Kompas.com - 10/07/2021, 09:35 WIB

Shrand menjelaskan, sebagian, ini terjadi karena ketika kita membentak anak, kita akan mengaktifkan "neuron cermin" anak atau bagian otak yang menirukan perilaku orang lain. Itulah mengapa anak yang sering dibentak cenderung akan merespons dengan cara yang sama ketika menghadapi situasi serupa.

"Kemarahan akan menimbulkan kemarahan lain. Membentak anak akan membuat mereka ingin membalas kita," ucapnya.

Baca juga: Hindari 5 Hal yang Dapat Membuat Anak Berperilaku Buruk

Yang harus dilakukan ketika marah

Lagi-lagi, marah adalah respons yang wajar. Namun, apa yang kita lakukan ketika marah sangatlah penting untuk diperhatikan.

Langkah pertama yang dapat dilakukan untuk meredakan rasa marah adalah dengan mengenalinya.

Shrand menjelaskan, ketika kita menenali rasa marah, kita akan mengaktifkan korteks prefrontal dan mengganggu emosi kita yang membuncah.

Ini semua, kata Shrand, adalah bagaimana kita mampu mengubah mode perasaan ke mode berpikir.

Alih-alih langsung bereaksi membentak, ada beberapa respons yang disarankan oleh para pakar, yakni:

  • Mengambil napas dalam.
  • Menghitung mundur.
  • Lari di tempat.
  • Berusaha sesedikit mungkin bicara hingga pikiran sudah tenang.
  • Pikirkan sesuatu yang positif yang dapat mengalihkan dari membentak anak. Misalnya, "anak saya butuh bantuan saya saat ini."
  • Memaksakan senyum atau tawa sekalipun dapat mengirimkan pesan pada otak bahwa situasi itu bukanlah situasi darurat.

Setelah berhasil menenangkan diri, kita sudah siap untuk meredakan situasi, bukan justru memperparahnya.

Tidak langsung membentak ketika merespons amarah memang memerlukan usaha dan kebanyakan orang perlu waktu untuk membiasakan diri dengan respons ini.

Namun, menurut Markham, jauh lebih mudah untuk tidak membentak ketika orangtua sebetulnya memiliki hubungan yang kuat dengan anak.

Jadi, mulailah dengan menjalin ikatan yang baik dengan anak pada situasi lainnya.

Pada akhirnya, menikmati dan mengapresiasi kehadiran anak akan membuat pengasuhan anak menjadi lebih memuaskan bagi orangtua.

Apresiasi kehadiran mereka sebagai diri mereka apa adanya, bukan justru memarahi mereka karena mereka tidak seperti anak lain yang bukan dirinya.

Baca juga: 5 Alasan Memarahi Anak di Tempat Umum Pantang Dilakukan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Parents
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.