Salin Artikel

Kedukaan dan Pandemi Covid-19

Oleh: Dr. Retha Arjadi M.Psi

BERITA duka datang silih berganti selama pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 telah memasuki tahun kedua dan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan usai dalam waktu dekat.

Berita kematian yang dulunya mungkin hanya dilihat di berita, kini dapat hadir dalam lingkaran orang-orang terdekat. Kedukaan pun menjadi sesuatu yang mungkin tidak terhindarkan.

Penelitian berjudul “Grief Before and During the COVID-19 Pandemic: Multiple Group Comparisons” yang ditulis oleh Maarten Eisma dari University of Groningen dan Aerjen Tamminga dari Psychologen Nederland, Belanda, dan dipublikasikan di Journal of Pain and Symptom Management pada akhir tahun 2020, menjelaskan bahwa secara umum level kedukaan yang dialami seseorang karena ditinggal meninggal oleh orang terdekat sebelum pandemi dan saat pandemi tidaklah berbeda secara signifikan.

Temuan ini sebetulnya masuk akal, mengingat pandemi Covid-19 membawa tekanan dan tantangan tersendiri, yang berbeda dengan situasi sebelum pandemi Covid-19.

Terlepas dari terjadi pada saat pandemi Covid-19 maupun tidak, pada umumnya, kedukaan diawali dengan rasa kaget mengenai kehilangan yang dialami.

Untuk beberapa saat, rasa kaget tersebut dapat membuat orang yang berduka merasa pengalaman kehilangan tersebut seperti tidak nyata, dan masih perlu diproses seiring berjalannya waktu.

Setelah kekagetan mereda, perasaan duka seolah baru dapat mulai membuncah keluar. Setiap orang dapat memiliki pengalaman berduka yang berbeda, tetapi kedukaan biasanya ditandai dengan kemunculan berbagai emosi, seperti rasa sedih, marah, tidak terima, dan terkadang bisa juga disertai dengan rasa bersalah kepada orang yang meninggal karena alasan tertentu.

Begitu pula, terlepas dari konteks pandemi Covid-19 ataupun tidak, memberi waktu yang cukup dan tidak memburu-buru diri untuk berduka adalah hal penting yang perlu diperhatikan saat menghadapi kedukaan.

Standar waktu yang cukup ini sangat mungkin berbeda antara satu orang dengan orang lain, karena kedukaan adalah sesuatu yang sifatnya sangat personal.

Terasa lebih berat

Adapun krisis yang dibawa oleh pandemi Covid-19 dapat membuat berbagai emosi yang muncul terkait kedukaan menjadi lebih kuat atau terasa lebih berat, terutama di masa-masa awal, seperti ditunjukkan oleh hasil penelitian yang telah disampaikan sebelumnya.

Menyadari ini sangatlah penting, agar dapat dilakukan penyesuaian yang diperlukan dalam menghadapi kedukaan tersebut sesuai porsinya. Terkait waktu misalnya, bisa jadi, diperlukan waktu yang lebih panjang untuk memproses kedukaan tersebut.

Selain terkait waktu, penting juga untuk bisa mengungkapkan kedukaan dengan cara yang dirasa nyaman dan tidak destruktif. Cara yang biasanya membantu adalah bicara dengan orang lain yang dianggap nyaman untuk diajak bicara mengenai hal ini.

Terkadang, orang yang sedang berduka lebih suka menyendiri. Ini sebetulnya wajar dan boleh dilakukan, namun perlu diimbangi dengan berinteraksi dengan orang lain, agar tidak kebablasan ke arah mengisolasi diri secara berlebihan, yang malah dapat membuat proses berduka menjadi lebih berat.

Dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini, jika tidak ada orang lain yang tinggal bersama di rumah, ini bisa dilakukan misalnya melalui video call dengan kerabat atau sahabat secara rutin dengan frekuensi yang dirasa nyaman.

Cara lainnya adalah dengan melakukan sesuatu yang dapat membantu diri mengekspresikan kedukaan yang sedang dialami. Misalnya, beberapa orang merasa terbantu dengan membuat tulisan tertentu untuk menumpahkan duka atau membuka foto-foto sambil mengenang sosok yang meninggal.

Last but not least, seringkali, terutama pada masa awal, kedukaan dapat menimbulkan keengganan melakukan berbagai aktivitas, karena emosi-emosi yang intens dari kedukaan bisa membuat kita begitu lelah atau kehilangan motivasi beraktivitas.

Oleh karena itu, penting untuk dapat memilah dan memilih aktivitas yang perlu dilakukan agar energi yang terbatas tersebut bisa digunakan sebaik-baiknya.

Upayakan tetap melakukan rutinitas harian dasar, seperti makan, istirahat, dan menjaga kebersihan diri. Selain itu, fokuskan juga energi untuk hal-hal yang wajib dikerjakan, misalnya terkait pekerjaan.

Sementara, untuk hal-hal yang urgensinya cenderung rendah dan memungkinkan untuk dikesampingkan sementara waktu tanpa konsekuensi yang serius, dapat dipertimbangkan untuk tidak dilakukan terlebih dahulu, atau minta bantuan orang lain untuk melakukannya selama rentang waktu tertentu.

Kedukaan selalu menjadi hal yang tidak mudah untuk dilalui, terlebih di tengah krisis pandemi Covid-19 saat ini. Dengan memahami kedukaan dan cara-cara menghadapinya, diharapkan orang-orang yang berduka dapat terbantu dalam melalui proses yang sulit tersebut.

Dr. Retha Arjadi, M.Psi., Psikolog
Dosen & Psikolog klinis
Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Jakarta, Indonesia

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/08/19/095011820/kedukaan-dan-pandemi-covid-19

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.