Kompas.com - 22/10/2021, 15:19 WIB
Petugas mendorong alat ultra violet saat menyiapkan ruangan perawatan pada Tower 8 Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Pademangan, Jakarta, Selasa (15/6/2021). Satuan tugas penanganan COVID-19 bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan membuka tower 8 RSDC Wisma Atlet Pademangan dengan menyediakan tempat perawatan bagi pasien terkonfirmasi positif COVID-19 sebanyak 1.569 tempat tidur. ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYATPetugas mendorong alat ultra violet saat menyiapkan ruangan perawatan pada Tower 8 Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Pademangan, Jakarta, Selasa (15/6/2021). Satuan tugas penanganan COVID-19 bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan membuka tower 8 RSDC Wisma Atlet Pademangan dengan menyediakan tempat perawatan bagi pasien terkonfirmasi positif COVID-19 sebanyak 1.569 tempat tidur.

KOMPAS.com - Sejumlah negara mulai melonggarkan pembatasan sosialnya namun pandemi Covid-19 belum benar-benar berakhir.

Kita masih harus tetap waspada dan menjaga diri agar terhindari dari infeksi virus mematikan ini. Terlebih lagi, varian baru dari mutasi Covid-19 baru saja ditemukan di Inggris.

Mutasi alias turunan atau subtipe varian delta ini secara resmi dikenal dengan nama AY.4.2. Namun, banyak orang menjulukinya dengan nama varian delta plus yang baru, agar lebih mudah diingat.

Pejabat kesehatan pemerintah Inggris mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan apakah mutasi tersebut menimbulkan risiko lebih besar bagi kesehatan masyarakat. Khususnya dibandingkan varian delta yang jauh lebih cepat menular dibandingkan jenis Covid-19 asli.

Hanya saja, mutasi baru ini telah menyumbang sekitar enam persen peningkatan kasus Covid-19 di Inggris saat ini. Hal ini membuat otoritas negara tersebut mulai melakukan pemantauan secara ketat untuk memastikan kondisinya.

Baca juga: Bertambah 865, Kasus Varian Delta di Indonesia Jadi 4.025

Fakta penting mutasi covid-19 terbaru

Badan Keamanan Kesehatan Inggris belum lama ini merilis laporan yang menyatakan sublineage delta yang baru ditunjuk sebagai AY.4.2 terdokumentasi berkembang di negaranya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Otoritas tersebut tengah memantau subtipe, yang mencakup mutasi pada protein lonjakan (A222V dan Y145H) yang digunakan virus corona untuk memasuki sel kita.

Mutasi AY.4.2 sedang diidentifikasi dalam peningkatan jumlah kasus Covid-19 di negara Ratu Elizabeth itu. Hal ini diprediksi bisa menjadi faktor dalam krisis kesehatan negara tersebut sehingga sejumlah pakar mulai menyerukan pembatasan Covid diterapkan kembali.

Meski demikian, varian AY.4.2 belum diklasifikasikan sebagai "varian yang sedang diselidiki" atau "varian yang menjadi perhatian" oleh WHO. Artinya, varian ini belum diidentifikasi memiliki perubahan genetik yang diharapkan untuk mempengaruhi karakteristik virus seperti penularan, keparahan penyakit, pelarian kekebalan, pelarian diagnostik atau terapeutik.

Mutasi baru ini juga belum dikonfirmasi dapat menyebabkan transmisi komunitas yang signifikan atau beberapa klaster Covid-19.

Baca juga: Keturunan Varian Delta, Ilmuwan Mulai Lacak Penyebarannya di Inggris

Halaman:


Sumber CNBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.