Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Medio by KG Media
Siniar KG Media

Saat ini, aktivitas mendengarkan siniar (podcast) menjadi aktivitas ke-4 terfavorit dengan dominasi pendengar usia 18-35 tahun. Topik spesifik serta kontrol waktu dan tempat di tangan pendengar, memungkinkan pendengar untuk melakukan beberapa aktivitas sekaligus, menjadi nilai tambah dibanding medium lain.

Medio yang merupakan jaringan KG Media, hadir memberikan nilai tambah bagi ranah edukasi melalui konten audio yang berkualitas, yang dapat didengarkan kapan pun dan di mana pun. Kami akan membahas lebih mendalam setiap episode dari channel siniar yang belum terbahas pada episode tersebut.

Info dan kolaborasi: podcast@kgmedia.id

Mengenal "Toxic Positivity" dan Cara Mengatasinya

Kompas.com - 03/08/2023, 20:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Rangga Septio Wardana dan Ikko Anata

KOMPAS.com - Toxic positivity merupakan suasana atau kondisi yang memaksakan untuk selalu memiliki pemikiran positif tentang segala hal. Umumnya, seseorang yang mengalami kondisi ini akan menganggap semuanya baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak.

Menurut Positive Psychology, toxic positivity adalah mempertahankan bahwa seseorang harus memiliki pemikiran dan emosi positif setiap saat, meskipun tengah mengalami hal-hal sulit.

Namun, kondisi ini dapat berdampak buruk karena terus-menerus mengabaikan emosi yang tak positif. Pasalnya, hal ini dapat digambarkan sebagai penolakan terhadap kejadian yang tak menyenangkan.

Hal ini pun dibahas oleh psikolog Ayoe Sutomo dalam siniar Anyaman Jiwa bertajuk “Ayoe Sutomo: Kenali Perbedaan Self-Love, Selfish, Over Confident, dan Toxic Positivity”, dengan tautan akses dik.si/AnyJiwPerbedaan.

Pengertian Toxic Positivity

Dilansir dari Healthline, toxic positivity adalah asumsi, baik oleh diri sendiri atau orang lain bahwa mereka harus berpikir positif. Kondisi ini akan mengesampingkan rasa sakit emosional atau situasi sulit yang sedang dialami.

Baca juga: Mengenal Gangguan Kepribadian Antisosial pada Anak

Selain itu, orang yang mengalami toxic positivity menganggap bahwa emosi negatif adalah sesuatu yang buruk. Mereka cenderung mengutamakan pola pikir positif dan kebahagiaan yang didorong secara kompulsif.

Dampak Toxic Positivity

Meremehkan Kehilangan

Kesedihan dan kehilangan merupakan sesuatu yang normal. Seseorang dengan kondisi toxic positivity cenderung memaksakan untuk menyampingkan perasaannya.

Isolasi dan Stigma

Toxic positivity cenderung membuat orang yang mengalaminya merasa tertekan karena harus selalu memiliki pola pikir positif. Selain itu, mereka juga akan enggan mencari dukungan orang lain. Akibatnya, mereka merasa terisolasi atau malu dengan perasaan mereka.

Harga Diri Rendah

Umumnya, setiap orang terkadang memiliki emosi negatif. Toxic positivity mendorong orang mengabaikan emosi negatif mereka, meskipun menahannya dapat membuat mereka merasa lebih kuat.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com