Kompas.com - 13/03/2021, 11:46 WIB
Ilustrasi stevia shutterstockIlustrasi stevia

KOMPAS.com - Stevia merupakan tanaman yang dapat dijadikan sumber gula karena kandungan pemanis alaminya. Daun ini masuk dalam kategori non-nutritif yang artinya tidak mengandung kalori sama sekali sehingga aman untuk tubuh.

Stevia sebelumnya mudah dijumpai sebagai bahan pengganti gula di berbagai produk kemasan. Biasanya makanan atau minuman itu ditujukan untuk penderita diabetes atau orang yang sedang melakukan diet penurunan berat badan.

Efek dari daun bernama latin stevia rebaudiana ini dikatakan baik dalam mengontrol kadar insulin dan glukosa dalam darah. Hal ini dibuktikan dalam riset tahun 2010 sebagaimana yang dilansir dari Healthline pada Sabtu (13/03/2021).

Selain itu, bubuk daun stevia juga dapat mengelola kadar kolestrol seseorang. Penelitian tahun 2009 membuktikan jika seseorang yang rutin mengkonsumsi 20 mililiter ekstrak stevia selama sebulan mengalami penurunan kadar kolestrol tanpa efek samping negatif.

Ekstrak tanaman ini juga bisa mengurangi pertumbuhan kanker payudara. Sejumlah penyakit mematikan lainnya seperti leukimia, ginjal dan paru-paru juga dapat berkurang dengan sweet leaf ini.

Meski demikian, belum ada penelitian menyeluruh akan dampak negatif soal konsumsi tanaman ini. Karena itu konsumsi secara intens tidak dianjurkan khususnya jika sedang dalam kondisi hamil atau memiliki penyakit bawaan tanpa konsultasi dokter. 

Baca juga: Pemanis Bukan Cuma Gula, Kenali 7 Jenisnya

300 Kali Lebih Manis Dari Gula Biasa

Ilustrasi daun stevia yang sudah dikeringkan. SHUTTERSTOCK/HANDMADEPICTURES Ilustrasi daun stevia yang sudah dikeringkan.
Tanaman ini mengandung glikosida steviol, stevioside dan rebaudioside A. Karena itu rasa manisnya bisa 300 kali lipat dibandingkan gula biasa meski tidak mengandung kalori.

Hanya saja rasa manis yang dihasilkan memiliki tambahan sedikit rasa pahit di ujung. Penggunaannya sebagai pemanis juga sudah dilakukan lebih dari 1.500 tahun silam oleh Suku Guarani.

Bangsa asli Paraguay itu kerap menggunakannya sebagai tambahan dalam teh, makanan, kue dan obat herbal. Tak hanya itu, Bangsa Eropa dan Jepang kemudian mulai memanfaatkannya setelah tahun 1800.

Kini, pemanis berbahan stevia sudah menjadi produk yang secara legal diizinkan dipasarkan di seluruh kawasan Amerika Serikat dan Eropa.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X