MPASI Rumahan Tidak Sama dengan MPASI Murahan

Kompas.com - 20/03/2019, 10:15 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Di antara para ibu muda yang aktif dengan sosial medianya, muncul topik hangat terbaru soal Makanan Pendamping ASI yang ‘ngetren’ disebut MPASI – setelah bayi lulus dengan ASI ekslusifnya.

Topik hangat sekaligus laris manis buat peluang bisnis. Bagaimana tidak? Dengan menebarkan teknik marketing of fear seperti biasa, peluru komersialisasi MPASI diluncurkan dengan target para ibu yang takut anaknya nanti disebut stunting, takut timbangan tidak naik-naik, takut anaknya jatuh dalam anemia alias kekurangan darah.

Para ibu yang kadung rendah diri dengan kemampuan mengolah makanan dan adanya dapur di rumah seakan hanya sebatas keharusan denah rumah.

Baca juga: Yang Harus Diketahui tentang Pemberian MPASI

Jika untuk menghidupi diri saja cukup membeli lewat aplikasi pesan layan antar – maka pemberian makan anak dan bayinya akan dipercayakan pada ‘yang lebih ahli', industri yang mempekerjakan begitu banyak ahli gizi yang katanya pintar menghitung kebutuhan nutrisi manusia.

Ditambah pula menawarkan kepraktisan hidup: tidak usah berpeluh-peluh ke pasar atau belanja, berpanas ria di dapur, apalagi kalau harus mengulek dan mencincang.

Belum lagi bingung sisa makanan satu hari mau disimpan di mana. Ada juga yang bilang makanan bayi tidak boleh dipanaskan ulang.

Tak kalah meramaikan kebingungan, beberapa pakar sengaja menayangkan hasil penelitian yang mengatakan MPASI rumahan hampir semuanya hanya berisi karbohidrat, alias bentuk bubur beras.

Bahkan, salah satu penelitian di pulau Jawa menunjukkan 75% subjek jarang mengonsumsi protein nabati, lebih parah lagi: 89% subjek jarang mengonsumsi protein hewani.

Baca juga: Kalau Bukan Tubuhnya Kerdil, Umurnya yang Kerdil

Penelitian-penelitian lain serupa ini, lalu dijadikan alasan kuat untuk menawarkan solusi baru: membuat racikan ajaib agar seluruh kebutuhan nutrisi tercapai.

Lalu katanya ini yang disebut win-win solution: yang membuat solusi untung, ibu-ibu pun nyambung - bak gayung bersambut. Lalu MPASI rumahan mendapat label nista: bikin bayi dan anak kurang gizi.

Fenomena di atas rasanya membuat otak dan hati berontak. Pertama, kok tega-teganya kita menawarkan solusi tanpa menyelesaikan sumber perkara.

Masalah sebetulnya jelas: semua kebutuhan nutrisi seorang bayi untuk tumbuh kembang tanpa cacat gizi dimiliki oleh bumi pertiwi.

Hanya karena ketidaktahuan dan pembiaran berpuluh tahun, maka para ibu akhirnya terpaksa memberikan sebatas apa yang mereka pahami, dengan akibat pertumbuhan bayi dan anak yang tidak optimal.

Jadi, amatlah sangat janggal apabila kemurahan bumi tempat kita berpijak ini harus melalui ‘perantara’ lebih dahulu untuk diproses industri – ketimbang para ibu mampu meracik dari sumber aslinya langsung, sebagai makanan sehat, karena semakin sedikit campur tangan olahan manusia.

Baca juga: Mengapa Harus Mengandalkan Makanan Kemasan di Negeri yang Kaya?

Kedua, Selama 10 tahun Indonesia sudah mempunyai modul pelatihan pemberian makan bayi dan anak, begitu pula fasilitator sudah banyak dihasilkan. Bahkan, rekomendasi organisasi kesehatan dunia WHO telah diperkenalkan dan mestinya dijalankan.

Jika ini semua diaplikasikan dengan baik dan benar, mustahil angka stunting masih bertengger di atas 30%.

Kenyataannya, para calon ibu muda di masa kehamilan lebih sibuk mengikuti kelas yoga seperti selebrita, ketimbang meminta dokter atau bidannya mengajarkan teknik menyusui yang benar. Dikira, menyusui itu sekadar insting dan dengan mudahnya bayi menikmati proses menyusu.

Begitu pula Posyandu, hanya sekadar tempat meminjam timbangan, ketimbang menjadi wadah para ibu belajar membuat MPASI yang bermutu.

Akhirnya yang kencang terdengar pesan MPASI rumahan sebatas jenis bahan makanannya saja, yang dikenal sebagai menu 4 bintang, ada karbohidrat, protein nabati, protein hewani, serta sayur dan buah. Padahal, itu saja tidak cukup.

Baca juga: Gizi Minimalis: Timpangnya Literasi dan Supervisi

Halaman:



Close Ads X