Tanda Dehidrasi Tak Cuma Haus

Kompas.com - 20/01/2018, 11:00 WIB
Hindari stres saat bepergian fizkes Hindari stres saat bepergian

KOMPAS.com - Pendapat yang mengatakan, “Jika kamu haus, tandanya pasti dehidrasi!” masih menjadi perdebatan di kalangan pakar.  Namun ada satu hal yang pasti: rasa haus bukan satu-satunya tanda tubuh perlu terhidrasi.

Dehidrasi terjadi saat tubuh lebih banyak kehilangan daripada mengasup cairan, menurut Robert Segal, pendiri Medical Offices of Manhattan.  Kondisi semacam itu dapat terjadi karena olahraga, kurang minum, hingga sakit.

Dehidrasi bisa menyebabkan masalah serius. Menurut studi tahun 2015, mengemudi saat dehidrasi akan memengaruhi fokus, seperti terlambat menginjak rem. Akibatnya tentu fatal.

Segal juga mengingatkan, saat cuaca dingin, risiko dehidrasi lebih besar karena kita jarang merasa haus sehingga kurang minum. Oleh karena itu, asupan cairan yang sering perlu ditingkatkan saat berada di cuaca dingin. 

Selain itu, dampak lain saat tubuh tak cukup mengasup cairan adalah pada sistem— termasuk sel, jaringan, dan organ tubuh, mengingat betapa vitalnya fungsi cairan bagi fungsi optimal semua organ.

Sebenarnya tak ada jumlah asupan yang ditetapkan bagi pria, karena semua tergantung dari aktivitas. Normalnya kita harus minimal harus mengasup delapan gelas air putih setiap hari.

Jika kita merasakan 5 hal ini, tandanya perlu mengasup cairan tambahan.

1. Otot kram

Ketika kita kehilangan cairan, sinyal saraf dari otak ke otot tidak akan bekerja dengan baik. Karena itu, otot-otot, terutama di kaki lebih mudah mengalami kram.

Saat berolahraga dengan intensitas sedang sampai berat biasanya akan kehilangan cairan, sehingga membuat ketidakseimbangan elektrolit seperti natrium dan kalium di otot.  Tak hanya memperparah kram, kamu juga akan merasakan nyeri pasca-olahraga keeseokan harinya. 

2. Ingin menyantap makanan manis

Segal menuturkan bahwa organ seperti hati membutuhkan air untuk bekerja. Salah satu tugas tersebut adalah melepaskan glikogen, molekul yang menyimpan gula.

“Jika hati tidak bisa mendapatkan bahan bakar, maka tidak bisa melepaskan glukosa dan cadangan energi lainnya,” katanya.  “Apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikannya? Makan.”

Halaman:


EditorLusia Kus Anna

Close Ads X