Usia Bertambah, Kesuburan Pria Pun Alami Degradasi

Kompas.com - 16/05/2019, 19:00 WIB
. SHUTTERSTOCK.

KOMPAS.com - Selama ini, masyarakat hanya mengenal batas masa kesuburan hanya berlaku untuk wanita.

Wanita yang telah berada di atas usia 35 tahun, umumnya, akan mengalami degradasi kesuburan.

Nyatanya, hal yang sama juga berlaku pada pria.

Gloria Bachmann, pemimpin riset dan Direktur di Institut Kesehatan Wanita di Rutgers Robert Wood Johnson Medical School, menjelaskan tentang temuannya.

Menurut dia, banyak orang telah memahami perubahan fisiologis yang terjadi pada wanita setelah 35 tahun, dapat memengaruhi konsepsi, kehamilan, dan kesehatan anak.

Konsepsi adalah peristiwa bertemunya sel telur (ovum) dan sperma.

Baca juga: Mengapa Pria juga Butuh Perawatan Kaki?

Namun, kebanyakan pria tidak menyadari usia lanjut juga dapat memiliki dampak yang sama untuk mereka.

“Selain bertambahnya usia dikaitkan dengan peningkatan risiko infertilitas pria, tampaknya ada perubahan buruk lain yang mungkin terjadi pada sperma karena penuaan," ucap dia.

Bachmann mengatakan, sperma cenderung kehilangan 'kebugaran' selama siklus hidup.

Kondisi tersebut tak ubahnya seperti pria yang menua dan mulai kehilangan kekuatan otot, fleksibilitas, dan daya tahan.

Menurut Bachmann, kondisi ini bisa disebabkan karena penurunan alami tingkat testosteron yang dialami manusia seiring bertambahnya usia, di samping penurunan kualitas semen.

"Beberapa penelitian telah menunjukkan pria berusia di atas 30 tahun berisiko lebih tinggi untuk memiliki anak dengan kondisi autisme," ucap dia.

Sebab, riset yang diterbitkan dalam Jurnal Maturitas mengungkap, pria yang telah berusia 35-45 tahun sudah masuk dalam "usia ayah lanjut".

Baca juga: Kebiasaan Tidur Larut Malam Bisa Merusak Kualitas Sperma

Selain itu, ayah berusia lanjut juga berisiko mengalami masa plateu.

Plateu atau kondisi di mana berat badan tidak turun lagi setelah usia 40 tahun, dan kemudian meningkat lagi pada usia 50 tahun.

Bachmann juga mengatakan, wanita cenderung lebih aktif dengan kesehatan reproduksinya dibandingkan pria.

Apalagi, pria dikenal jarang berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesuburannya.

Hasil riset ini merupakan perkembangan dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh peneliti dari the Stanford University School of Medicine .

Untuk menentukan dampak usia pria terhadap kesuburan, kehamilan dan kesehatan anak, peneliti melakukan riset selama 40 tahun.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X