Tak Perlu Takut Merasa Kesepian

Kompas.com - 02/09/2019, 17:45 WIB
ilustrasi lansia ilustrasi lansia

KOMPAS.com - Banyak orang menganggap kesepian di kala tua adalah hal menakutkan. Oleh karena itu, sebagian orang berusaha mencari kesibukan agar ketika tua nanti tak sendiri.

Kendati demikian, menurut penelitian, tak selamanya menjadi sendiri adalah hal buruk.

Dalam analisis oleh Dr. Elyakim Kislev untuk Psychology Today, penulis Happy Singlehood: The Rising Acceptance and Celebration of Solo Living ini mengungkapkan, mereka yang memiliki ketakutan ini biasanya cenderung takut pada hal yang tidak diketahui, serta berperilaku seolah-olah itu adalah hal terburuk untuk pernah terjadi.

Selain itu, sebuah studi PEW dari tahun 2009 mengungkapkan, ada perbedaan penting antara bagaimana kesepian dirasakan antara anak berusia 18 tahun dan 64 tahun.

"Harapan di kalangan orang muda akan kesepian di usia tua adalah 29 persen, sementara hanya 17 persen yang benar-benar mengalami kesepian di usia tua," menurut laporan itu.

Baca juga: Punya Pasangan tapi Merasa Kesepian

Temuan ini mengarahkan para peneliti pada gagasan tentang mengapa orang menikah dan lebih khusus lagi, mereka yang menikah karena takut berakhir sendirian.

Studi sebelumnya dari University of Toronto menunjukkan, 40 persen responden takut tidak memiliki pendamping jangka panjang, sementara 11 persen lainnya takut menjadi tua saja.

Ketidakamanan inilah yang sering membuat orang menikah dini dan mencari pasangan yang memiliki kualitas lebih rendah di seluruh bidang kapasitas emosional, kompatibilitas intelektual dan tentu saja--penampilan fisik.

Profesor Richard Arum dan Josipa Roksa menemukan, dalam riset terhadap lebih dari 2.300 mahasiswa di 24 institusi, 45 persen responden tidak menunjukkan peningkatan signifikan dalam berbagai keterampilan untuk dua tahun pertama studi mereka.

Baca juga: Kecanduan Aplikasi Kencan? Mungkin Sebenarnya Kamu Kesepian

Mereka menghubungkan kurangnya kinerja kognitif ini dengan faktor-faktor seperti bersosialisasi dan terus-menerus dikelilingi oleh orang-orang yang mengalihkan mereka dari studi.

Kendati demikian, perlu ada riset lebih lanjut mengenai manfaat "kesepian" dalam hidup.

Namun untuk saat ini, Kislev percaya, masih ada kemungkinan untuk mencapai tingkat kesejahteraan tinggi dengan mengembangkan kemampuan dalam menikmati " me time".

"Seringkali, (me time) ini menghasilkan perasaan pemberdayaan, relaksasi, dan pengetahuan diri, bukan kesepian," katanya.

Baca juga: Kesepian Picu Berbagai Penyakit, dari Depresi hingga Kematian Dini

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber DMarge
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X