oleh masyarakat umum. Frekuensi dan durasi menyikat gigi masih menjadi hal penting dalam pembersihan plak dan sisa makanan selain teknik menyikat gigi.

Kesimpulan

Setiap teknik menyikat gigi memiliki keuntungan masing-masing tergantung pada kasus setiap individu. Namun pengurangan skor plak diantara ketiga teknik yang dijabarkan diatas secara berurutan terlihat paling signifikan pada teknik modifikasi Bass, teknik horizontal dan terakhir pada teknik Fones.

Baca juga: Mencari Dokter Gigi Terbaik di Kota Anda

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com