Kompas.com - 24/06/2021, 08:08 WIB
Seorang pengendara motor melintas di depan mural tentang pandemi COVID-19 di Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (29/4/2021). Mural yang dibuat oleh warga setempat itu untuk memberikan dukungan atas perjuangan tim medis yang selama ini berada di garis terdepan dalam penanganan COVID-19 khususnya di Pontianak. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/wsj. ANTARA FOTO/JESSICA HELENA WUYSANGSeorang pengendara motor melintas di depan mural tentang pandemi COVID-19 di Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (29/4/2021). Mural yang dibuat oleh warga setempat itu untuk memberikan dukungan atas perjuangan tim medis yang selama ini berada di garis terdepan dalam penanganan COVID-19 khususnya di Pontianak. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/wsj.

KOMPAS.com - Pandemi sudah berjalan lebih dari satu tahun namun masih saja ada masyarakat yang tidak percaya akan keberadaan Covid-19.

Mereka meremehkan virus ini meski sudah banyak korban yang telah membuktikan keganasan Corona. Selain itu, masih banyak pula yang percaya dengan kabar negatif dan konspirasi lainnya.

Isu tersebut tergolong konyol namun tetap dipercaya oleh banyak orang. Termasuk pula kabar bahwa vaksin yang disusupi chip sehingga orang-orang enggan divaksin.

Kombinasi hoaks yang terus berkembang dengan penanganan yang buruk dari pemerintah ini kemudian menjadikan situasi pandemi di Indonesia semakin kritis.

Baca juga: Dokter Reisa Ingatkan 5 Hal Penting soal Isolasi Mandiri Covid-19

Tak heran jika muncul istilah herd stupidity, seperti yang dilontarkan oleh epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono.

Media sosial dipenuhi keluhan warganet yang frustasi menghadapi lingkungan sekitarnya yang termakan isu miring soal Covid-19. Meski informasi dan data telah dibeberkan namun hasilnya sia-sia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Informasi yang sebenarnya penting tidak diacuhkan sehingga memicu lonjakan kasus seperti yang terjadi belakangan ini.

Baca juga: Begini Cara Mengingatkan Orang Terdekat soal Bahaya Nyata Covid-19

Psikolog Sosial, Dicky Chresthover Pelupessy, Ph.D., mengatakan fenomena orang yang tidak percaya dengan Covid-19 erat kaitannya dengan status manusia sebagai makhluk kognitif.

Secara alami, kita menyerap dan mengolah informasi berdasarkan yang disiplin ilmu, hal yang diyakini dan diketahui.

Virus Corona sendiri merupakan hal yang baru sehingga wajar banyak orang masih banyak yang berupaya mengenalinya dan menyerap data yang ada.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.