Apakah Tambalan Amalgam Masih Layak Dipakai?

Kompas.com - 26/02/2021, 08:26 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

drg. Citra Kusumasari, SpKG(K), Ph.D

LEBIH dari 150 tahun yang lalu, tambalan amalgam diakui sebagai bahan tambalan gigi yang aman, tahan lama, dan terjangkau di dalam dunia kedokteran gigi. Namun, perdebatan tentang keamanannya kemudian mengemuka.

Berdasarkan regulasi institut standart nasional Amerika dan standart kedokteran gigi Amerika nomor 1, pengertian tambalan gigi amalgam adalah sebuah campuran beberapa bahan metal dengan komponen mayoritasnya adalah perak, timah dan tembaga, serta beberapa tambahan bahan lain yaitu seng, indium, merkuri, dan logam mulia seperti emas, platina dan paladium.

Namun, penggunaan tambalan gigi amalgam di dunia mulai menurun, salah satunya di Amerika. Perdebatan tentang keamanan dan keefektifan tambalan amalgam telah terjadi sejak lama.

Insiden alergi terhadap salah satu kandungan amalgam, yaitu merkuri jarang terjadi dan penelitian yang menghubungkan penggunaan amalgam dengan beberapa penyakit seperti multiple sclerosis (penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf pusat) dan penyakit Alzheimer belum terbukti secara signifikan.

Lantas, apakah tambalan amalgam masih layak dipakai?

Baca juga: Pajak Makanan dan Minuman Bergula Sebagai Pencegahan Gigi Berlubang

Latar belakang menurunnya penggunaan tambalan gigi amalgam

Dulu, konsep pembuangan lesi gigi berlubang adalah melakukan pembuangan lesi gigi berlubang sebanyak mungkin, termasuk bagian gigi yang sehat dan melakukan perluasan untuk pencegahan terjadinya lubang baru.

Dokter gigi juga melakukan pengeburan yang cukup besar dan dengan bentuk yang khusus supaya tambalan amalgam tidak mudah lepas.

Pengambilan bagian gigi yang terlalu banyak, dapat menyebabkan gigi rentan pecah di masa yang akan datang.

Untuk mengatasi hal tersebut, saat ini diterapkan konsep intervensi minimal dalam pembuangan lesi gigi berlubang, yaitu pembuangan lesi hanya dilakukan pada bagian gigi yang terinfeksi dan meninggalkan bagian gigi yang sehat, bebas bakteri, dan masih dapat dilakukan pengembalian mineral gigi (remineralisasi).

Baca juga: Mengenal Teknik Menyikat Gigi yang Tepat untuk Cegah Plak

Ilustrasithinkstockphotos Ilustrasi

Tujuan utama konsep intervensi minimal adalah untuk menjaga struktur gigi selama proses pembuangan lesi gigi berlubang, mempertahankan jaringan sehat yang dapat diperbaiki secara biologis sebanyak mungkin dan mempertahankan vitalitas gigi selama mungkin.

Penerapan konsep intervensi minimal dalam penambalan gigi saat ini didukung oleh perkembangan bahan tambal gigi yang lebih baik dalam hal sifat kimia, sifat mekanis, dan estetika.

Baca juga: Waspadai Dampak Kebiasaan Mengertakkan Gigi

Apakah tambalan gigi amalgam aman digunakan?

Dilaporkan berbagai efek buruk dapat timbul dari tambalan gigi amalgam akibat kebocoran merkuri, jika dosisnya melebihi dosis normal di tubuh, antara lain: peradangan mukosa mulut; lesi pada rongga mulut yang berupa penebalan, berwarna kemerahan dan dikelilingi garis putih; peradangan gusi; dan sariawan.

Namun hal tersebut dapat langsung hilang setelah tambalan amalgam dilepas.

Data ilmiah lain pada tahun 2011 menunjukkan bahwa tambalan gigi amalgam merupakan sumber utama beban total merkuri di tubuh manusia.

Hal ini dibuktikan dengan studi otopsi yang menemukan 2 sampai 12 kali lebih banyak merkuri dalam jaringan tubuh individu dengan gigi amalgam.

Pemeriksaan otopsi adalah penelitian yang paling berharga dan terpenting untuk memeriksa beban total merkuri di tubuh yang disebabkan amalgam. Studi otopsi ini telah menunjukkan secara konsisten bahwa banyak individu dengan tambalan gigi amalgam memiliki tingkat keracunan merkuri di otak atau ginjal mereka.

Hasil penelitian lain yaitu tidak ada korelasi antara kadar merkuri di dalam darah atau urine dengan kadar merkuri dalam jaringan tubuh atau tingkat keparahan gejala klinis.

Baca juga: Mengenal Penyebab Keracunan Merkuri dan Cara Mengatasinya

 

Selanjutnya, waktu paruh merkuri di otak dapat berlangsung selama beberapa tahun sampai beberapa dekade, dengan demikian merkuri terakumulasi seiring waktu dengan paparan amalgam di tubuh.

Uap merkuri sekitar 10 kali lebih beracun daripada timbal pada sistem saraf pusat manusia dan sinergis dengan tingkat keracunan logam lainnya.

Paparan merkuri dapat menimbulkan kesehatan yang lebih besar pada kelompok orang tertentu, yang mungkin lebih rentan terhadap potensi efek samping yang umumnya terkait dengan merkuri.

Populasi berisiko tinggi ini meliputi: wanita hamil, wanita dalam program kehamilan, wanita menyusui, anak usia kurang dari 6 tahun, pasien dengan riwayat penyakit saraf, gagal ginjal, dan yang memiliki riwayat alergi terhadap merkuri dan logam lainnya.

Baca juga: 12 Penyebab Karies Gigi yang Perlu Diwaspadai

Regulasi di dunia 

Pada tahun 2009, U.S Food and Drug Administration (FDA) mengeluarkan peraturan tentang penggunaan tambalan gigi amalgam, bahwa amalgam kapsul adalah tambalan yang aman dan efektif untuk pasien.

Kemudian pada tahun 2011, komite ilmiah Eropa tentang risiko kesehatan yang muncul dan baru diindentifikasi menyatakan bahwa tidak efek sistemik yang merugikan dalam penggunaan tambalan gigi amalgam.

Pernyataan ini cukup mengejutkan, karena kesimpulan diambil tanpa melibatkan penelitian yang paling penting dalam menganalisa kadar merkuri yaitu toksisitas merkuri, serta penelitian tersebut menggunakan metode yang kurang tepat.

Terakhir, pada tahun 2018, Kanada mengeluarkan laporan mengenai penilaian keefektifan dan keamanan tambalan amalgam untuk membantu para pembuat keputusan dalam menentukan apakah bahan tambalan ini dapat terus digunakan di Kanada atau tidak.

Baca juga: Bagaimana Proses Terjadinya Gigi Berlubang

 

Mereka melakukan penilaian pada tambalan gigi menggunakan bahan amalgam dibandingkan dengan bahan resin komposit (yang sewarna gigi) pada gigi tetap dan sulung. Laporan menyimpulkan bahwa kedua bahan tambalan gigi tersebut efektif dan aman, namun tambalan amalgam lebih murah.

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

Tambalan gigi amalgam yang rusak, harus diperbaiki atau diganti?

Berdasarkan dua penelitian di tahun 2011 dan 2013, dengan segala keterbatasan kedua studi tersebut disimpulkan jika memungkinkan, memperbaiki tambalan gigi amalgam yang rusak mungkin lebih baik dan lebih murah dibandingkan dengan mengganti tambalan gigi amalgam dengan tambalan lainnya.

Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi secara kualitatif pandangan pasien tentang perbaikan atau penggantian tambalan gigi amalgam, ditinjau dari keluhan nyeri, tingkat stres dan kecemasan, waktu, serta biaya.

Bagaimanapun, banyak penelitian yang telah dilakukan untuk membandingkan tingkat toksisitas (keracunan) tambalan gigi amalgam dan tambalan gigi komposit (tambalan sewarna gigi), hasilnya amalgam lebih beracun dibandingkan komposit.

Meskipun jenis amalgam yang digunakan adalah merkuri anorganik. Jenis ini diklaim lebih tidak beracun dibandingkan merkuri jenis uap, dan merkuri anorganik tidak dapat berpentrasi dengan mudah ke dalam sel.

Merkuri anorganik menghasilkan 100 sampai 800 kali lipat lebih toksik dibandingkan komposit untuk sel manusia.

Penggantian tambalan gigi amalgam yang rusak menjadi tambalan gigi yang sewarna gigi (non-amalgam), harus dilakukan dengan prosedur khusus dan hati-hati. Penggunaan alat penghisap air ludah berkekuatan tinggi, isolator karet untuk gigi, dan penanangan limbah merkuri harus diperhatikan.

Baca juga: Peran Dokter Gigi dalam Identifikasi Korban Kecelakaan Pesawat

Penggunaan tambalan amalgam di Indonesia
Di Indonesia, peraturan mengenai penghentian penggunaan merkuri di bidang kesehatan sudah menjadi prioritas untuk dilakukan dan diatur di dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia nomor P.81/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2019 tentang pelaksanaan peraturan presiden nomor 21 tahun 2019 tentang rencana aksi nasional pengurangan dan penghapusan merkuri.

Target penghapusan merkuri di bidang kesehatan menggunakan indikator jumlah alat kesehatan berupa termometer, sfigmomanometer/ tensimeter, dan dental amalgam (unit).

Di dalam peraturan ini tercantum baseline alat kesehatan yang mengandung merkuri yang masih digunakan di beberapa kota pada berbagai provinsi di Indonesia.

Peraturan lainnya adalah Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 57 tahun 2016 tentang rencana aksi nasional pengendalian dampak kesehatan akibat pajanan merkuri tahun 2016-2020.

Fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia sudah tidak menggunakan tambalan gigi amalgam sebagai pilihan bahan tambal gigi untuk pasien.

Baca juga: 5 Masalah Umum Gigi dan Mulut, serta Cara Mengatasinya

Kesimpulan
Sebaiknya gunakan bahan tambalan gigi yang aman digunakan dalam jangka waktu panjang, tentunya keputusan ini harus dibuat bersama antara dokter gigi dan pasien, berdasarkan pertimbangan kasus, waktu, dan biaya.

Penggunaan tambalan gigi amalgam di dunia kedokteran gigi masih ada, karena terlihat masih adanya produsen dan konsumen.

Namun, di Indonesia, target untuk menuju Indonesia bebas merkuri sudah dibuat peraturannya oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, berdasarkan efek samping bagi tubuh manusia dan lingkungan yang dihasilkan merkuri dalam jangka waktu panjang.

drg. Citra Kusumasari, SpKG(K), Ph.D



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X