Kompas.com - 08/03/2021, 11:44 WIB
Hari Perempuan Internasional 2019 diperingati perempuan dari sejumlah organisasi dengan berunjuk rasa di Taman Aspirasi, di depan Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (8/3/2019). Mereka antara lain mendesak agar disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, perlindungan terhadap pekerja perempuan, dan perlakuan yang setara. KOMPAS/HERU SRI KUMOROHari Perempuan Internasional 2019 diperingati perempuan dari sejumlah organisasi dengan berunjuk rasa di Taman Aspirasi, di depan Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (8/3/2019). Mereka antara lain mendesak agar disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, perlindungan terhadap pekerja perempuan, dan perlakuan yang setara.

Oleh: Annisa Ardiani, Content Writer Rekata

Mengapa semuanya serba “khusus perempuan” atau “khusus wanita”? Mengapa banyak komunitas perempuan? Mengapa ada International Women’s Day? Mengapa tidak ada perlakuan khusus untuk laki-laki?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terlontar dari mereka yang tidak mengikuti sejarah perempuan di dunia. Pasalnya, pengakuan dan keistimewaan tersebut tidak datang dengan sendirinya.

Ada banyak perempuan yang telah berkorban untuk memperjuangkan hak-hak mereka sebagai manusia.

Dalam kebanyakan sejarah dunia, kita bisa menemukan berbagai peraturan yang membatasi, mendiskriminasi, bahkan merendahkan perempuan. Dunia seakan terlahir dengan nilai patriarki dan perempuan dianggap tidak bernilai.

Parahnya lagi, beberapa kaum pria memandang perempuan hanya sebagai objek seksual untuk memenuhi nafsu berahi.

Sedari dulu, perempuan tidak memiliki banyak pilihan dalam politik, pekerjaan, bahkan jodoh.

Dalam sejarah politik dunia, perempuan berjuang mati-matian untuk mendapatkan hak memilih.

Baca juga: 7 Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan untuk Rayakan Hari Perempuan

Begitu pula dalam hal pekerjaan, banyak stigma dan pandangan negatif tentang pemimpin perempuan. Mereka dianggap lemah, terlalu sensitif, dan tidak kompeten.

Tradisi perjodohan juga memaksa perempuan, bahkan yang di bawah umur, untuk menikah
tanpa persetujuannya. Hal ini terjadi di berbagai negara, seperti Pakistan, India, bahkan di Indonesia. Atas nama tradisi dan tuntutan adat, janji suci terucapkan begitu saja.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X