Apakah Tambalan Amalgam Masih Layak Dipakai?

Kompas.com - 26/02/2021, 08:26 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

Tambalan gigi amalgam yang rusak, harus diperbaiki atau diganti?

Berdasarkan dua penelitian di tahun 2011 dan 2013, dengan segala keterbatasan kedua studi tersebut disimpulkan jika memungkinkan, memperbaiki tambalan gigi amalgam yang rusak mungkin lebih baik dan lebih murah dibandingkan dengan mengganti tambalan gigi amalgam dengan tambalan lainnya.

Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi secara kualitatif pandangan pasien tentang perbaikan atau penggantian tambalan gigi amalgam, ditinjau dari keluhan nyeri, tingkat stres dan kecemasan, waktu, serta biaya.

Bagaimanapun, banyak penelitian yang telah dilakukan untuk membandingkan tingkat toksisitas (keracunan) tambalan gigi amalgam dan tambalan gigi komposit (tambalan sewarna gigi), hasilnya amalgam lebih beracun dibandingkan komposit.

Meskipun jenis amalgam yang digunakan adalah merkuri anorganik. Jenis ini diklaim lebih tidak beracun dibandingkan merkuri jenis uap, dan merkuri anorganik tidak dapat berpentrasi dengan mudah ke dalam sel.

Merkuri anorganik menghasilkan 100 sampai 800 kali lipat lebih toksik dibandingkan komposit untuk sel manusia.

Penggantian tambalan gigi amalgam yang rusak menjadi tambalan gigi yang sewarna gigi (non-amalgam), harus dilakukan dengan prosedur khusus dan hati-hati. Penggunaan alat penghisap air ludah berkekuatan tinggi, isolator karet untuk gigi, dan penanangan limbah merkuri harus diperhatikan.

Baca juga: Peran Dokter Gigi dalam Identifikasi Korban Kecelakaan Pesawat

Penggunaan tambalan amalgam di Indonesia
Di Indonesia, peraturan mengenai penghentian penggunaan merkuri di bidang kesehatan sudah menjadi prioritas untuk dilakukan dan diatur di dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia nomor P.81/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2019 tentang pelaksanaan peraturan presiden nomor 21 tahun 2019 tentang rencana aksi nasional pengurangan dan penghapusan merkuri.

Target penghapusan merkuri di bidang kesehatan menggunakan indikator jumlah alat kesehatan berupa termometer, sfigmomanometer/ tensimeter, dan dental amalgam (unit).

Di dalam peraturan ini tercantum baseline alat kesehatan yang mengandung merkuri yang masih digunakan di beberapa kota pada berbagai provinsi di Indonesia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X