Kompas.com - 06/03/2021, 16:20 WIB
Ilustrasi anosmia, gejala Covid-19, gangguan penciuman pasien Covid-19. SHUTTERSTOCK/NENAD CAVOSKIIlustrasi anosmia, gejala Covid-19, gangguan penciuman pasien Covid-19.

KOMPAS.com - Salah satu gejala yang banyak dialami pasien Covid-19 adalah anosmia.

Anosmia adalah ketidakmampuan untuk mencium bau. Kondisi ini bisa sementara maupun permanen.

Menurut Medical News Today, penciuman adalah proses kompleks yang melibatkan komunikasi antara otak dan hidung.

Ketika seseorang mengendus bau, udara akan mengalir ke hidung dan molekul bau menempel pada reseptor di saraf penciuman.

Saraf ini melapisi epitel olfaktorius, yang merupakan jaringan yang melapisi rongga hidung.

Ketika molekul bau dari lingkungan menstimulasi saraf ini, otak akan menerima informasi penciuman dan memprosesnya menjadi aroma yang dapat dikenali oleh seseorang.

Belakangan kita sering mendengar istilah anosmia karena banyaknya orang yang terinfeksi Covid-19 lalu mengalami kondisi tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tapi, perlu diketahui bahwa kehilangan penciuman ini tak hanya terjadi pada pasien Covid-19.

Baca juga: Gangguan Penciuman karena Covid-19 Bisa Pulih dengan Cara Ini, Benarkah?

Hidung tersumbat karena pilek, alergi, infeksi sinus, atau kualitas udara yang buruk adalah penyebab paling umum dari anosmia.

Menurut WebMD, beberapa kondisi kesehatan berikut juga bisa menyebabkan kehilangan penciuman antara lain:

1. Polip hidung atau pertumbuhan non-kanker kecil di hidung dan sinus yang menghalangi saluran hidung.

2. Cedera pada hidung dan saraf penciuman akibat operasi atau trauma kepala.

3. Paparan kimia beracun, seperti pestisida atau pelarut.

4. Obat-obatan tertentu, termasuk antibiotik, antidepresan, obat anti inflamasi, obat jantung, dan lain-lain.

5. Masalah kesehatan pada usia tua. Seperti penglihatan dan pendengaran, indra penciuman juga bisa menjadi lebih lemah seiring bertambahnya usia. Mulai menurun setelah usia 60 tahun.

6. Kondisi medis tertentu, seperti penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, multiple sclerosis, kekurangan nutrisi, kondisi bawaan, dan gangguan hormonal.

7. Perawatan radiasi pada kanker kepala dan leher, dan lainnya.

Baca juga: Gangguan Penciuman pada Pasien Covid-19, Bisakah Disembuhkan?

Diagnosa

Jika mengalami kehilangan penciuman yang tidak dapat berkaitan dengan flu atau alergi, atau kehilangan penciuman tidak membaik setelah satu atau dua minggu, cobalah menemui dokter untuk mengetahui penyebabnya.

Dokter dapat memeriksa ke dalam hidung dengan alat khusus untuk melihat apakah polip atau pertumbuhan sesuatu mengganggu kemampuan penciumanmu, atu jika ada infeksi.

Pengujian lebih lanjut oleh dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) mungkin diperlukan untuk menentukan penyebab anosmia.

Selanjutnya, CT scan mungkin diperlukan agar dokter dapat melihat area tersebut dengan lebih baik.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X