Tabir Surya Tak Cuma Melindungi Kulit dari Sinar Matahari

Kompas.com - 22/02/2018, 18:08 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Paparan sinar matahari merupakan salah satu faktor yang bisa merusak kulit dan mempercepat timbulnya tanda-tanda penuaan. Makanya, memakai tabir surya merupakan bagian dari perawatan kulit yang tidak boleh dilewatkan setiap hari.

Dermatolog dari Siloam Hospital Dr Melyawati Hermawan menegaskan pentingnya penggunaan tabir surya secara rutin untuk meminimalisasi dampak sinar ultraviolet.

Sebab sinar ultraviolet merupakan gelombang yang juga bisa menembus kaca. Sehingga semua orang bisa terdampak paparannya meski jarang beraktivitas di luar ruangan.

"Jangan berani keluar rumah kalau enggak pakai tabir surya. Pasti (kulit) jauh lebih baik daripada tidak pakai sama sekali," kata Melyawati seusai acara perayaan 10 tahun Pond's Age Miracle di SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (21/2/2018).

Kandungan Sun Protector Factor (SPF) pada beragam produk tabir surya amat beragam. Beberapa produk perawatan kulit wajah bahkan kini juga mengandung SPF.

Namun, masih banyak orang yang bingung dengan kemampuan dan perbedaan setiap kandungan SPF.

Melyawati menjelaskan, satu angka SPF mewakili 15 menit perlindungan. Berarti SPF 18, misalnya, memiliki durasi perlindungan sekitar 4,5 jam. Sehingga, pemakaian harus diulang kembali pada 4,5 jam berikutnya.

(Baca juga: Kebiasaan Pagi yang Berdampak Buruk pada Kulit)

Karena kesibukan, jarang orang yang rajin mengaplikasikan ulang tabir surya. Kadang, tabir surya juga luntur lebih cepat pada orang yang terlalu banyak beraktivitas di luar ruangan dan bawah paparan sinar matahari langsung.

Dengan perhitungan tersebut, maka semakin tinggi angka SPF sebenarnya semakin baik. Selain dari paparan sinar matahari, kulit wajah juga perlu dilindungi dari sinar pada layar komputer, paparan lampu neon, termasuk sinar matahari yang menembus kaca.

Namun, Melyawati menyayangkan di Indonesia kesadaran untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari masih sangat kurang.

"Sayangnya di Indonesia awareness untuk pakai tabir surya masih rendah banget. Masalahnya, UV (ultraviolet) itu bukan panasnya tapi radiasi. Dia gelombng yang bisa nembus kaca dan jendela. Kulit tetap harus dilindungi," kata dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X