Waspadai, Gejala Awal Pikun yang Sering Diabaikan - Kompas.com

Waspadai, Gejala Awal Pikun yang Sering Diabaikan

Kompas.com - 11/01/2018, 10:44 WIB
Para penghuni Panti Jompo Welas Asih, Kabupaten Tasikmalaya.KOMPAS.com Para penghuni Panti Jompo Welas Asih, Kabupaten Tasikmalaya.

KOMPAS.com - Demensia bukanlah penyakit tapi merupakan suatu kondisi yang berkaitan dengan penurunan kemampuan fungsi otak. Banyak orang menyebutnya dengan istilah pikun.

Penderita demensia biasanya mengalami penyusutan daya ingat, kemampuan berpikir, kesulitan memahami sesuatu, hingga menurunnya kecerdasan mental.

Kondisi umum ini biasa menyerang lansia di atas usia 65 tahun. Tapi, gejala awalnya sudah bisa muncul sejak di usia 30-40 tahun.

Penelitian menunjukkan, kondisi rumit ini ditandai dengan sejumlah gejala, terutama di fase awal.

Namun, seringkali gejala-gejala tersebut tidak mudah dikenali.

Lantas, bagaimana kita bisa tahu apakah orang-orang yang kita cintai menunjukkan tanda-tanda Alzheimer atau bentuk demensia lainnya?

Baca juga: Tak Punya Pasangan Hidup Bisa Tingkatkan Risiko Demensia 42 Persen

Menurut ahli neuropsikologis, Katherine Rankin, setiap perubahan yang berbeda dari perilaku atau kemampuan biasa seseorang, bisa menjadi perhatian.

Beberapa gejala awal ini bisa menjadi perhatian:

1. Tidak mengenali kebohongan

Menurut Rankin, para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang tak lagi bisa mengenali sarkasme atau kebohongan orang lain, diduga menjadi salah satu gejala awal demensia.

Penderita dementia frontotemporal tidak mampu mengenali kebohongan atau sikap sarkastik, sementara penderita demensia lain dan alzheimer, mampu melakukannya.

2. Sering jatuh

Terus menerus tersandung kaki sendiri? Semua orang memang bisa mengalami jatuh, tapi sering jatuh bisa menjadi sinyal awal alzheimer.

Sebuah studi pada 2011 yang dipresentasikan di Alzheimer’s Association International Conference di Paris mengamati scan otak dari 125 orang tua.

Para responden itu diminta menghitung seberapa sering mereka tergelincir dan tersandung selama rentang waktu delapan bulan.

Hasilnya? Peserta yang menunjukkan tanda-tanda awal alzheimer mengalami jatuh lebih sering dibandingkan yang tidak.

Baca juga: Kenapa Prevalensi Demensia DI Yogyakarta Lebih Tinggi daripada Dunia?

3. Mengabaikan hukum

Beberapa orang muda pada tahap awal demensia awal kehilangan pengertian norma sosial mereka.

Mencuri, berperilaku yang tidak pantas seperti melakukan ujaran kebencian, pelecehan seksual, merupakan tanda-tanda demensia.

Demensia awal bisa menyerang orang sejak usia tiga puluhan dan empat puluhan.

Fase itu jauh sebelum ada orang di sekitar mereka yang menganggap perilaku out-of-character dan melanggar hukum itu sebagai tanda kepikunan.

4. Kehilangan empati

Jika seseorang yang biasanya manis, perhatian, dan sopan mulai mengatakan hal yang menghina atau tidak pantas -dan tidak menunjukkan kesadaran akan ketidaktetapan atau perhatian mereka atau penyesalan tentang apa yang telah mereka katakan– bisa jadi itu menunjukkan tanda awal demensia.

Baca juga: Lawan Alzheimer dan Demensia dengan Jamur

5. Mengabaikan rasa malu

Karena tidak dapat mengenali perasaan orang lain tentang sebuah situasi, bukanlah satu-satunya gejala demensia. Mereka juga kemungkinan kehilangan kemampuan untuk memahami rasa malu.

Ini adalah tanda demensia multi-faceted: mereka sendiri tidak merasa malu dengan situasi yang mereka hadapi, dan mereka juga tidak mengerti situasi orang lain.

6. Kesulitan mengelola uang

Salah satu tanda awal klasik penyakit Alzheimer adalah meningkatnya kesulitan pengelolaan uang.

Ini mungkin bisa dimulai dari kesulitan menyeimbangkan pengeluaran, mengelola biaya, dan tagihan.

Seiring dengan perkembangan penyakit ini, kesulitan-kesulitan seperti ini akan semakin parah.

Banyak yang menganggap ini sebagai hal yang normal, bagian dari penuaan. Namun, menurut Rankin, ini bukanlah penuaan yang sehat tapi penyakit.

Baca juga: Menjaga Ingatan, Mencegah Penyakit Demensia


EditorGlori K. Wadrianto
Komentar
Close Ads X